Love Me, Film Baru Kristen Stewart yang Sarat Kritik terhadap Media Sosial
03 February 2025 |
14:28 WIB
Film terbaru Kristen Stewart berjudul Love Me menyajikan cerita unik tentang cinta di dunia pasca-apokaliptik, di mana umat manusia sudah tidak ada lagi. Selain menarik karena mengambil latar waktu masa depan, film ini juga memasukkan unsur kritik terhadap kehidupan manusia modern era media sosial.
Salah satunya adalah minimnya interaksi personal yang dibangun individu setelah hadirnya media sosial. Dilansir dari Today, Love Me yang turut dibintangi oleh Steven Yeun ini berlatar miliaran tahun setelah kepunahan manusia.
Baca juga: 4 Sineas Pencetak Rekor Kembali Bersatu, Kolaborasi Garap Film Pabrik Gula
Narasi film ini berkisah tentang sebuah buoy, robot atau perangkat mengambang yang dapat memiliki banyak tujuan, bernama Me, dan sebuah satelit bernama Iam. Keduanya dirancang untuk mempelajari tentang konsep kemanusiaan melalui sisa-sisa informasi pada era digital, khususnya media sosial.
Film yang disutradarai oleh Sam dan Andy Zuchero ini mengangkat pertanyaan mendalam tentang identitas dan hakikat cinta pada era yang didominasi oleh persona daring yang sangat potensial untuk dimanipulasi dengan berbagai cara.
Premis film ini menampilkan Me sebagai sebagai makhluk artifisial, dan Iam untuk menjalankan tugas mereka guna meniru pasangan influencer YouTube yang populer pada masa sebelumnya bernama Déja dan Liam.
Hubungan mereka berfungsi sebagai contoh untuk memahami emosi dan koneksi manusia di dunia maya saat ini. Kristen Stewart dalam perannya juga menyoroti obsesi masyarakat untuk dianggap sebagai personal ‘yang paling asli’ atau ‘autentik’ di mana media sosial sering mengaburkan batas antara idealisme dan realitas dunia yang sebenarnya.
Secara sederhana, perjalanan perangkat canggih Me dan Iam ini pada akhirnya mencerminkan dilema modern kisah cinta yang dibentuk oleh media sosial. Lebih jauh, mereka menggambarkan bagaimana hubungan pada abad ke-21 yang terjadi pada era digital ini, sering kali dibaca melalui lensa persepsi publik semata.
Screen Rant turut mencatat bahwa film ini juga menggelitik kedangkalan yang dapat muncul dari interaksi media sosial. Hal ini terjadi ketika Me menjadi semakin sadar akan kepura-puraannya, dia harus bergulat dengan perasaan tidak mampu dan depresi ketika dihadapkan pada kontras yang mencolok antara keberadaannya dan kehidupan ideal yang ingin dia tiru dan kondisi aktualnya.
Kental dengan unsur masa depan, membuat film ini dikategorikan dengan genre Romance -Science Fiction. Guna mendukung genre tersebut, LA Times menyebut bahwa film ini menggunakan elemen visual yang unik untuk merepresentasikan transformasi Kristen Stewart dan Steven Yeun sebagai karakternya.
Melalui teknologi motion capture, Stewart dan Yeun mewujudkan peran mereka sebagai avatar yang bertransisi dari representasi digital yang sederhana ke bentuk manusia yang lebih kompleks.
Ada pengaruh fase panjang pandemi yang menginspirasi sutradara Sam dan Andrew Zuchero dalam pola penceritaannya. Latar belakang ini menginformasikan eksplorasi narasi tentang kerinduan akan koneksi di tengah kesendirian akibat pembatasan mobilitas selama wabah.
Baca juga: Bayangan Distopia Joko Anwar tentang Dunia Pendidikan di Film Pengepungan di Bukit Duri
Kesan tersebut muncul dari kehidupan Sam dan Andrew sendiri yang mengalami isolasi panjang selama merebaknya virus Covid-19 saat itu. Dalam sebuah wawancara bersama media CBR, Kristen Stewart menggambarkan betapa dirinya merasa relate dengan peran yang dijalankannya dalam film Love Me.
“Seperti ada kesesuaian yang mengikat kita semua. Bahkan orang-orang yang tampaknya berasal dari sisi bumi yang sama sekali berbeda. Jadi, saya pikir, Buoy itu tidak lain adalah saya, karena karakterku juga bernmaa Me,” ujar Kristen dalam potongan wawancara CBR.
Editor: Fajar Sidik
Salah satunya adalah minimnya interaksi personal yang dibangun individu setelah hadirnya media sosial. Dilansir dari Today, Love Me yang turut dibintangi oleh Steven Yeun ini berlatar miliaran tahun setelah kepunahan manusia.
Baca juga: 4 Sineas Pencetak Rekor Kembali Bersatu, Kolaborasi Garap Film Pabrik Gula
Narasi film ini berkisah tentang sebuah buoy, robot atau perangkat mengambang yang dapat memiliki banyak tujuan, bernama Me, dan sebuah satelit bernama Iam. Keduanya dirancang untuk mempelajari tentang konsep kemanusiaan melalui sisa-sisa informasi pada era digital, khususnya media sosial.
Film yang disutradarai oleh Sam dan Andy Zuchero ini mengangkat pertanyaan mendalam tentang identitas dan hakikat cinta pada era yang didominasi oleh persona daring yang sangat potensial untuk dimanipulasi dengan berbagai cara.
Premis film ini menampilkan Me sebagai sebagai makhluk artifisial, dan Iam untuk menjalankan tugas mereka guna meniru pasangan influencer YouTube yang populer pada masa sebelumnya bernama Déja dan Liam.
Hubungan mereka berfungsi sebagai contoh untuk memahami emosi dan koneksi manusia di dunia maya saat ini. Kristen Stewart dalam perannya juga menyoroti obsesi masyarakat untuk dianggap sebagai personal ‘yang paling asli’ atau ‘autentik’ di mana media sosial sering mengaburkan batas antara idealisme dan realitas dunia yang sebenarnya.
Secara sederhana, perjalanan perangkat canggih Me dan Iam ini pada akhirnya mencerminkan dilema modern kisah cinta yang dibentuk oleh media sosial. Lebih jauh, mereka menggambarkan bagaimana hubungan pada abad ke-21 yang terjadi pada era digital ini, sering kali dibaca melalui lensa persepsi publik semata.
Screen Rant turut mencatat bahwa film ini juga menggelitik kedangkalan yang dapat muncul dari interaksi media sosial. Hal ini terjadi ketika Me menjadi semakin sadar akan kepura-puraannya, dia harus bergulat dengan perasaan tidak mampu dan depresi ketika dihadapkan pada kontras yang mencolok antara keberadaannya dan kehidupan ideal yang ingin dia tiru dan kondisi aktualnya.
Kental dengan unsur masa depan, membuat film ini dikategorikan dengan genre Romance -Science Fiction. Guna mendukung genre tersebut, LA Times menyebut bahwa film ini menggunakan elemen visual yang unik untuk merepresentasikan transformasi Kristen Stewart dan Steven Yeun sebagai karakternya.
Melalui teknologi motion capture, Stewart dan Yeun mewujudkan peran mereka sebagai avatar yang bertransisi dari representasi digital yang sederhana ke bentuk manusia yang lebih kompleks.
Ada pengaruh fase panjang pandemi yang menginspirasi sutradara Sam dan Andrew Zuchero dalam pola penceritaannya. Latar belakang ini menginformasikan eksplorasi narasi tentang kerinduan akan koneksi di tengah kesendirian akibat pembatasan mobilitas selama wabah.
Baca juga: Bayangan Distopia Joko Anwar tentang Dunia Pendidikan di Film Pengepungan di Bukit Duri
Kesan tersebut muncul dari kehidupan Sam dan Andrew sendiri yang mengalami isolasi panjang selama merebaknya virus Covid-19 saat itu. Dalam sebuah wawancara bersama media CBR, Kristen Stewart menggambarkan betapa dirinya merasa relate dengan peran yang dijalankannya dalam film Love Me.
“Seperti ada kesesuaian yang mengikat kita semua. Bahkan orang-orang yang tampaknya berasal dari sisi bumi yang sama sekali berbeda. Jadi, saya pikir, Buoy itu tidak lain adalah saya, karena karakterku juga bernmaa Me,” ujar Kristen dalam potongan wawancara CBR.
Editor: Fajar Sidik
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.