Hasil karya Bapak Komik Indonesia, RA Kosasih (Sumber gambar: Goodreads)

Mengenal RA Kosasih, Bapak Komik Indonesia dan Pencipta Karakter Sri Asih

08 July 2022   |   18:00 WIB
Image
Gita Carla Hypeabis.id

Bila bicara soal sejarah perkembangan komik Indonesia, nama maestro satu ini tidak boleh terlupa. Raden Ahmad Kosasih atau yang lebih dikenal dengan RA Kosasih merupakan Bapak Komik Indonesia. Raganya memang telah lama tiada, tapi pengaruhnya di dunia komik dan seni nasional masih sangat terasa. 

Mungkin banyak yang tak tahu kalau 4 April lalu adalah Kosasih Day. Sebuah peringatan terhadap sosoknya, yang dirayakan bertepatan dengan tanggal kelahirannya. Dari sini saja kita sudah paham betapa pentingnya sosok RA Kosasih pada dunia per-komik-an Indonesia. Belum lagi ajang penghargaan tertinggi komik Indonesia yang dipersembahkan dengan namanya, Kosasih Award.

Baca Juga : Daftar Komik Ciptaan Bapak Komik Indonesia RA Kosasih

Lahir pada 4 April 1919 di Bogor, Jawa Barat, RA Kosasih adalah anak dari pasangan Raden Wiradikusuma, seorang pedagang dari Purwakarta dan perempuan asli Bogor bernama Sumami. Berasal dari keluarga terpandang, RA Kosasih memiliki kesempatan untuk mendapatkan pendidikan yang baik. Dia menempuh pendidikan di Hollandsch Inlands School (HIS), Bogor.

HIS sendiri adalah sekolah bumiputra untuk bangsawan, keturunan tokoh-tokoh terkemuka, atau pegawai negeri Indonesia dan pertama kali berdiri di Indonesia pada 1914. Sekolah itu memiliki masa pendidikan selama tujuh tahun dan menggunakan Bahasa Belanda sebagai bahasa pengantar.

Setelah tamat dari sekolah, RA Kosasih menghabiskan waktunya untuk menggambar dan menonton pertunjukan wayang golek alih-alih menjadi pegawai negeri yang mentereng. Sesuai dengan passion-nya, bungsu dari delapan bersaudara ini bekerja di Departemen Pertanian Bogor (Departement van Landbouw) pada 1939 sebagai seniman penggambar binatang dan tanaman untuk terbitan perpustakaan dan pelajaran.

Pada 1953, RA Kosasih bekerja sebagai komikus di harian Pedoman Bandung. Memang Bandung pernah menjadi pusat tren komik di Indonesia, beberapa sumber juga menyebut kota ini sebagai Ibu Kota Komik. Kosasih kemudian bekerja sebagai seniman komik untuk perusahaan Penerbit Melodie, Bandung. Di sinilah namanya mulai dikenal sebagai penulis dan komukis.
 

Jejak Sri Asih Pada Jagat Komik Indonesia

 

Komik Sri Asih Bumilangit (Sumber gambar: Bumilangit)

Komik Sri Asih Bumilangit (Sumber gambar: Bumilangit)


Era 1954,  banyaknya komik superhero hasil adaptasi komik Amerika, mencemaskan hati para pendidik. Mereka mengecam komik adaptasi tidak hanya dari segi bentuk yang dianggap tidak mendidik, tapi sisi gagasan yang dianggap berbahaya.

Masih pada tahun yang sama, Penerbit Melodie mulai menelurkan komik bernama Melodie Komik, yang terbit setiap tanggal 1 dan 15, sebanyak 32 halaman. Edisi pertamanya berisi komik-komik khas Indonesia, yaitu Nina Gadis Rimba karya Johnlo dan Sri Asih karya RA Kosasih. 

Memakai karaker perempuan sebagai tokoh utama menjadi daya tarik komik Sri Asih. Di mana seorang perempuan yang dicap lemah menjadi seorang adisatria, yang mampu mengalahkan orang jahat. Adalah seorang gadis cerdas dari keluarga terpandang, Nani Wijaya namanya. Nani bekerja sebagai investigator independen yang kerap berkeliling dunia untuk menghentikan aksi para kriminal dan jejaring mafia global.

Ada rahasia lain dalam hidupnya yang penuh idealis itu, bahwa Nani merupakan titisan Dewi Asih dan menyandang gelar Sri Asih, disebut juga sebagai Dewi Keadilan. Sebagai Sri Asih, dia bisa memanggil arwah para leluhurnya untuk mengendalikan ruang, melipatgandakan diri dan kekuatan, selain itu Sri Asih juga memiliki selendang sakti yang bisa berubah wujud dan geraknya.

Baca Juga : 4 Fakta Film Sri Asih, Jagoan Perempuan Pertama di Jagat Sinema Bumilangit 

Layaknya Wonder Woman tapi memakai busana khas Indonesia, Nani memakai kemben, kain panjang batik, lengkap dengan kelat bahu. Melalui suguhan cerita naratif yang menarik, RA Kosasih mengimitasi tokoh-tokoh superhero dari Amerika Serikat dengan unsur-unsur lokal. 

Marcel Bonneff dalam bukunya Evolusi Komik di Indonesia menyatakan, meskipun tokoh rekaan RA Kosasih ini bukan komik pertama Tanah Air, tapi tetap menjadi patokan bagi awal pertumbuhan komik Indonesia.

Menyusul keberhasilan Sri Asih, RA Kosasih pun menulis karakter pahlawan lain, Siti Gahara. Mirip seperti Sri Asih yang sakti mandraguna dan penuh jiwa keadilan, Siti Gahara memiliki pembeda lewat kostum seperti kisah Seribu Satu Malam dan banyak bertempat di Timur Tengah.

Tak berhenti disitu, pada 1973 RA Kosasih juga membuat tokoh pahlawan super lain dengan karakter Sri Dewi. Memiliki kostum yang terinspirasi pakaian daerah nasional, Sri Dewi memiliki kemampuan untuk terbang, kebal, mampu mengubah tubuh menjadi raksasan dan ilmu Pukulan Halilintar yang sakti. Kali ini, komik Sri Dewi diterbitkan oleh Penerbit Maranatha.
 

Era Komik Wayang

Pada masa itu, sempat muncul wacana untuk menghentikan penerbitan komik selamanya. Kritik ini disikapi positif oleh penerbit komik seperti Melodie, Bandung, dan Keng Po, Jakarta. Mereka kemudian menerbitkan komik dengan cerita pewayangan. Salah satu tonggak sejarah penting adalah saat RA Kosasih menggoreskan tinta di atas kertas, untuk menggambarkan epik terbesar dari India, Mahabharata.

Pada naskah aslinya, Mahabharata adalah karya berbentuk puisi yang terdiri dari 220.000 baris, yang terbagi dalam 18 bab. Puisi ini menjadi karya terpanjang di dunia.

Pada 1960, dibuatlah komik bertema legenda yakni Mundinglaya. Dikusuma, Ganesha Bangun, Burisrawa Gandrung, dan Burisrawa Merindukan Bulan. Terbit juga komik wayang Mahabharata dan Ramayana yang sangat digemari oleh pembaca di dalam negeri.

Alur cerita berdasarkan kisah legenda dan pewayangan karya RA Kosasih dan sejumlah komikus lain seperti John Lo, segera mendapatkan tempat di hati khalayak dan disebut-sebut sebagai komik lokal dengan penjualan tinggi. Kuatnya alur cerita berdasarkan tradisi ini mampu membuat khalayak menggabaikan komik Amerika.

Pada 1958, terdapat enam penerbit yang tersebar di Bandung, Jakarta, dan Surabaya. Penerbit Melodie, bertengger diperingkat pertama, dengan dukungan komikus utama RA Kosasih. Melalui pasang surutnya, komik wayang tetap bertahan hingga banyak generasi. Hingga saat ini, melalui penerbitan ulang, komik ini tetap dicari oleh penggemarnya.

RA Kosasih berhenti menggambar komik karena mengalami tremor, gangguan pada syaraf, sehingga tubuhnya tak bisa lagi menggambar komik pada tahun 1994. Kosasih wafat Selasa 24 Juli 2012 pukul 01:00 WIB. 

Kini, pada era baru komik Indonesia, karya-karya RA Kosasih masih menjadi inspirasi dan dibuat ulang oleh sejumlah komikus. Salah satunya adalah LINE webtoon bertajuk Sri Asih: Celestial Goddess dari Bumilangit. Komik ini hadir untuk merayakan Kosasih Day 2020 dan masih menarik perhatian pembaca di generasi milenial dan gen Z.

Sri Asih: Celestial Goddess dengan  Devita Kristiani dan Archie the RedCat sebagai pembuatnya berkisah tentang seorang perempuan bernama Alana yang sedari kecil kerap kali melihat makhluk gaib. 

Selain itu, rumah produksi Screenplay Bumilangit juga membuat film Sri Asih yang akan tayang tahun ini. Film itu menampilkan aktris Pevita Pearce sebagai pemeran tokoh Sri Asih. Ada juga bintang papan atas lainnya termasuk Christine Hakim, Surya Saputra, dan Jefri Nichol,




Editor: Syaiful Millah 
SEBELUMNYA

Selain Sri Asih, Ini Loh Daftar Komik Ciptaan RA Kosasih

BERIKUTNYA

Yuk Hilangkan Bau Perengus Daging Kambing dengan Langkah-Langkah Ini

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga: