William Wongso (Sumber gambar: IG/Williamwongso)

William Wongso: Saya Belajar Kuliner dari Jalanan

27 November 2022   |   07:46 WIB

Lidahnya sangat akrab dengan beragam makanan khas dari Sabang hingga ke Merauke. Saat berbicara di forum internasional, dia konsisten mengenalkan kuliner Nusantara kepada dunia. Dia adalah William Wirjaatmadja Wongso, pakar kuliner yang hafal terkait seluk beluk kuliner Nusantara.

Dalam Bisnis Indonesia Weekend edisi 1 Juli 2018, William pernah berbagi kisah perjalanan kariernya sebagai ahli kuliner. 

Menjadi ahli boga Tanah Air, bukan hal yang kebetulan bagi William. Sejak kecil, dia sudah akrab menjajal berbagai masakan tradisional. Ayah William, Soewadi Wongso adalah fotografer Presiden Soekarno. Di tengah kesibukannya sebagai fotografer presiden, Soewardi seringkali mengajak William untuk mencicipi kelezatan makanan di berbagai daerah. 

William merasa beruntung memiliki ayah seperti Soewadi Wongso. Selain mengenalkannya pada kuliner, ayahnya juga mengajarinya tentang ilmu fotografi. Pengetahuan itu sangat berguna baginya.

Baca juga: Cobain Kuy! 4 Tempat Kuliner Legendaris Kaya Sejarah di Indonesia

“Saya bisa motret. Saya memiliki pengetahuan sepaket, seperti fotografi dan komunikasi, yang mendukung kegiatan eksplorasi kuliner,” tuturnya. 

Soal kebiasaan mencicipi makanan rupanya tetap dilakukan William hingga menginjak remaja. Mencicipi menu-menu ala street food dan menyambangi sejumlah pasar tradisional menjadi hobinya. Dari tempat-tempat itulah, William memahami khazanah kuliner khas Indonesia. 

Aktivitas perjalanan yang dilakukan ke sejumlah daerah juga memberikannya makna hidup. Di daerah yang disambanginya, William semakin paham cara menghormati dan berkomunikasi dangan masyarakat di banyak daerah. 

“Saya belajar kuliner dari jalanan. Semua bidang pernah saya lakoni, mulai dari produksi film, iklan, radio, perjalanan, hingga percetakan. Saya tak berpikir untuk membuka restoran. Modal saya hanyalah mencicip makanan,” ungkapnya. 

Ayah dari dua anak ini percaya bahwa Indonesia memiliki masa depan cerah di bidang kuliner. Semua itu diyakininya berdasarkan fakta bahwa kiblat kuliner dunia tidak lagi di Eropa dan Amerika, tetapi mulai bergeser ke Asia. Para chef dan pakar kuliner dari Eropa dan Amerika mulai menyambangi Asia untuk mencari menu-menu baru yang belum terekspose. 

“Dunia mau lihat itu. Kalau [sajian fine dinning] yang dipercantik sudah biasa. Orang mau lihat yang asli sekarang, karena langka. Di Indonesia memiliki semua itu.”

William sadar bahwa mengenalkan menu kuliner khas Tanah Air tidak semudah membalik telapak tangan. Ditambah karibnya sesama pakar kuliner yakni Bondan Winarno telah tiada. William harus berjuang sendiri untuk menumbuhkan kesadaran masyarakat Indonesia tentang kekayaan kuliner, sekaligus mengenalkan ke masyarakat dunia. Perjuangan tidak mudah karena pemerintah masih belum memiliki peta panduan yang jelas tentang kuliner Nusantara. 

Dalam penilaiannya, menggaet potensi yang besar untuk kuliner Indonesia masih stagnan. Dari sekian banyak tantangan yang harus dihadapinya, William tidak surut untuk terus menggali dan menambah pengetahuan mengenai masakan.

Tidak hanya dari mencicipi, tetapi juga cara mengolah berikut memilih bahan baku yang tepat untuk suatu menu. Dia juga terus berbagi pengalaman tentang kuliner khas Indonesia kepada generasi muda. 

Hal ini dirasa perlu agar anak-anak muda tidak hanya mengenal dan mendewakan menu masakan asing saja. Ilmu yang ditularkannya itu tidak hanya diberikan secara verbal tetapi juga diberikannya dalam bentuk buku. William menerbitkan buku berjudul Flavours of Indonesia

Lewat buku setebal 198 halaman itu, dia bercerita tentang sejarah cita rasa masakan, dan laporan pandangan mata tentang perjalanannya ke berbagai pulau di Nusantara. Pada tahun lalu buku ini dipilih sebagai juara pertama pada ajang Gourmand World Cookbook Awards. Karya William itu mengalahkan buku-buku lain dari 205 negara. 

“Buku itu menang bukan karena William Wongso, tetapi lantaran misteri kuliner Indonesia. Semua orang mengerti kuliner. Namun, tidak banyak yang tahu mengenai kuliner Indonesia,” jelasnya. 

Dia tak menampik jika bukunya ini masih jauh dari kata sempurna. Belum semua cerita tentang cita rasa Indonesia termaktub di dalamnya. Dia berharap suatu saat ada sosok baru yang tergerak untuk melanjutkan perjuangannya dalam mengenalkan kuliner di Tanah Air. 


Prinsip Berbagi 

Konstensi untuk mendalami dan menguasai suatu bidang yakni kuliner tidak dapat dilepaskan dari prinsip hidup. Dia mengungkapkan, jika menikmati makanan lezat sebaiknya jangan dihabisi semuanya karena akan memicu penyakit. Justru sebaliknya, perlu disisakan untuk orang lain. Dengan prinsip itu, dia enggan menjadi orang yang pelit dalam berbagi ilmu. 

Baginya pengetahuan jangan dirahasiakan. Pengetahuan harus diberikan kepada semua orang. Hal itu sama dengan analoginya tentang menyantap makanan enak tadi. Dalam memandang keberhasilan, William tidak memandang dari materi. 

Bagi pria kelahiran Malang ini, keberhasilan itu adalah ketika seseorang dapat menghormati, menghargai, dan mengapresiasi orang lain. Menurutnya, tanpa serentetan sikap tersebut, sulit bagi manusia untuk mendapatkan kebahagiaan hidup karena keegoisannya. 

“Hal itu bisa dijumpai ketika orang makan. Sering kan orang menilai makanan yang berasal dari negara atau daerah lain tidak enak. Atas hak apa mereka berkata seperti itu? Setiap negara dan daerah memiliki cita rasa kuliner masing-masing sehingga tidak dapat disamakan,” ujarnya. 

Sebagai pencicip makanan, William tidak lepas dari pantangan. Dia mengaku hanya menyantap makanan seperlunya saja. Hal itu dilakukan demi menjaga kesehatan. Bila ingin menambah menu makanan yang sama, dia akan melakukannya pada dua pekan berikutnya. 

“Jangan makan kebanyakan karena yang racun itu mulut. Bila habis berobat kemudian mulutnya tidak dijaga. Makan apa saja. Ya bisa jebol [sakit],” tutur pria yang juga hobi mengoleksi miniatur kuliner ini. 

Di luar kesibukannya berkunjung ke daerah, William tak lupa meluangkan waktu untuk berolahraga mulai dari diving hingga tenis. Dia ingin kesehatan pada usia senja ini tetap terjaga. Selain itu, dia mengaku tidak ingin merepotkan kedua anaknya, yakni Tia Wongso dan Olivia Wongso.

Menurutnya, tugasnya sebagai orang tua selesai ketika anak-anaknya selesai sekolah. “Saya ingin menjadi orang tua mandiri dan terus berjuang menaikkan derajat kuliner Indonesia,” tegasnya. 

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)

Editor: Nirmala Aninda
 
SEBELUMNYA

Memilih Lampu Hias yang Tepat Guna Percantik Ruangan

BERIKUTNYA

Melihat Cinta & Harapan dalam Drama Musikal Rent: Seasons of Love

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga: