Ilustrasi melahirkan (Sumber gambar - Unsplash - Carlo Navarro)

Kelahiran Prematur Berisiko Bisa Ganggu Kejiwaan Ortu, Kok Bisa

14 June 2022   |   15:49 WIB

Memiliki buah hati tentunya menjadi idaman hampir setiap pasangan suami istri. Itulah mengapa periode kehamilan menjadi momentum istimewa bagi para orangtua. Setiap hari, para calon orang tua dengan sabar menantikan kehadiran bayinya ke dunia. Apalagi, ketika kandungan si calon ibu telah memasuki ‘bulan tua’.

Rasa tidak sabar segera bertemu anak semakin menggebu-gebu. Namun, tahukah Anda bahwa usia kandungan saat melahirkan bisa sangat memengaruhi kondisi psikologis orangtua, baik ibu maupun ayah?

Dihimpun dari Bisnis Indonesia Weekend edisi 14 Agustus 2016, sebuah studi baru mengungkapkan, ibu yang melahirkan bayi terlalu prematur berisiko sepuluh kali lipat terserang depresi berat, dibandingkan dengan mereka yang melahirkan bayi sehat dengan usia kehamilan cukup.

Baca juga: Mitos & Fakta Seputar Air Susu Ibu, Salah Satunya Benarkah Bisa Dijadikan KB Alami?

Riset yang tercatat di JAMA Pediatrics tersebut menganalisis kesehatan psikologis pasangan orangtua yang memiliki bayi sangat prematur, alias bayi yang lahir pada usia kandungan 30 pekan atau kurang dan harus dirawat di unit perawatan intensif neonatal.

Untuk diketahui, usia kehamilan utuh normalnya bertahan hingga 40 pekan. Namun, bayi yang lahir pada usia kandungan di atas 37 pekan sudah dikategorikan aman alias full term. Sementara itu, bayi yang lahir pada usia kandungan 34-37 pekan dianggap prematur akhir.
 

Rentan mengalami depresi

Di dalam studi tersebut, ibu yang melahirkan bayi superprematur tercatat sepuluh kali lebih rentan mengalami depresi setelah melahirkan. Tidak hanya itu, ayah yang memiliki anak superprematur ternyata sebelas kali lebih rentan terserang depresi.

Kepala penelitian tersebut, Carmen Pace, dari The Royal Children’s Hospital di Melbourne, Australia menjelaskan, studinya mengindikasikan adanya kesamaan gejala guncangan kejiwaan pada orangtua dengan bayi sangat prematur pascaproses persalinan.

“Gejala depresi terdeteksi pada pekan-pekan awal setelah kelahiran bayi prematurnya. Namun, yang perlu digarisbawahi, gejala tersebut cenderung berlanjut untuk waktu yang lama dan bahkan permanen pada banyak orangtua,” katanya.
 

Penjelasan Ilmiah

Gangguan kejiwaan yang kerap menyerang pasangan orangtua dengan bayi sangat prematur sebenarnya bisa dijelaskan secara ilmiah.

Pada pekan-pekan awal setelah kelahirannya, bayi superprematur biasanya mengalami kesulitan pernafasan dan mencerna makanan. Namun, hal itu hanya tantangan tahap awal yang harus dihadapi orangtua.

Tantangan selanjutnya bergulir ke arah gangguan jangka panjang seperti masalah penglihatan, pendengaran, kemampuan kognitif, maupun problem perilaku sosial anak tersebut.

Sekadar catatan, studi tersebut melibatkan 113 ibu dan 101 ayah dengan bayi sangat prematur, serta 117 ibu dan 151 ayah dengan bayi usia kelahiran normal. Semua bayi yang diteliti lahir di Royal Women’s Hospital Melbourne antara 2011— 2013.

Pada analisis gejala segera setelah kelahiran, 40% ibu dengan bayi sangat prematur tercatat mengalami depresi. Sebaliknya, hanya 6% gejala depresi yang tercatat dari ibu yang melahirkan pada usia kandungan normal.

Di sisi lain, 36% ayah dengan bayi yang lahir sangat prematur tercatat mengalami stres berat. Sebaliknya, hanya 5% gejala stres yang tercatat pada ayah yang memiliki anak normal atau full term.

 Pada analisis tahap selanjutnya selama periode enam bulan, tingkat depresi di kalangan orangtua dengan bayi superprematur mulai berkurang. Hanya 14% ibu dan 19% ayah yang tercatat masih mengalami guncangan kejiwaan setelah satu semester kelahiran bayi prematurnya.
 

Gejala Guncangan

Adapun, pola gejala guncangan kejiwaan yang lazim dijumpai di kalangan orangtua dengan bayi prematur cenderung mirip. Mereka tercatat mengalami kecemasan (anxiety) berlebihan setelah kelahiran buah hatinya.

Sejumlah 48% ibu yang melahirkan bayi sangat prematur mengalami anxiety pascamelahirkan, dan 47% ayah dengan bayi prematur juga mengalaminya.

Sementara itu, ibu dan ayah dengan bayi normal hanya tercatat 13?n 10% yang menderita anxiety. Untuk menekan potensi gangguan kejiwaan lebih lanjut, ada beberapa hal yang mungkin bisa diperhatikan.

Misalnya saja, lingkungan dan pelayanan rumah sakit tempat kelahiran si bayi, serta rekam jejak kesehatan fisik dan mental orangtua.
 

Perlu Kajian Lebih Lanjut

Peneliti pediatrik dari University of Calgary di Kanada, Karen Benzies, berpendapat perlu ada studi lebih lanjut untuk memahami dampak emosional sebuah kelahiran, tidak hanya pada ibu tetapi juga pada ayah.

“Jangan hanya ibu yang diperhatikan kondisi kejiwaannya. Selama ini, penelitian tentang bagaimana dampak psikologis kelahiran terhadap para laki-laki masih jarang ditemui,” ujarnya.
 

Cara Antisipasi

Dia menambahkan selain depresi, dampak psikologis lainnya adalah orangtua dengan bayi sangat prematur kebanyakan akan berubah menjadi individu yang overprotektif dan terlalu waspada dalam jangka panjang.

“Untuk mengatasi dampak-dampak psikologis tersebut, orangtua yang bersangkutan disarankan untuk melakukan terapi [dengan psikiater] agar jangan sampai depresinya berpengaruh pada tumbuh kembang anak dalam jangka panjang,” tegasnya
SEBELUMNYA

Tergiur Investasi Properti, Pelajari Dahulu Data-datanya

BERIKUTNYA

Mengenal Fibrilasi Atrium, si Penyebab Stroke

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga: