Ilustrasi (sumber gambar : kampus production/ pexels)

6 Strategi Sukses Co-Branding Bisnis Kuliner

26 September 2023   |   07:40 WIB
Image
Dewi Andriani Jurnalis Hypeabis.id

Bisnis di bidang makanan dan minuman (food and beverage) memang masih sangat menjanjikan meski di tengah persaingan yang kian ketat. Untuk dapat menarik minat konsumen, sejumlah brand pun rutin melakukan berbagai strategi salah satunya dengan melakukan kolaborasi brand atau co-branding.

Strategi co-branding ini bisa dilakukan baik sesama bisnis F&B maupun kolaborasi lintas brand atau non F&B. Alih-alih saling berkompetisi, sejumlah brand justru saling berkolaborasi menyatukan kekuatan untuk mendapatkan hasil terbaik yang saling menguntungkan bagi kedua brand tersebut.

Baca juga: Strategi Pelaku Bisnis Franchise Menggaet Mitra

Berdasarkan data dari Indonesia Brand Forum (IBF) kolaborasi menjadi kunci kesuksesan sebuah brand, beberapa brand membuktikan kolaborasi ini dapat mendorong brand awareness produk yang akhirnya mampu mendongkrak penjualan hingga menembus pasar baru.

Riset terbaru dari Foodizz Academy per Agustus 2023 mengungkapkan kolaborasi antara brand kuliner dengan dengan lintas brand (non F&B) cenderung lebih disukai konsumen, sebut saja Oreo X Blackpink, KFC X Dear Me Beauty, McD X BTS, dan lain sebagainya.

Ada beberapa faktor yang menjadi pertimbangan konsumen dalam memberi produk hasil co-branding seperti dilansir dari hasil riset Foodizz Academy:
  • Dinilai lebih unik, kreatif, dan fresh (49%)
  • Memiliki daya tarik dan berbeda dari produk sejenis lainnya (27%)
  • Mampu menjawab kebutuhan konsumen (18%)

Syarif Hidayatullah, Educator di Foodizz Academy mengatakan, meskipun tren kolaborasi antara brand saat ini tengah diminati dan cukup menarik perhatian masyarakat sehingga dapat meningkatkan penjualan atau brand awarenes, tetapi tidak semua co-branding dapat berjalan dengan sukses.

Untuk itu, dirinya pun menyampaikan enam langkah yang dapat dilakukan oleh brand kuliner yang ingin melakukan cobranding agar bisnis atau produk yang dihasilkan dapat diterima dengan baik oleh pasar.

Pertama, pilih partner yang cocok dengan brand kuliner yang kita bangun. Menurutnya, pelaku usaha harus dapat mengidentifikasikan dan memilih mitra yang cocok dengan brandnya. Misalnya memiliki target pasar dan kepribadian merek, serta proposisi nilai yang sesuai dengan merek yang dibangun.

“Cari mitra yang dapat melengkapi kekurangan brand kita. Misalnya brand F&B ingin menarik demografi yang lebih muda maka bisa berkolaborasi dengan brand kosmetik atau aplikasi yang memiliki pengikut kaum muda,” kata Syarif.

Kedua, menentukan tujuan dan hasil spesifik terukur yang mau dicapai saat melakukan cobranding. Misalnya, tujuan dari cobranding adalah untuk meningkatkan penjualan atau meningkatkan kesadaran merek, maka perlu dibuat matrik indikator untuk mengukur dan mengevaluasi co-branding yang dilakukan.

Kedua belah pihak yang melakukan co-branding juga harus menyetujui tujuan dan matrik yang dibuat sebelum meluncurkan kampanye promosi. “Lakukan komunikasi yang teratur untuk memantau pelaksanaan dan sesuaikan segala sesuatu sesuai kebutuhan,” tuturnya.

Ketiga, produk dan pemasaran co-branding harus menampilkan keunggulan dari kedua merek serta menunjukkan bahwa kedua brand mampu memberi kelebihan nilai dan manfaat bagi pelanggan yang tidak dapat mereka peroleh hanya dari salah satu merek saja.

“Pikirkan juga cara membuat produk dan pemasaran co-branding yang berbeda dari pesaing. Sebab, salah satu hal yang menarik konsumen terhadap produk co-branding adalah unik, fresh, dan kreatif,” katanya.

Keempat, rancangnya identitas co-branding tersebut baik dari sisi visual maupun verbal seperti loo, nama, slogan, warna, font, hingga turn of voice. Sebab, karakter dari kata-kata, baik lisan maupun tulisan itulah yang digunakan untuk komunikasi kepada audiens atau konsumen.

“Identitas co-branding harus mencerminkan esensi dan nilai dari kedua merek, serta dapat menciptakan citra yang konsisten dan kohesif,” ujarnya.

Kelima, setelah semuanya disepakati maka lakukan proses promosi dari produk co-branding melalui berbagai channel sehingga bisa mendapatkan atensi dari market yang dituju.

Keenam, lakukan evaluasi dari hasil co-branding tersebut dengan hasil yang lebih terukur. Lakukan perbandingan data dari sebelum dan sesudah co-branding. Dengan melakukan analisa kinerja dari co-branding, bisa menjadi bahan evaluasi secara bersama apakah kolaborasi dilanjutkan, diubah, atau diakhiri

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)

Editor: Nirmala Aninda

SEBELUMNYA

Reaksi Tegas TikTok Indonesia saat Pemerintah Melarang Social Commerce

BERIKUTNYA

Ingin Mulai Bisnis Barbershop? Pertimbangkan Dulu Hal Ini

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga: