Festival Pertengahan Musim Gugur. (Sumber gambar: Pexels/Min An)

Kisah Dewi Bulan yang Bersahaja, Sosok Legendaris dibalik Festival Kue Bulan

10 September 2022   |   10:46 WIB

Perayaan Festival Pertengahan Musim Gugur yang identik dengan kue bulan (mooncake) mencapai puncaknya pada 10 September 2022. Dirayakan pada musim gugur, festival ini memiliki legenda panjang dibalik kisah dan mitos Dewi Bulan sejak sebelum masehi.

Telah dilangsungkan sejak 3.000 tahun lalu, perayaan yang juga dikenal sebagai Festival Kue Bulan ini, identik dengan kudapan kue bulan yang berwarna bulat dengan berbagai variasi isian. Bulatnya kue menandakan keutuhan atau kebulatan yang juga identik dengan kebersamaan dan kekeluargaan.

Tak heran jika Festival Kue Bulan menjadi agenda tahunan bagi masyarakat Tionghoa untuk berkumpul dan bercengkarama Bersama keluarga dekat hingga jauh. Perayaan ini berlangsung pada hari ke-15 di bulan ke-8 dalam kalender Tionghoa.

Baca juga: 6 Varian Kue Bulan yang Paling Banyak dinikmati di Indonesia

Karena masyarakat Tionghoa menyebar ke seluruh penjuru dunia, maka berbagai wilayah di dunia turut merayakan festival ini termasuk di Indonesia, Jepang, Malaysia, hingga Korea Selatan. Mereka akan merayakan festival ini dengan membuat dan menyantap kue bulan.

Namun dibalik perayaannya, terdapat kisah sang Dewi Bulan yang mengiringi traidisi unik ini. Dilansir dari situs Visit Beijing, mitologi Festival Kue Bulan berawal dari kisah seorang pemanah bernama Huo Yi. Dia berhasil memanah delapan matahari di langit dan menyisakan satu matahari saja.

 
Lukisan The Moon Goddess Chang E, sekitar tahun 1500 (dinasti Ming). (Sumber gambar: The Metropolitan Museum of Art)
Dikisahkan pada kala itu, bumi sedang mengalami panas yang luar biasa karena banyaknya matahari di dunia. Hal ini menyebabkan kekeringan yang berkepanjangan diiringi kelaparan yang terjadi di seluruh dunia. Karena Huo Yi telah menyisakan satu matahari saja, sang raja memberinya sebuah pil panjang umur untuk dikonsumsi. Dia pun memberikan pil itu kepada sang kekasih, Chang Er untuk kemudian disimpan.

Namun bukan Huo Yi yang mengkonsumsinya, Chang Er justru menelan pil tersebut yang berujung pada pemberian kehidupan abadi di bulan. Konon, Chang Er memilih menelan pil itu karena tak ingin memberikannya kepada murid Hou Yi yang sempat memaksanya untuk memberikan obat tersebut.

Chang Er kemudian merasa tubuhnya semakin ringan hingga terbang ke bulan. Dia pun menjadi Dewi Bulan karena peristiwa itu.

Huo Yi merasa menyesal sang kekasih meminum pil itu. Akhirnya, dia memilih untuk mengobati rasa rindunya terhadap Chang Er dengan duduk melihat bulan purnama dan menunggu Chang Er menampakkan diri, ditemani dengan secangkir teh dan kue yang selanjutnya disebut sebagai kue bulan.

Huo Yi juga meletakkan banyak buah dan makanan favorit Chang Er di sebuah altar yang dipersembahkan untuk sang kekasih.

Selain itu, masyarakat Tionghoa yang hidup dari agrikultural juga mempersembahkan kehormatan kepada Dewi Bulan setiap hari panen datang. Persembahan diberikan dengan jenis kue-kuean yang berisi kuning telur utuh. Kuning telur utuh ini menandakan bulatnya bulan purnama di malam hari sekaligus sebagai ucapan syukur kepada sang Dewi Bulan.

Kabarnya, Dewi Bulan akan menampakkan dirinya saat bulan purnama penuh dan terang. Mulai dari kejadian itu, masyarakat Tionghoa melestarikan traidisi festival Kue Bulan dari tahun ke tahun. Bahkan Kue bulan dianggap sebagai simbol kehangatan dan kemakmuran kerabat dan keluarga.

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)

Editor: Nirmala Aninda
SEBELUMNYA

6 Varian Kue Bulan yang Paling Banyak dinikmati di Indonesia

BERIKUTNYA

Resep Kreasi Kue Bulan, Cocok Jadi Cemilan Sore

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga: