Ilustrasi ekonomi kreatif. (Dok. Eaters Collective dari Unsplash)

Simak 3 Tren Baru Ekonomi Kreatif selama Pandemi Covid-19

30 August 2021   |   14:10 WIB

Masa pandemi memicu banyak perubahan di semua sektor, mulai dari Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) hingga perilaku konsumen yang lebih banyak beralih ke digital. Kondisi itu diperkuat dengan studi dari McKinsey pada 2020 yang menunjukkan bahwa 90 persen eksekutif meyakini Covid-19 memicu munculnya perubahan dalam bisnis, serta 85 persen meyakini perubahan gaya hidup dan prioritas konsumen.

Guru Besar Ilmu Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia Rhenald Kasali menemukan bahwa ada berbagai perubahan dan penyesuaian yang terjadi dalam masyarakat dan bisnis secara umum. 

"Beberapa di antaranya adalah peralihan kegiatan ekonomi ke luar ruangan, penggunaan transportasi pribadi, penggunaan ruang di rumah untuk sektor hiburan, hingga adanya hyper competition dengan banyaknya bisnis yang bersaing," jelasnya dalam acara JaKreatiFest yang digelar secara virtual, Senin (30/8/2021). 

Selain itu, dia juga memaparkan bahwa selama ini ekonomi kreatif selalu diasosiasikan dengan pariwisata di masa sebelum pandemi. Akan tetapi, ini berubah ketika terhentinya pariwisata selama pandemi sehingga membangkitkan beberapa sektor ekonomi kreatif lain seperti kuliner, gim daring, dan film. Oleh karena itu, simak pemaparan Rhenald mengenai tren yang muncul dari tiga bidang tersebut.

1. Kuliner
Dalam pemaparannya, Rhenald berbagi bahwa sejak tahun 2020 ada peningkatan sebesar 140 persen untuk pencarian mengenai sistem drive thru atau pemesanan di gerai makanan melalui pengambilan secara mandiri dengan berkendara, 35 persen pencarian mengenai makan di mobil, dan peningkatan penggunaan sistem pemesanan daring sebesar 97 persen.

Dia juga membahas munculnya beberapa tren baru dalam industri kuliner seperti jasa private chef yang merupakan jasa pemesanan koki secara privat untuk acara kecil sebagaimana yang dilakukan oleh juru masak Yuda Bustara dan layanan Take a Chef dan layanan home service dengan sistem pembelian menu mentahan di restoran yang dimasak di rumah yang kini telah dilakukan beberapa restoran.

Selain itu, ada juga konsep cloud kitchen yang memanfaatkan konsep satu dapur untuk beberapa usaha kuliner, ready to cook atau penjualan makanan siap masak, kopi literan yang telah dilakukan berbagai gerai kopi, serta bumbu masakan siap pakai.

Ada pun beberapa tren lain yang muncul saat pandemi adalah berbagai kuliner kreatif seperti garlic cheese cream bread, corn dog, dan kopi dalgona khas Korea Selatan, kombucha atau teh fermentasi, dessert box, croffle, dan vegan box.

2. Gim daring
Usaha gim daring merupakan salah satu yang berkembang pesat di Indonesia, di mana ini diperkuat dengan data Google Trends 2020 yang menunjukkan peningkatan pencarian gim model massively multiplayer online atau MMO sebesar 110 persen, 30 persen mengenai e-sports, dan 25 persen untuk konsep main bareng atau mabar.

Tren ini semakin meroket dengan adanya peningkatan pada pemain gim sebesar 2,8 miliar orang di tahun 2021 dengan Asia Pasifik sebagai domisili dengan pemain terbanyak yaitu sebesar 1,44 miliar. Lalu, permainan dengan bisnis terbesar didapat oleh gim berbasis mobile seperti Mobile Legends: Bang Bang dan PlayerUnknown's Battleground Mobile sebesar 86,3 miliar.

3. Film
Industri film di Indonesia mulai menunjukkan peningkatan dengan munculnya sistem penayangan over-the-top atau OTT seperti Bioskop Online, Netflix, Vidio, dan Disney+ Hotstar serta konsep drive-in cinema dengan menonton film di sebuah lapangan dengan layar yang besar dengan posisi seluruh penonton di dalam mobilnya masing-masing.

Munculnya platform ini kemudian membangkitkan industri film Indonesia yang akhirnya ditayangkan dengan sistem OTT seperti serial Sianida (Netflix), film Ali & Rartu Ratu Queens (Netflix), film Notebook (Disney+ Hotstar), dan film Aum! (Bioskop Online).

Selain ketiga tren tadi, ada pun sektor yang juga mengalami perkembangan adalah usaha kriya atau prakarya seperti bercocok tanam hingga melukis serta industri musik yang mulai bangkit dengan banyaknya kolaborasi secara virtual seperti konser daring Orkestra di Rumah dari Erwin Gutawa & Tulus, Jazz Gunung dari Dewa Budjana & Tohpati, dan konser Plataran Optimis Indonesia yang dihadiri The Gentlemen & Rumpies.

Tidak hanya melihat yang sedang tren, Rhenald juga melihat ada beberapa industri yang belum bisa bangkit sepenuhnya seperti seni pertunjukan, fesyen yang salah satunya disebabkan karena berkurangnya pengeluaran untuk fesyen, penerbitan, serta televisi dan radio yang masih harus melakukan transisi ke ranah digital.

Editor: Fajar Sidik

SEBELUMNYA

Ini Platform Online yang Keamanannya Paling Dikhawatirkan Pengguna

BERIKUTNYA

Sering Terjadi Tanpa Pemicu, Kenali Anxiety Disorder dan Jenis-jenisnya

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga: