Pengurangan emisi karbon melalui teknologi penangkapan udara langsung melengkapi sejumlah solusi lain yang bertujuan mengurangi emisi karbon dioksida (sumber gambar: Airbus)

Teknologi Baru untuk Kurangi Karbon di Udara

19 July 2022   |   18:11 WIB
Image
Yudi Supriyanto Jurnalis Hypeabis.id

Airbus dan sejumlah maskapai besar seperti Air Canada, Air France-KLM, easyJet, International Airlines Group, LATAM Airlines Group, Lufthansa Group dan Virgin Atlantic telah menandatangani Letters of Intent (LoI) untuk menjajaki peluang mendapatkan kredit pengurangan karbon pada masa depan melalui teknologi penangkapan langsung karbon di udara.

Dilansir dari rilis yang diterima Hypeabis.id, Direct Air Carbon Capture and Storage (DACCS/DAC) adalah teknologi penangkapan karbon yang menyaring dan mengurangi emisi karbon dikosida (CO2) langsung dari udara dengan menggunakan kipas bertenaga tinggi.

Setelah berhasil ditangkap, masih dalam rilis, karbon dioksida tersebut akan disimpan secara permanen dengan aman di suatu reservoir geologis.

Perlu diketahui, industri penerbangan tidak dapat menangkap emisi CO2 yang dilepaskan ke atmosfer langsung dari sumbernya. Jadi, solusi penangkapan dan penyimpanan karbon udara langsung akan memungkinkan industri penerbangan menangkap sejumlah emisi yang setara dengan jumlah emisi operasionalnya langsung dari atmosfer.

Baca juga Teknologi Pesawat Ini Disebut Lebih Ramah Karbon

Pengurangan emisi karbon melalui teknologi penangkapan udara langsung menjadi pelengkap dari beberapa solusi lain yang bertujuan mengurangi emisi karbon dioksida, seperti pengguanaan bahan bakar penerbangan berkelanjutan (Sustainable Aviation Fuel/SAF).

Fatima da Gloria de Sousa, VP Sustainability Air France-KLM, menuturkan bahwa selain penangkapan dan penyimpanan karbon dioksida, teknologi ini membuka perspektif yang sangat menarik untuk produksi bahan bakar penerbangan berkelanjutan sintetis.

“Letter of intent yang kami tandatangani dengan Airbus hari ini mewujudkan pendekatan kolaboratif yang telah dimulai oleh industri penerbangan untuk menemukan solusi efektif yang menjawab tantangan kami dalam melakukan transisi di segi lingkungan. Kami harus bekerja sama untuk menangani darurat iklim,” katanya.

Dia menambahkan, nilai keberlanjutan adalah bagian integral strategi Grup Air Franc-KLM. Perusahaan, paparnya, telah melakukan sejumlah langkah guna mengurangi jejak karbon dari pesawat seperti pembaruan armada, penggunaan SAF, dan eco-piloting.

Perusahaan, lanjutnya, juga menjadi mitra aktif dalam penelitian dan inovasi guna memajukan pengetahuan tentang teknologi baru untuk menyempurnakan efisiensi dan biaya yang dikeluarkan oleh perusahaan.

Sementara itu, Teresa Ehman, Senior Director, Environmental Affairs Air Canada, mengatakan perusahaan bangga dapat mendukung adopsi awal penangkapan dan penyimpanan udara langsung. Perusahaan dan industri penerbangan, paparnya, bergerak maju di jalur pengurangan karbon.

Teknologi ini, lanjutnya, adalah salah satu dari banyak perangkat penting yang akan dibutuhkan meskipuun masih berada pada awal perjalanan panjang dan banyak pekerjaan yang harus dilakukan untuk mengurangi emisi karbon dioksida.

“Bersama dengan hal lainnya, termasuk bahan bakar penerbangan berkelanjutan dan pesawat berteknologi baru yang semakin efisien, untuk mencapai dekarbonisasi dalam industri penerbangan,” katanya.

Adapun Jane Ashton, Director of Sustainability easyJet mengatakan bahwa teknologi penangkatan udara langsung adalah teknologi baru yang memiliki potensi besar. Perusahaan, paparnya, percaya bahwa solusi pengurang karbon adalah elemen penting untuk perjalanan industri penerbangan menuju net zero yang juga membantu industri menetralkan emisi residu pada masa depan.

“Pada akhirnya, ambisi kami adalah untuk mencapai penerbangan tanpa emisi karbon, dan kami bekerja dengan mitra di seluruh industri, termasuk Airbus, pada beberapa proyek khusus untuk mempercepat pengembangan teknologi pesawat tanpa emisi karbon di masa depan,” katanya.

Juan José Toha, Corporate Affairs and Sustainability Director LATAM Airlines Group, turut menuturkan bahwa DACCS merupakakn solusi inovatif yang memiliki potensi untuk berperan dalam pengembangan bahan bakar penerbangan berkelanjutan sintetis. Jadi, lanjutnya, teknologi ini bukan hanya dapat digunakan oleh para maskapai untuk mengurangi karbon dari atmosfer.

Dilansir dari laman airbus.com, fasilitas penangkapan udara langsung atau DAC secara singkat bertindak seperti pohon skala besar yang menyedot udara keluar dari atmosfer dan mengekstraksi CO2 yang ada.

Teknologi penangkapan udara ini cukup sederhana, yakni kipas besar menarik udara ke dalam kontaktor udara, yang dimodelkan pada menara pendingin industri. Kemudian, udara melewati permukaan plastik tipis dengan larutan kalium hidroksida tidak beracun yang mengalir di atasnya untuk menjebak garam karbonat karbon dioksida.

Garam karbonat dipisahkan dari larutan menggunakan reaktor pelet. Pelet karbon kemudian dipanaskan dalam calciner untuk melepaskan karbon dioksidia sebagai gas murni. Terakhir, laman tersebut menuliskan, pelet yang diproses dihidrasi dalam alat yang disebut "slaker" dan didaur ulang untuk digunakan dalam larutan penangkap asli.

Karbon dioksida murni yang ditangkap dapat disimpan di bawah tanah atau digunakan kembali untuk produksi, seperti untuk bahan bakar Power-to-Liquid melalui proses pelengkap yang disebut AIR TO FUELS TM.

Fasilitas DAC ditargetkan mulai beroperasi pada 2024 di Permian Basin. Fasilitas ini diharapkan dapat menangkap hingga satu juta ton karbon dioksida dari udara per tahun setelah beroperasi penuh. Kondisi ini setara dengan kapasitas penyerapan sekitar 40 juta pohon.


Editor: Gita Carla
 

SEBELUMNYA

'Pangeran Es' Jepang Yuzuru Hanyu Pensiun Kompetisi Skating, Lanjutkan Karier Profesional

BERIKUTNYA

Cerita Menarik Deva Mahenra & Tatjana Saphira Bintangi Film Ghost Writer 2

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga: