Ilustrasi penggunaan produk honeycomb paper sebagai contoh produk kemasan berkelanjutan ||Pexels/Kaboom.pics

Bisnis Kemasan Ramah Lingkungan Kian Dilirik, Pahami Peluang dan Tantangannya

03 February 2025   |   15:33 WIB
Image
Aldehead Marinda M. U. Mahasiswa Jurnalistik Universitas Padjadjaran

Tren kesadaran lingkungan yang semakin meningkat dalam beberapa tahun terakhir telah mendorong berkembangnya berbagai usaha berbasis keberlanjutan. Konsumen kini semakin selektif dalam memilih produk yang ramah lingkungan, sehingga bisnis dengan label “sustainable” semakin mendapat tempat di pasar.

Berbagai sektor industri, mulai dari fesyen hingga kebutuhan harian, berlomba-lomba menghadirkan inovasi yang lebih menghargai alam dan mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan.

Baca juga: Peluang Manis Bisnis Bakery, Roti Jadul Topping Kekinian sampai Isian Mochi ala Jepang

Salah satu pelaku usaha yang melihat peluang ini adalah David Christian (32), pemilik bisnis kemasan berkelanjutan. Pengalaman tinggal selama empat tahun di Kanada membuka matanya terhadap perbedaan pola konsumsi plastik antara Kanada dan Indonesia.

Di sana, kesadaran akan bahaya plastik sekali pakai sudah jauh lebih tinggi, sementara di Indonesia, penggunaan plastik masih sangat masif. Kesadaran ini mendorong David untuk menciptakan solusi yang lebih ramah lingkungan bagi masyarakat Indonesia, dengan menghadirkan produk kemasan yang dapat mengurangi limbah plastik secara signifikan.
 

“Dari situ saya jadi berpikir, ingin buat satu bisnis tapi harus ada impact-nya. Kalau lewat pemikiran bisnis aku udah mikir bahwa lingkungan akan jadi salah satu yang booming,” ujar David.

Tekadnya tertuang lewat kehadiran Evoware pada 2016 dengan Ello Jello Cup (gelas yang bisa dimakan) sebagai lini produk perdana mereka. Niat David sederhana, ia hendak membuka pikiran masyarakat lewat pengembangan produk ramah lingkungan yang benar-benar dapat terserap kembali oleh alam.

Kini Evoware telah hadir dengan lebih dari 23 lini produk guna pakai dengan bermacam bahan dasar mulai dari kertas, beras, bambu hingga singkong. Dari puluhan produk yang dijualnya, kantong berbahan rumput laut; singkong; hingga sedotan beras adalah rangkaian produk yang paling laris diburu konsumen.

“Kita lebih ke B2B dan yang paling banyak di HOREKA [Hotel, Restoran dan Kafe],” lanjutnya bicara soal target pasar Evoware. Beragam bisnis yang menjalin kerja sama dengan perusahaan David ini sudah tersebar ke lebih dari 50 negara. Adapun pasar utama ekspor mereka mencakup Australia, Malaysia dan Jerman.

David enggan merinci berapa kisaran pendapatan usahanya ini dan hanya menyebut bahwa permintaan produknya bergantung pada situasi ekonomi setempat. “Contohnya waktu Covid-19 penjualan kami turun drastis. Baru bisa mulai naik setelah ada kelonggaran usaha makanan boleh mulai jualan lewat layanan pesan antar,” rinci David.

Ke depan, Evoware sedang merancang produk bahan baku pengganti biji plastik yang dapat digunakan di mesin plastik biasa. Nantinya produk-produk yang dihasilkan dapat mencakup sendok, garpu, hingga piring dengan bahan serupa, yakni masih berbasis rumput laut.

Selaras, Inge Setyawati (55 tahun) selaku Direktur PT Intera Lestari Polimer (Enviplast) memiliki keprihatinan yang sama terhadap sampah plastik. Kontribusinya menciptakan compostable biopolymer compound bahan baku kantong berbasis minyak bumi.

Enviplast hadir sejak 2009 dan telah memiliki dua lini produk yang konstan diakui di pasaran bernama Enviplast WS  (Water Soluble) dan Enviplast WR (Water Resistant). Inge menyebut bahwa lini produk Enviplast WR kini banyak diburu konsumen dengan wujud produk berupa poly-mailers, bubble wrap, sarung tangan hingga cangkir dengan bahan baku yang sama yakni minyak bumi.
 

“Produk Enviplast juga sudah bersertifikasi SNI Ekolabel 7188-7:2022 dan Sertifikasi internasional yakni DIN CERTCO Home Compostable; DIN CERTCO Industrial Compostable,” ujar Inge.

Enviplast lebih banyak menargetkan merek, instansi, dan mitra produksi yang memiliki visi sejalan dalam menerapkan prinsip keberlanjutan. Perusahaan ini menyediakan bahan baku pengganti plastik yang digunakan dalam berbagai produk, seperti kantong belanja, kemasan, kebutuhan sehari-hari, hingga suvenir ramah lingkungan.

Untuk memperluas jangkauan pasar, Enviplast aktif mengadakan program edukasi, baik secara daring maupun luring. Edukasi langsung dilakukan melalui kerja sama dengan berbagai universitas dan sekolah, bertujuan menanamkan pemahaman mendalam tentang pentingnya produk berkelanjutan sejak dini.

Raeleen Tedjadinata (27) adalah pendiri Mattera Solutions, sebuah usaha yang berfokus pada kemasan berkelanjutan. Pengalamannya bekerja di bagian pergudangan salah satu startup e-commerce terbesar di Indonesia membuatnya menyadari tingginya penggunaan plastik sekali pakai yang kurang bertanggung jawab.

Kesadaran inilah yang mendorongnya untuk mendirikan bisnis kemasan ramah lingkungan berbahan dasar kertas pada 2019. Saat ini, Mattera Solutions memiliki delapan lini produk pengganti plastik, dengan tiga produk terlarisnya yakni Honeycomb Paper, Cushion Paper, dan Gummed Tape.

“Target pasar utama kami ada tiga: individu, merek dan korporasi, serta UMKM,” ujar Raeleen.
 

Untuk menjangkau pasar, mereka memanfaatkan berbagai kanal pemasaran dan aktif menjalin kerja sama. Salah satu kolaborasi terbaru mereka adalah dengan acara kecantikan nasional Cosmobeauté Indonesia 2024, yang semakin memperkuat eksistensi Mattera dalam industri kemasan berkelanjutan. Berbagai langkah yang diterapkan membuat usaha ini mampu mencapai omzet hingga Rp6 miliar per tahun.

Namun, tantangan utama yang dihadapi oleh bisnis serupa tetap sama: edukasi pasar mengenai konsep produk berkelanjutan masih menjadi perjuangan terbesar mereka. Meyakinkan konsumen bahwa alternatif plastik—seperti yang berbahan dasar rumput laut, minyak bumi, hingga kertas—memiliki potensi sebagai substitusi yang layak masih menjadi pekerjaan besar bagi ketiga pelaku bisnis hijau ini.

“Edukasi pasar menjadi tantangan karena sekarang banyak produk yang mengklaim berlabel sustainable, padahal kenyataannya masih mengandung campuran plastik atau bahkan tidak benar-benar bisa terdegradasi secara alami,” ujar David.

Inge menambahkan bahwa kesadaran masyarakat terhadap bahan alami dan produk compostable masih terbatas, terutama karena harga produk ramah lingkungan cenderung lebih tinggi. “Mereka masih fokus pada harga yang dianggap terlalu mahal,” tuturnya.

Sementara itu, Raeleen menyoroti masalah lain, yaitu kurangnya kepercayaan konsumen terhadap daya tahan produk alternatif plastik. “Banyak yang ragu, misalnya, apakah kertas bisa sekuat plastik dalam melindungi produk. Kepercayaan ini yang masih perlu dibangun,” pungkasnya.

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News) 

Editor: Nirmala Aninda

SEBELUMNYA

Game Jadul Beyond: Two Soul Diadaptasi Jadi Serial TV

BERIKUTNYA

Daftar Lengkap Penerima Grammy Awards 2025 di Prime Ceremony

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga: