Still photo film Nyanyian Sunyi Dalam Rantang (Sumber gambar: PH Stranas PK (Strategi Nasional Pencegahan Korupsi) bekerja sama dengan Garin Workshop dan Padi Padi Creative)

Film Nyanyi Sunyi Dalam Rantang, Melodrama Gelap Ala Garin Nugroho Tayang di IFFR 2025

07 February 2025   |   21:30 WIB
Image
Chelsea Venda Jurnalis Hypeabis.id

Sutradara Garin Nugroho tengah bahagia. Film teranyarnya bertajuk Nyanyi Sunyi Dalam Rantang (Whispers In the Dabbas) baru saja selesai melakukan penyayangan perdana di gelaran festival bergengsi, International Film Festival Rotterdam edisi ke-54.

Karya ini sekaligus menandai kembalinya Garin ke dalam sirkuit festival film independen dan eksperimental tersebut. Sebelumnya, beberapa film Garin, seperti Daun di Atas Bantal, Opera Jawa, dan Puisi Cinta yang Membunuh, juga pernah berpartisipasi di festival ini.

Dalam IFFR 2025, Nyanyi Sunyi Dalam Rantang masuk ke dalam program penayangan Harbour. Program Harbour adalah program yang menampilkan film kontemporer.

Baca juga: Sejumlah Karya Sineas Timoteus Anggawan Kusno Jadi Sorotan Khusus di IFFR 2025
 

Still photo film Nyanyian Sunyi Dalam Rantang (Sumber gambar: PH  Stranas PK (Strategi Nasional Pencegahan Korupsi) bekerja sama dengan Garin Workshop dan Padi Padi Creative)

Still photo film Nyanyian Sunyi Dalam Rantang (Sumber gambar: PH Stranas PK (Strategi Nasional Pencegahan Korupsi) bekerja sama dengan Garin Workshop dan Padi Padi Creative)


Program ini menjadi tulang punggung festival dan memberikan tempat aman untuk berbagai jenis film kontemporer yang didukung festival. 

Sutradara Garin Nugroho mengatakan film ini terinspirasi dari kisah nyata dari beberapa kasus pengadilan dengan keputusan yang janggal. Film ini akan menyoroti kisah tentang pengacara muda bernama Puspa yang diperankan Della Dartyan.

Sebagai pengacara muda yang tinggal di sebuah kabupaten, dia kerap berhadapan dengan kasus-kasus di pengadilan yang tidak berpihak pada keadilan rakyat kecil. Garin merasa senang, premis tersebut mendapat tempat di sirkuit festival dunia seperti IFFR.

“Film sebagai karya yang terbuka dan kritis dan dituturkan secara personal akan selalu mendapat tempat di festival film dunia, terlebih karena film ini memiliki keberpihakan pada masyarakat,” ungkap Garin.
 

Still photo film Nyanyian Sunyi Dalam Rantang (Sumber gambar: PH  Stranas PK (Strategi Nasional Pencegahan Korupsi) bekerja sama dengan Garin Workshop dan Padi Padi Creative)

Still photo film Nyanyian Sunyi Dalam Rantang (Sumber gambar: PH Stranas PK (Strategi Nasional Pencegahan Korupsi) bekerja sama dengan Garin Workshop dan Padi Padi Creative)


Menurut Garin, sinema memang lebih dari sekadar hiburan. Baginya, sinema juga bisa berwujud alat perjuangan. Film ini pun dapat menunjukkan suatu peran penting film sebagai pendidikan politik dan pemberdayaan warga, terutama untuk kritis terhadap sistem pengadilan.

Setelah penayangan, programmer IFFR Stefan Borsos juga turut berkomentar. Melalui laman media sosial pribadinya, dia menyebut film ini punya arti penting karena menawarkan drama, investigasi, satir, yang menarik.

Menurutnya, film ini punya gaya yang sederhana dalam menyelidiki sistem peradilan Indonesia. Suguhan melodrama dan humor gelap ala Garin yang tajam, juga membuat ketidakadilan lebih mencolok.

Secara jelas dan kadang menjadi samar, Garin juga tampak menyelipkan referensi ke tahun 1965. Semua rangkaian ini menimbulkan pertanyaan tentang kesinambungan sejarah yang tidak mengenakkan.

Nyanyian Sunyi Dalam Rantang merupakan film karya produksi Stranas PK (Strategi Nasional Pencegahan Korupsi) bekerja sama dengan Garin Workshop dan Padi Padi Creative.
 

Still photo film Nyanyian Sunyi Dalam Rantang (Sumber gambar: PH  Stranas PK (Strategi Nasional Pencegahan Korupsi) bekerja sama dengan Garin Workshop dan Padi Padi Creative)

Still photo film Nyanyian Sunyi Dalam Rantang (Sumber gambar: PH Stranas PK (Strategi Nasional Pencegahan Korupsi) bekerja sama dengan Garin Workshop dan Padi Padi Creative)


Kehadiran Nyanyian Sunyi Dalam Rantang melengkapi keberagaman film-film Indonesia yang juga berhasil lolos dan ditayangkan di festival ini. Di antaranya adalah Gowok-Javanese Kamasutra besutan sutradara Hanung Bramantyo terpilih dalam program kompetisi Big Screen Competition.

Film Midnight in Bali karya sutradara Razka Robby Ertanto juga tayang perdana atau world premiere di IFFR 2025 dalam program Harbour. Kemudian, film Perang Kota karya Mouly Surya juga akan tayang dan menjadi penutup IFFR ke-54.

Film tersebut merupakan diadaptasi dari novel klasik berjudul Jalan Tak Ada Ujung karya Mochtar Lubis yang terbit pertama kali pada 1952.

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News

Editor: Nirmala Aninda

SEBELUMNYA

Akses Masuk JIS, Parkir, dan Fasilitas Shuttle untuk Konser Seventeen 8-9 Februari 2025

BERIKUTNYA

Ancaman Siber di Roblox, Malware Berkedok Mod dan Cheat Incar Pemain Muda

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga