Cornelia Agatha saat di acara pameran Speak Up On Bullying and Intolerance (Sumber gambar: Hypeabis.id/ Yudi Supriyanto)

Hypeprofil Cornelia Agatha: Berjuang Melindungi Generasi Penerus Bangsa

24 July 2024   |   21:39 WIB
Image
Yudi Supriyanto Jurnalis Hypeabis.id

Nama Cornelia Agatha lebih dikenal publik sebagai seorang aktris. Lewat perannya dalam film Si Doel Anak Sekolahan (1994), dia lekat dengan tokoh Sarah. Kini, Lia, sapaan akrabnya, giat bergerak di bidang perlindungan anak guna membela generasi penerus bangsa yang tertimpa masalah – terutama kekerasan seksual.

Ditemui Hypeabis.id setelah pameran bertajuk Speak Up On Bullying and Intolerance di Jakarta, dia mengungkapkan bahwa keputusannya menjadi aktivis perlindungan anak muncul karena adanya panggilan hati sebagai seorang ibu yang memiliki buah hati.

Lia bahkan tidak pernah terpikir bakal menjadi aktivis perlindungan anak, bahkan menjabat sebagai ketua Komnas Perlindungan Anak DKI Jakarta atau Wakil Ketua Umum DPP Komnas Perlindungan Anak. 

Dia mengungkapkan bahwa semuanya bermula pada 2010. Saat itu, dia yang memiliki anak masih bayi, kerap membaca berita tentang anak yang menjadi korban kekerasan. Dengan spontan, aktris yang dikenal karena perannya sebagai Sarah itu langsung datang ke Rumah Sakit Umum Daerah Koja, Jakarta.

“Waktu itu, saya belum seperti sekarang [Ketua Komnas Perlindungan DKI Jakarta & Wakti Ketua Umum Komnas Perlindungan Anak]. Saya datang saja karena naluri sebagai seorang ibu melihat ada bayi korban kekerasan,” katanya.

Baca juga: Hypeprofil Erisca Febriani: Menulis Untuk Berbagi Kebahagiaan

Dia mengaku bahwa kejadian bayi yang mengalami kekerasan tersebut mengusik hatinya. Dari peristiwa itu, dia lebih sering memperhatikan kasus-kasus serupa. Tidak hanya itu, Lia juga kerap bolak-balik menjenguk anak yang menjadi korban kekerasan. 

Pada suatu waktu, dia juga sampai ke Makassar untuk mengunjungi anak yang menjadi korban kekerasan. Seiring berjalannya waktu, Lia memutuskan ingin membuat perubahan dan membantu anak-anak Indonesia agar mendapatkan perlindungan dari kekerasan.

Tidak hanya itu, aktris pemeran film layar lebar Si Doel The Movie (2018) itu juga memutuskan kuliah hingga S2 dengan menempuh pendidikan hukum, dengan niatan melindungi dan membantu anak-anak korban kekerasan. “Saya memilih jalur hukum, sekolah hukum, karena saya pikir lewat pendidikan saya bisa berkontribusi dan membantu,” ujarnya.

Selain itu, Lia juga membuat yayasan sendiri bernama Yayasan Cinta Anak Dunia bersama dengan teman-teman yang lebih senior dalam bidang perlindungan anak terhadap kekerasan. Lewat lembaga ini, dia melakukan advokasi dan edukasi yang intinya memberikan perlindungan terhadap anak Indonesia. 
 

Keputusan Lia sebagai aktivis perlindungan anak membuat terhubung dengan banyak aktivis. Pada akhirnya, dia juga terhubung dengan Ketua Komnas Perlindungan Anak pada saat itu, yakni Aris Merdeka Sirait.

“Lalu, saya suka membantu pak Aris. Saya yang belum terlibat di komnas sudah sering dilibatkan oleh Pak Aris, terjun. Pendampingan korban. Ada kasus-kasus saya terlibat. Jadi, saya sudah terlibat di komnas sebelum mendapatkan jabatan sebagai ketua di DKI Jakarta,” ujarnya.

Tidak lama setelah sering terlibat dalam berbagai kegiatan Komnas Perlindungan Anak, Lia mendapatkan tawaran untuk bergabung ke organisasi ini. Namun, dia tidak serta merta mengiyakan permintaan itu lantaran masih ragu dengan kemampuan diri pribadi.

Dia berpikir bahwa menyelesaikan masalah kekerasan terhadap anak tidak cukup hanya mengandalkan hati karena menyangkut banyak hal, seperti sistem. Selain itu, dia yang masih kuliah juga menjadi salah satu alasan yang membuatnya tidak langsung mengiyakan.

Meskipun begitu, pada akhirnya Lia memutuskan untuk ikut dan mengambil tawaran tersebut. Dia pun belajar sambil praktik atau learning by doing dalam menangani dan membantu anak korban kekerasan. 

Baca juga: Hypeprofil Wien Muldian: Giat Menjaga Nyala Api Dunia Literasi


Tantangan Berat Perlindungan Anak 

Dalam melakoni peran sebagai aktivis perlindungan anak, dia mengaku menghadapi beberapa tantangan. Baginya yang bekerja dengan hati, bertemu dengan anak korban kekerasan sangat memilukan dan menyakitkan.

Kondisi anak-anak korban kekerasan kerap membuat Lia ikut merasa sedih dan stres. Namun, dia sadar bahwa dirinya harus kuat menghadapi itu semua. Dengan begitu, dia mampu berpikir dengan tenang dan jernih untuk mencari solusi atas kondisi yang terjadi terhadap anak korban kekerasan.

Selain itu, dia mengungkapkan bahwa masalah kekerasan terhadap anak adalah masalah yang masuk dalam kategori luar biasa. Dia pun harus berpikir kreatif dan kritis untuk mencari terobosan-terobosan yang kadang harus out of the box.

“Ini kasus luar biasa, apalagi kekerasan seksual. Ini kejahatan luar biasa sehingga kerap harus berpikir luar biasa dan mencari jalan keluar yang kadang tidak biasa,” katanya.

Dia menambahkan bahwa semua pihak sudah bekerja keras dan sistem yang dibangun juga sudah bagus. Namun, fakta di lapangan menunjukkan bahwa masih ada tindakan kekerasan terhadap anak. Dia sadar bahwa kejahatan tidak dapat dihilangkan. Meskipun begitu, dia meyakini bahwa jumlah kejahatan bisa diminimalkan. 

Menurutnya, kerja sama dengan semua pihak seperti kepolisian, pemerintah, lembaga lain yang bergerak dalam perlindungan anak, dan masyarakat penting untuk dilakukan dalam mengatasi masalah kekerasan terhadap anak.

Saat melakukan pendampingan terhadap anak korban kekerasan, langkah pertama yang kerap dilakukan oleh Lia adalah dengan memeluknya. Dia akan menguatkan mental dan kepercayaan diri sang korban dengan memberitahukan bahwa korban sangat berharga.

Lia juga kerap menunjukkan kepada anak korban kekerasan bahwa mereka tidak sendirian dalam menghadapi masalah yang dialami. Dia mengungkapkan bahwa langkah itu perlu dilakukan mengingat banyak anak korban kekerasan seksual kerap merasa bersalah dan mengalami depresi.

Selain itu, dia kerap mengundang warga sekitar di tempat anak korban kekerasan untuk melakukan sosialisasi agar memberikan dukungan secara mental dan kasih sayang, sehingga sang anak tidak menjadi korban stigma dan dikucilkan.

Lia menambahkan bahwa anak korban kekerasan juga harus mendapatkan dukungan dari lingkungan agar mau tetap sekolah. Menurutnya, pendidikan sangat penting terhadap masa depannya karena dapat memutus rantai kejahatan dan kekerasan.

“Saya tidak mau anak yang menjadi korban akan menjadi pelaku karena tidak tertangani dengan baik. Kalau mereka tidak dipulihkan secara batin dan segala kebutuhan yang menjadi hak tidak, tidak dapat meneruskan hidup dengan baik dan bahkan bisa menjadi pelaku,” katanya.

Wanita yang kerap memberikan pendampingan hukum bagi anak korban kekerasan itu memiliki keinginan agar para korban juga memperoleh restitusi untuk memperbaiki kehidupannya kembali, melakukan pemulihan, dan melanjutkan kehidupan dengan normal. Lia berupaya keras untuk hal tersebut untuk terwujud, sekarang dan nanti. 

Baca juga: Hypeprofil Erisca Febriani: Menulis Untuk Berbagi Kebahagiaan

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)

Editor: Syaiful Millah 

SEBELUMNYA

7 Kiat Menjaga Rumah Tetap Aman & Nyaman saat Udara Dingin Musim Kemarau Menerpa

BERIKUTNYA

Pendapatan Film Twisters Tembus US$100 Juta di Pasar Global

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga: