Peran Tenaga Pendidik Tergantikan oleh AI (Sumber Foto: Freepik)

Guru & Dosen Sebaiknya Manfaatkan AI Supaya Cara Mengajarnya Enggak Bikin Boring

23 May 2023   |   20:00 WIB
Image
Kintan Nabila Jurnalis Hypeabis.id

Pesatnya perkembangan teknologi generasi 4.0 ditandai dengan kehadiran sistem kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Sayangnya teknologi ini menimbulkan kekhawatiran karena ada beberapa jenis pekerjaan tertentu yang tergantikan oleh AI.

Dalam kajian terbarunya, Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia menyatakan ada potensi 23 juta orang terancam kehilangan pekerjaan pada 2030 mendatang sebagai dampak dari perkembangan teknologi dan digitalisasi.

Baca juga: Mengenal DALL-E 2, Artificial Intelligence yang Ciptakan Gambar dari Kata-Kata

Karakteristik pekerjaan yang terancam antara lain pekerjaan yang terstandarisasi, pekerjaan dapat dilakukan dengan bantuan teknologi, pekerjaan dengan tingkat risiko kecelakaan kerja tinggi, serta pekerjaan yang kurang fleksibel.

Kondisi ini perlu disikapi dengan adanya upaya pengembangan keterampilan serta kompetensi baru agar pekerja dapat mengikuti perkembangan zaman. Karena itulah, sektor pendidikan memiliki peran penting dalam menyiapkan generasi yang mampu mengikuti perkembangan teknologi dan kebutuhan zaman.

Di sisi lain, bidang pendidikan juga menghadapi ancaman dengan adanya kehadiran kecerdasan buatan. Dekan Sekolah STEM Universitas Prasetiya Mulya Stevanus Wisnu Wijaya memaparkan bahwa ada kekhawatiran, suatu saat nanti kecerdasan buatan akan menggantikan peran guru atau dosen,

“Namun, kekhawatiran itu bisa disikapi secara positif. Kehadiran AI jangan dilihat sebagai sebuah ancaman, justru sebagai sebuah kesempatan untuk mendukung proses pendidikan.” katanya dalam keterangan tertulis dikutip Selasa (23/5/2023).

Menurutnya, salah satu manfaat kecerdasan buatan dalam dunia pendidikan adalah dengan menjadikan AI sebagai sumber pengetahuan untuk membangun inovasi baru. Jika dimanfaatkan dengan baik AI bisa menghadirkan pengalaman belajar yang lebih baik dan menarik bagi siswa.

Dengan demikian, para siswa akan terdorong untuk menjadi lebih kreatif yang pada akhirnya bisa turut berperan dalam perkembangan teknologi itu sendiri, dengan menjadi co-creator dan inovator teknologi-teknologi baru.

Adapun bagi guru, AI juga sangat potensial dimanfaatkan sebagai alat untuk menganalisis data. Dengan kemampuan kecerdasan buatan yang terus berkembang, para guru bisa menggunakan hasil analisis tersebut untuk membuat pemetaan minat dan bakat para siswa, hingga merancang model pembelajaran yang lebih menarik dan menyenangkan.

“Kehadiran AI akan mendorong banyak inovasi di bidang pendidikan.” tambah Stevanus.

Untuk mendukung perkembangan tersebut, para pendidik juga harus peka dalam melihat tren dalam proses pembelajaran. Baru-baru ini, Pusat Studi Kebangsaaan Indonesia Universitas Prasetiya Mulya melakukan survei terhadap 1.600 mahasiswa dari seluruh Indonesia untuk mengetahui cara belajar dan bagaimana mereka mendapatkan pengetahuan.

"Dari survei itu terungkap, para siswa belajar melalui internet dan media sosial. Sisanya, sebanyak 26 persen menjawab belajar dari kelas, dan 16 persen lainnya belajar dari buku,” ujar Noer Hassan Wirajuda, Dekan Sekolah Hukum dan Studi Internasional Prasetiya Mulya.

Hasil survei tersebut memperlihatkan tren baru yang bisa menjadi tantangan sekaligus peluang bagi pendidik. Sebab, survei tersebut juga menunjukkan para anak didik menginginkan proses pembelajaran yang lebih interaktif. Menurut Hassan, para pendidik, guru maupun dosen, harus siap menghadapi perubahan tersebut dan menangkap keinginan para anak didiknya.

“Guru perlu mengembangkan metode baru dalam pembelajaran yang lebih interaktif, tanpa mengurangi kualitas muatan ilmu yang disampaikan.” ujar Hassan.

Misalnya para pendidik bisa memanfaatkan media sosial, kecerdasan buatan, sampai teknologi metamesta (metaverse) untuk memberikan materi pendidikan secara multimedia, sehingga proses belajar para siswa menjadi lebih menarik.

Oleh karenanya, penting sekali penguatan pengembangan keahlian dan kemampuan guru. Bukik Setiawan selaku Ketua Yayasan Guru Belajar memaparkan saat ini kapasitas program pengembangan guru sangat kecil sehingga berjalan lamban.

“Setiap tahun, pemerintah hanya menyediakan ruang pengembangan kapasitas untuk 300 ribu guru, tidak sebanding dengan kebutuhannya. Maka tak heran jika banyak pendidik yang merasa kesulitan mengikuti perubahan.” katanya.

Menurut Bukik, pada kenyataannya, saat ini, di Indonesia perubahan kurikulum terhitung lamban. Idealnya revisi atau penyesuaian kurikulum itu dilakukan setiap tahun, berdasarkan hasil evaluasi. Terlebih dengan pesatnya perkembangan teknologi seperti sekarang.

"Perubahan kurikulum per lima tahun saja sudah terasa terlalu cepat, karena pengembangan kapasitas gurunya yang juga berjalan lamban, akhirnya ara pendidik jadi terkesan kewalahan mengikuti perkembangan zaman,” sambungnya.

Bukik berujar, salah satu solusi yang bisa dilakukan untuk mengatasi persoalan itu bisa dimulai dari institusi pendidikan. Caranya dengan menambah anggaran dan memprioritaskan program pengembangan kapasitas dan kemampuan guru. Saat ini, rata-rata setiap sekolah di Indonesia hanya menganggarkan bujet sebesar 0-2 persen dari total anggaran sekolah untuk kebutuhan pengembangan guru.

“Kebanyakan institusi pendidikan masih memprioritaskan anggaran mereka untuk pembangunan fasilitas dan prasarana. Padahal pengembangan kapasitas guru sangat penting.” katanya.

Dia menambahkan, idealnya institusi pendidikan menyiapkan minimal 20 persen anggarannya untuk kebutuhan pengembangan guru. Kita perlu mendorong para pendidik untuk maju dan berkembang.

Baca juga: 4 Kesalahan Penerapan Artificial Intelligence dalam Bisnis

Editor: Dika Irawan

SEBELUMNYA

Erafone Mobile Legends National Tournament 2023 Resmi Dimulai di 8 Kota, Cek Cara Daftarnya

BERIKUTNYA

Laris Manis di Marketplace, Intip 4 Fitur Unggulan Huawei MatePad 11 2023

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga: