Seniman Ryoji Ikeda Gelar Pameran Tunggal Scan.Tron.Flux. di Urban Forest Cipete
04 February 2025 |
08:03 WIB
Genhype pencinta seni di Tanah Air siap semringah. Pasalnya, pada awal tahun ini, seniman kontemporer asal Jepang, Ryoji Ikeda, akhirnya menggelar pameran tunggal dengan memboyong instalasi new media art di Urban Forest Cipete, Jakarta pada 26 Januari sampai 13 April 2025.
Dibalut dalam tajuk Scan.Tron.Flux. pameran ini memacak senarai karya seniman yang juga komponis itu dalam beberapa tahun terakhir. Seteleng ini menampilkan tiga instalasi audio visualnya dalam memadukan persimpangan antara seni, matematika, dan teknologi.
Ekshibisi Scan.Tron.Flux. merupakan hasil kerja sama antara Art Jakarta dan IndoArtNow. Instalasi seni digital ini mengajak pengunjung untuk merasakan pengalaman indrawi melalui pancaran cahaya, paparan bebunyian, serta visualisasi berbasis komputasi data digital.
Baca juga: Mendekatkan Seni & Sejarah pada Anak Lewat Pameran Pola-pola Bejana di KiN Space
Penulis pengantar pameran, Bob Adrian mengatakan, presentasi Scan.Tron.Flux ingin menarasikan situasi manusia dalam semesta data dan informasi. Karya Ryoji, menurutnya seperti menyajikan sebuah perjalanan pandang dengar dalam menelusuri semesta mikro keberadaan manusia, teknologi, dan fenomena alam.
Kendati seri karya ini sebelumnya pernah dipamerkan di Amerika Serikat (2011), Taipei (2019), dan London (2021), secara umum tidak ada perbedaan signifikan dari pameran sebelumnya. Sebab, seteleng ini bukanlah pameran site-specific, yakni sebuah pameran yang menampilkan karya seni yang dibuat khusus untuk lokasi tertentu.
"Datamatic itu ada lebih dari 5 seri karya, sedangkan yang dipamerkan sekarang hanya 3. Ditampilkannya karya ini juga karena Indonesia adalah salah satu pengguna teknologi digital terbesar di dunia," katanya saat ditemui Hypeabis.id.
Bob mengungkap yang menarik dari pameran ini adalah, secara kultur Indonesia memiliki kepercayaan yang sifatnya 'tidak terlihat' [mistisisme]. Momen tersebut sebenarnya berkelindan erat dengan apa yang ingin dihadirkan Ryoji, meski dalam tataran yang berbeda, yakni kelimun data di kehidupan sehari-hari manusia.
Hampir sama dengan masyarakat Indonesia yang mempercayai mistis sebagai sesuatu yang tak terlihat, menurut Bob, Ryoji juga ingin berbicara tentang sesuatu yang saintifik sekaligus mistik. Misalnya, asal mula manusia terbentuk, yakni dari protein, asam amino, kromosom, DNA, dan yang lain, yang berada di data scan.
"Ryoji ini sebenarnya berbicara soal penciptaan manusia, termasuk manusia mempersepsi waktu. Ada yang sifatnya seperti diagram-meruang layaknya dimensi keempat, yang sampai sekarang sifatnya masih hipotesis," imbuhnya.
Bob menjelaskan, keunikan dari pameran ini adalah, Ryoji memproyeksikan data lewat kombinasi bebunyian dan visual. Pemilihan kedua medium itu sekaligus juga sebagai representasi atas kompleksitas penciptaan manusia dan inovasi teknologi yang diciptakannya dari masa ke masa hingga akhirnya tiba pada era digital.
Arkian, peristiwa inilah yang kelak memicu perasaan gamang atas kemajuan teknologi. Ryoji, lewat karya scan.tron.flux. menurut Bob mengajak publik untuk 'mengalami' situasi tersebut, baik sebagai katalis, sekaligus jalan keluar dalam menyelami situasi dunia penuh data, yang kerap tidak disadari oleh mereka.
"Presentasi scan.tron.flux. menghadirkan serangkaian ilusi bagian belakang sebagai bagian depan [back end sebagai bagian dari front end] komputasi program sebagai upaya membongkar ketakutan terhadap teknologi digital yang tak terlihat," katanya.
Fair Director Art Jakarta, Tom Tandio mengatakan, ditampilkanya karya Ryoji Ikeda dalam pameran ini adalah sesuatu yang istimewa. Sebab, di penjuru dunia tidak banyak kolektor yang mengoleksi karya-karyanya yang mayoritas berukuran besar dan bisa dihitung jari.
Indonesia, menurut Tom juga bisa dibilang beruntung, karena ada seorang kolektor -yang tidak mau disebutkan namanya- memiliki sejumlah karya Ryoji, yang kini dipamerkan ke publik itu. Salah satu dari seri karya ini, menurutnya juga sempat di dipajang Art Stage Jakarta pada 2017.
"Ini adalah kesempatan yang pas [bagi penikmat seni] untuk melihat karya Ryoji Ikeda. Karena kolektor itu juga jarang membuka koleksinya untuk publik, dan karyanya Ryoji ini tidak banyak," katanya.
Ryoji Ikeda merupakan seorang komponis dan seniman visual kelahiran Gifu, Jepang, yang saat ini tinggal dan bekerja di Paris, Prancis, dan Kyoto, Jepang. Dalam berkarya dia sering mengeksplorasi penggunaan data, frekuensi, dan angka untuk menciptakan pengalaman sensorik yang intens dan minimalis.
Karya-karyanya telah ditampilkan dan dipamerkan dalam perhelatan-perhelatan internasional dan memenangkan penghargaan seperti Prix Ars Electronica Collide@CERN 2014 dan Penghargaan Menteri Pendidikan Jepang ke-70 untuk Seni Rupa (Divisi Seni Media) pada tahun 2020.
Baca juga: Daftar Agenda Pameran Seni yang Wajib Genhype Kunjungi Sepanjang Februari 2025
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Editor: Syaiful Millah
Dibalut dalam tajuk Scan.Tron.Flux. pameran ini memacak senarai karya seniman yang juga komponis itu dalam beberapa tahun terakhir. Seteleng ini menampilkan tiga instalasi audio visualnya dalam memadukan persimpangan antara seni, matematika, dan teknologi.
Ekshibisi Scan.Tron.Flux. merupakan hasil kerja sama antara Art Jakarta dan IndoArtNow. Instalasi seni digital ini mengajak pengunjung untuk merasakan pengalaman indrawi melalui pancaran cahaya, paparan bebunyian, serta visualisasi berbasis komputasi data digital.
Baca juga: Mendekatkan Seni & Sejarah pada Anak Lewat Pameran Pola-pola Bejana di KiN Space
Penulis pengantar pameran, Bob Adrian mengatakan, presentasi Scan.Tron.Flux ingin menarasikan situasi manusia dalam semesta data dan informasi. Karya Ryoji, menurutnya seperti menyajikan sebuah perjalanan pandang dengar dalam menelusuri semesta mikro keberadaan manusia, teknologi, dan fenomena alam.
Kendati seri karya ini sebelumnya pernah dipamerkan di Amerika Serikat (2011), Taipei (2019), dan London (2021), secara umum tidak ada perbedaan signifikan dari pameran sebelumnya. Sebab, seteleng ini bukanlah pameran site-specific, yakni sebuah pameran yang menampilkan karya seni yang dibuat khusus untuk lokasi tertentu.
"Datamatic itu ada lebih dari 5 seri karya, sedangkan yang dipamerkan sekarang hanya 3. Ditampilkannya karya ini juga karena Indonesia adalah salah satu pengguna teknologi digital terbesar di dunia," katanya saat ditemui Hypeabis.id.
Bob mengungkap yang menarik dari pameran ini adalah, secara kultur Indonesia memiliki kepercayaan yang sifatnya 'tidak terlihat' [mistisisme]. Momen tersebut sebenarnya berkelindan erat dengan apa yang ingin dihadirkan Ryoji, meski dalam tataran yang berbeda, yakni kelimun data di kehidupan sehari-hari manusia.
Hampir sama dengan masyarakat Indonesia yang mempercayai mistis sebagai sesuatu yang tak terlihat, menurut Bob, Ryoji juga ingin berbicara tentang sesuatu yang saintifik sekaligus mistik. Misalnya, asal mula manusia terbentuk, yakni dari protein, asam amino, kromosom, DNA, dan yang lain, yang berada di data scan.
"Ryoji ini sebenarnya berbicara soal penciptaan manusia, termasuk manusia mempersepsi waktu. Ada yang sifatnya seperti diagram-meruang layaknya dimensi keempat, yang sampai sekarang sifatnya masih hipotesis," imbuhnya.
Bob menjelaskan, keunikan dari pameran ini adalah, Ryoji memproyeksikan data lewat kombinasi bebunyian dan visual. Pemilihan kedua medium itu sekaligus juga sebagai representasi atas kompleksitas penciptaan manusia dan inovasi teknologi yang diciptakannya dari masa ke masa hingga akhirnya tiba pada era digital.
Arkian, peristiwa inilah yang kelak memicu perasaan gamang atas kemajuan teknologi. Ryoji, lewat karya scan.tron.flux. menurut Bob mengajak publik untuk 'mengalami' situasi tersebut, baik sebagai katalis, sekaligus jalan keluar dalam menyelami situasi dunia penuh data, yang kerap tidak disadari oleh mereka.
"Presentasi scan.tron.flux. menghadirkan serangkaian ilusi bagian belakang sebagai bagian depan [back end sebagai bagian dari front end] komputasi program sebagai upaya membongkar ketakutan terhadap teknologi digital yang tak terlihat," katanya.

Foto zoom out data instalasi karya Ryoji Ikeda dalam pameran scan.tron.flux. di Urban Forest Cipete, Senin (03/2/25). (sumber gambar: Hypeabis.id//Nadhif Alwan Kamil)
Indonesia, menurut Tom juga bisa dibilang beruntung, karena ada seorang kolektor -yang tidak mau disebutkan namanya- memiliki sejumlah karya Ryoji, yang kini dipamerkan ke publik itu. Salah satu dari seri karya ini, menurutnya juga sempat di dipajang Art Stage Jakarta pada 2017.
"Ini adalah kesempatan yang pas [bagi penikmat seni] untuk melihat karya Ryoji Ikeda. Karena kolektor itu juga jarang membuka koleksinya untuk publik, dan karyanya Ryoji ini tidak banyak," katanya.
Ryoji Ikeda merupakan seorang komponis dan seniman visual kelahiran Gifu, Jepang, yang saat ini tinggal dan bekerja di Paris, Prancis, dan Kyoto, Jepang. Dalam berkarya dia sering mengeksplorasi penggunaan data, frekuensi, dan angka untuk menciptakan pengalaman sensorik yang intens dan minimalis.
Karya-karyanya telah ditampilkan dan dipamerkan dalam perhelatan-perhelatan internasional dan memenangkan penghargaan seperti Prix Ars Electronica Collide@CERN 2014 dan Penghargaan Menteri Pendidikan Jepang ke-70 untuk Seni Rupa (Divisi Seni Media) pada tahun 2020.
Baca juga: Daftar Agenda Pameran Seni yang Wajib Genhype Kunjungi Sepanjang Februari 2025
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Editor: Syaiful Millah
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.