Iriana Joko Widodo saat Upacara HUT Ke-78 Kemerdekaan RI di Istana Negara. (Sumber gambar : Youtube Sekretariat Negara)

Cantiknya Iriana Jokowi Memakai Baju Adat Tari Legong Bali, Intip Filosofi & Sejarahnya

17 August 2023   |   12:00 WIB
Image
Desyinta Nuraini Jurnalis Hypeabis.id

Busana adat yang dikenakan Iriana Joko Widodo saat Upacara HUT Kemerdekaan RI di Istana Negara selalu menarik untuk diulas. Jika tahun lalu Sang Ibu Negara memakai pakaian suku Buton dengan sulaman benang perak dan hiasan kepala yang indah, kali ini, dia kembali memakai pakaian adat dari Bali.

Tampak Iriana memakai tata riasan dan busana Tari Legong. Pakaian ini biasanya terdiri dari hiasan kepala emas (gelungan), baju prada dengan kemben, songket, lamak, gelang kana, ampe-amprok, kalung bodong, dan biasanya dilengkapi kipas. 

Baca juga: Daftar Film Penuh Pesan Nasionalisme, Cocok Ditonton pada Momen Liburan Hari Kemerdekaan

Secara terperinci, Iriana memakai baju kain Prada berwarna toska dengan corak bunga khas Bali. Sementara kamen atau kain bawahannya juga memiliki warna dan corak senada, namun lebih jarang.

Berikutnya, Iriana memakai lamak atau kain penutup di bagian atas yang biasanya terbuat dari bahan kulit dengan ukiran rumit. Lamak tersebut berwarna emas senada dengan aksesoris yang dipakainya.

Bicara aksesoris, pakaian Tari Legong tidak lepas dengan gelang kana. Mengutip Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar, gelang ini ini biasanya berbentuk bulat berhiaskan ukuran tradisional Bali dengan berat 2 gram. 

Iriana memakai gelang kana berwarna emas di kedua bagian atas lengan dan pergelangan tangan. Tak ketinggalan kalung bodong emas yang melingkari lehernya dengan corak rumit. Dia juga memakai anting jepit emas. 

Penampilan Iriana semakin paripurna dengan hiasan kepala emas (gelungan). Gelungan berwarna emas itu dipercantik dengan bunga kamboja berwarna kuning. Mengutip Goodmind, gelungan adalah yng paling suci dari kostum ini karena kepala juga dianggap sebagai bagian tubuh paling suci. 

Pada riasannya wajahnya, Iriana tampak lebih bold dengan eye shdow gelap dan lipstik berwarna merah cabai. Semakin cantik dengan srinata pada dahinya.

Sejarah Tari Legong

Melansir Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Tari Legong merupakan sebuah tarian tradisional yang berasal dari Bali. Tarian ini mencerminkan keanggunan, keelokan, dan juga kelihaian para penari Bali. 

Secara umum, tarian ini akan dipentaskan saat upacara adat atau saat menyambut tamu wisatawan. Pada awalnya, tarian ini ditampilkan untuk acara keagamaan dan tidak bisa dipisahkan dari budaya Hindu Istana dan Hindu Dharma.

Mengutip Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Legong adalah sekelompok tarian klasik Bali yang mempunyai perbendaharaan gerak yang cukup kompleks dan terikat dengan struktur tabuh pengiring yang konon adalah pengaruh dari gambuh. Kata Legong sendiri berasal dari kata “leg” yang berarti gerak tari yang luwes dan lentur, dan “gong” yang berarti gamelan. 

Jadi, kata “legong” dalam hal ini berarti gerak tari yang terikat oleh gamelan yang mengiringinya. Gamelan yang digunakan untuk mengiringi Tari Legong ini disebut dengan Gamelan Semar Pagulingan.

Kemudian, Tari Legong dikembangkan di keraton-keraton yang ada di Bali sejak abad ke-19. Kabarnya, ide Tari Legong diawali dari seorang pangeran dari Sukawati yang masih dalam keadaan sakit keras bermimpi melihat dua gadis penari yang lemah gemulai dengan diiringi oleh gamelan yang indah. Saat sang pangeran sembuh dari sakitnya, mimpinya tersebut dituangkan ke dalam repertoar tarian dengan gamelan lengkap.

Oleh karena sesuai dengan asal usulnya, penari Legong yang baru adalah dua orang gadis yang belum menstruasi. Kemudian ditarikan di bawah sinar bulan purnama di halaman keraton. Kedua penari tersebut disebut dengan legong, di mana selalu dilengkapi dengan kipas sebagai alat bantu.

Kemudian pada beberapa Tari Legong ada seorang penari tambahan yang disebut dengan condong yang tidak dilengkapi dengan kipas. Dia memiliki struktur tariannya yang terdiri dari papeson, pengecet, dan pakaad.

Seiring perkembangan zaman, Tari Legong sempat kehilangan popularitasnya pada awal abad ke-20 karena maraknya bentuk Tari Kebyar yang berasal dari bagian Utara Bali. Kemudian dilakukan usaha revitalisasi baru yang dimulai sejak akhir 1960-an dengan menggali kembali dokumen lama untuk rekonstruksi dan mengembalikan kejayaan Tari Legong.

Baca jugaCek 5 Promo Diskon Ramaikan Hari Kemerdekaan Indonesia 2023, Ada KFC hingga McDonalds


Editor: Indyah Sutriningrum

SEBELUMNYA

Hypereport Kemerdekaan: Nasionalisme dan Romantisme Sultan Agung di Bumi Nusantara

BERIKUTNYA

Hypereport Kemerdekaan: Belajar Perjuangan Lewat Gagasan dari Film Guru Bangsa Tjokroaminoto

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga: