Film Sultan Agung: Tahta, Perjuangan, Cinta (Sumber gambar: Mooryati Soedibyo Cinema/Festival Film Indonesia)

Hypereport Kemerdekaan: Nasionalisme dan Romantisme Sultan Agung di Bumi Nusantara

17 August 2023   |   12:30 WIB
Image
Yudi Supriyanto Jurnalis Hypeabis.id

Cinta adalah kata yang begitu kuat terasa ketika pertama kali menonton film Sultan Agung: Tahta, Perjuangan, dan Cinta yang rilis pada 2018. Hanung Bramantyo sebagai sutradara karya sinema berdurasi lebih dari 2 jam itu mampu menghadirkan cinta para karakternya dengan cara yang berbeda. 

Kepiawaian Hanung dalam mengarahkan cerita-cerita tentang cinta atau romansa terasa begitu kental dalam film ini. Para penonton akan mendapatinya pada babak awal film ketika Mas Rangsang muda bertemu dengan seorang wanita bernama Lembayung. Pertemuan keduanya dimulai dari sebuah pertarungan dan berujung pada kisah cinta, meskipun pada akhirnya mereka tidak bisa bersama. 

Perbedaan status membuat Rangsang dan Lembayung tidak dapat bersama, dan sang sutradara tidak mungkin “menerobos” dengan menciptakan alur raja yang tetap menikahi sang kekasih. Bukan tanpa sebab, karya ini adalah tentang Sultan Agung, seorang raja Mataram yang sangat terkenal. 

Baca juga: Hypereport: Gambaran Semangat Perjuangan Rakyat Jelata dalam Film November 1828 

Kisah romantisme Sultan Agung berubah dari hubungan antarpersonal menjadi hubungan dengan rakyat dan keluarga. Sang raja diperlihatkan sangat memperdulikan rakyat dan memiliki visi yang jauh ke depan tentang kondisi negara. 

Adegan itu terlihat ketika Sultan Agung bertemu dengan pasukan Belanda yang datang dan menginginkan berdagang di bumi Nusantara. Dia tidak begitu saja terbuai dengan emas yang dibawa oleh penjajah. Dia bahkan memerintahkan rakyatnya untuk membuat senjata yang dibawa oleh kompeni. 

Kecintaannya terhadap rakyat juga diwujudkan ketika memutuskan untuk menyerang Belanda. Dia juga bersedih di hadapan sang ibu ketika banyak rakyatnya yang berguguran. Tidak hanya itu, rasa cinta juga dimiliki oleh para karakter dengan caranya yang berbeda-beda. 

Sang paman, yakni Notoprojo yang dianggap pengkhianat memiliki rasa cinta terhadap kerajaannya dan rakyat. Rasa itu membuatnya berusaha agar perang tidak terjadi dengan mempertanyakan tujuannya, demi rakyat atau ambisi pribadi.

Dia tidak dihukum mati. Namun, harus tetap berperang melawan penjajah. Ekspresi cinta itu juga ditunjukkannya ketika menyetujui saran Lembayung agar pasukan Mataram menjauh dari sungai. Sebab VOC memiliki perahu kecil yang kerap digunakan untuk berpatroli di Batavia. Notoprojo pun tetap melawan Belanda ketika mereka diserang, meskipun pada akhirnya dia harus dihukum mati dengan dipenggal.

Seto, pengkhianat lainnya, juga memiliki rasa cinta yang ditunjukan ketika dia mempertanyakan alasan sang adik, yakni Lembayung ikut ke Batavia. Si kakak menyuruh adiknya untuk pergi dan menjauh dari wilayah tersebut. Dari karakter ini, Hanung ingin menunjukkan perkembangan karakter.

Seto yang awalnya sangat mencintai Mataram, harus berbalik jadi pengkhianatan karena intrik politik yang terjadi di dalam kerajaan. Dia yang melaporkan penggelapan pajak disiksa dan dipaksa menjadi orang yang mengaku melakukannya.

Perkembangan karakter itu juga ditunjukkan melalui Kelana. Jika pada awalnya dia sangat mencintai Mataram, selanjutnya dia menjadi seorang pengkhianat, dan lumbung padi yang dibangun untuk menyerang kembali VOC dibakar oleh Belanda. Alasannya untuk membalaskan dendam kematian Notoprojo yang dieksekusi dan demi rakyat Mataram. 
 

(Sumber gambar: Mooryati Soedibyo Cinema/FFI)

(Sumber gambar: Mooryati Soedibyo Cinema/FFI)

Dari sisi visual dan latar tempat, film Sultan Agung: Tahta, Perjuangan, Cinta menghadirkan bangunan-bangunan tempo dahulu. Lanskap pemandangan sawah pedesaan dan gunung yang hijau juga cukup menarik tersaji dalam karya tersebut.

Tidak hanya itu, efek CGI yang dipakai untuk membuat belasan ribu pasukan dalam penyerangan benteng VOC cukup berhasil menggambarkan besarnya pasukan yang dibawa. Meskipun begitu, dalam eksekusi adegan penyerangan, crowded yang tercipta masih terasa kurang maksimal. Pengambilan gambar secara detail ketika pasukan tertembak atau terbunuh juga cukup menarik tersaji dalam film ini. 

Di film ini, penonton juga bisa melihat bagaimana nasionalisme sang sutradara dengan ciri khas karyanya, meskipun sejumlah kritik datang terhadap film ini, termasuk mengenai kebenaran sejarah atau kekurangan riset. 

Dia mencoba memberikan pesan tentang seorang raja yang sangat mencintai rakyat, keluarga, dan termasuk para generasi muda. Dalam sebuah percakapan dengan Lembayung, Sultan Agung menegaskan bahwa penyerangan ke Batavia bukan untuk hari ini tapi untuk ratusan tahun ke depan. 

“Dunia harus tahu kalau kita itu bukan bangsa lemah. Anak dan cucu kita akan mencatat itu,” katanya. 

Pengamat film Yan Widjaya menilai bahwa cerita, pesan, dan teknik penggarapan Sultan Agung: Tahta, Perjuangan, Cinta, yang digarap oleh Sutradara Hanung Bramantyo sudah cukup baik. Namun, belum berhasil menarik minat penonton umum untuk datang ke bioskop, sehingga tidak sukses secara komersial. 

Dalam film itu, Hanung berniat dan berhasil memaparkan biopik tokoh yang jujur. Begitu juga dengan penyajian sinematografi dalam sinema tersebut yang dinilai Yan sangat baik, apalagi untuk ukuran film kolosal. Namun, sekali lagi, film jenis ini memang sangat segmented, dan kurang populer di generasi penonton muda. 

Baca juga: Hypereport: Menyaksikan Kegigihan dan Harga Diri Tjoet Nja’ Dhien
 

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)

Editor: Syaiful Millah 

SEBELUMNYA

Mengenal Baju Adat Ageman Songkok Singkepan Ageng, Busana Raja yang dikenakan Presiden Jokowi

BERIKUTNYA

Cantiknya Iriana Jokowi Memakai Baju Adat Tari Legong Bali, Intip Filosofi & Sejarahnya

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga: