Koleksi It's Time! dari merek fesyen 2Madison Avenue (Sumber gambar: Tim Muara Bagdja)

Desainer Gairahkan Lagi Industri Fesyen lewat Peragaan Busana

30 April 2022   |   10:50 WIB
Image
Luke Andaresta Jurnalis Hypeabis.id

Api semangat itu tampak nyala betul pada sorot matanya. Bagi founder sekaligus Creative Director 2Madison Avenue, Maggie Hutauruk-Eddy, tak ada waktu lagi untuk menunggu. Inilah saatnya, dia bangkit dan menunjukkan lagi eksistensinya. It’s Time!

Semangat itulah yang tampak pada koleksi It’s Time yang diluncurkan merek fesyen lokal 2Madison Avenue dalam pagelaran busana 2Madison Avenue Spring Summer Collections 2022. Sebanyak 49 set busana dipamerkan oleh para model dengan apik dan enerjik di Studio 1,2,3 Intercontinental Pondok Indah Mall Jakarta.

Koleksi It’s Time menjadi simbol spirit Maggie yang sempat merasa gamang menghadapi situasi pandemi yang sangat menantang bagi bisnis fesyennya. Hingga akhirnya dia menegaskan bahwa inilah saatnya dia bangkit dengan merilis koleksi terbarunya.

“Cukup tentukan yang terbaik versimu dan lakukan yang terbaik untuk dirimu, saya pikir itu pesan penting dari koleksi ini,” katanya.

Terbatasnya ruang gerak orang-orang ketika pandemi menginspirasi Maggie untuk membuat koleksi yang justru lebih bebas, ekspresif, ingar bingar sekaligus adaptif terhadap selera pribadi tiap pemakainya. Dia mencoba tidak membatasi koleksinya untuk kalangan tertentu saja.

Baginya, yang terpenting adalah dia bisa membuat koleksi baju yang bisa dinikmati oleh semua perempuan mulai dari remaja hingga dewasa, mereka yang mungil hingga tinggi semampai, termasuk mereka yang senang tampil seksi, edgy, hingga berhijab.

“Aku tidak mengikuti dan tidak mau didikte dengan tren fesyen yang ada. Bagiku, tren fesyen itu adalah apa yang membuat pemakainya merasa senang dan nyaman,” tuturnya.

Maggie pun mengungkapkan bahwa inspirasi untuk mendesain koleksinya kali ini adalah akumulasi dari ide yang tertahan selama kurang lebih dua tahun belakangan ini.

gg

Koleksi It's Time! dari merek fesyen 2Madison Avenue (Sumber gambar: Tim Muara Bagdja)

Begitu banyak warna yang ditawarkan dalam koleksi ini seperti hijau, aqua blue, hitam, perak, shocking pink, kuning, baby pink. Warna itu pun tampil apik pada aneka bahan yang digunakan mulai dari yang jatuh, kaku, tipis, tebal, hingga bermotif hasil digital printing.

Siluet yang disodorkan pun seolah tak bertepi mulai dari yang lurus, melebar, ketat, longgar menjelma menjadi rok lebar, celana pendek seksi, gaun ruffles, celana cutbray, rok panjang, terusan dengan lengan dengan frills, hingga busana tertutup. 

Maggie juga tak luput memasukkan kain wastra dari berbagai daerah untuk mendesain baju-bajunya pada koleksi kali ini seperti tenun Bali, tenun Makassar, ulos Batak, termasuk motif yang dibuat oleh seniman lukis asal Yogyakarta, Soni Irawan.

Kekuatan corak, warna, tekstur, struktur dan konstruksi menjadi lima hal dasar yang selalu ada di setiap koleksi 2Madison Avenue. Kelima unsur DNA inilah yang akhirnya menciptakan output koleksi baju dengan desain yang tak terbatas.

Lewat koleksi It’s Time!, Maggie ingin membuka pintu bagi mereka yang berselera tinggi untuk memadupadankan gaya. Tiap lembar busana, menurutnya,  dapat diringkas menjadi sebuah gaya yang paling mewakili diri pemakainya.

“Mereka yang jeli mode akan memanfaatkan koleksi ini untuk mendapatkan 1001 macam gaya pribadi yang paling mewakili dirinya, yang dicocokkan untuk berbagai kesempatan dan acara,” kata Maggie.

(Baca juga: Rampung Digelar, MUFFEST+ 2022 Datangkan Lebih dari 29.000 Pengunjung)
 

b

Koleksi Les Allées: A Line to Remember by Ayu Dyah Andari (Sumber gambar: Tim Muara Bagdja)

Setelah dua tahun lesu akibat pandemi Covid-19, geliat industri fesyen mulai bangkit kembali. Hal itu setidaknya ditandai dengan beberapa desainer lokal yang sudah mulai menggelar peragaan busana secara tatap muka. Sebelumnya, desainer Ayu Dyah Andari pun telah menggelar peragaan busana tunggal perdananya.

Pada koleksi terbarunya yang dipamerkan dalam peragaan busana Les Allées: A Line to Remember belum lama ini, Ayu mengatakan bahwa selama pandemi dirinya ingin lebih berani dan ekspresif. 

I need more colors in my life. Aku ingin membuat sesuatu yang segar. Ketika orang melihat, itu beda,” kata Ayu.

Jika sebelumnya Ayu lebih dikenal dengan koleksi couture yang mewah dan elegan, pada koleksinya kali ini dia juga menampilkan sederet busana yang berbeda dan lebih ekspresif. Desain penuh detail berganti menjadi rancangan busana kasual yang terwujud dalam baju-baju ready to wear.

Bukan tanpa alasan. Hal itu dilakukan Ayu sebagai bentuk penyesuaiannya terhadap dampak pandemi Covid-19 terhadap bisnis fesyennya. Semenjak pandemi, pesta-pesta menjadi urung digelar sehingga pesanan baju-baju pesta pun berkurang. Akhirnya, dia memilih untuk banyak merancang koleksi baju ready to wear. Namun, tetap dengan ciri khas desainnya.

Di tengah banyaknya persaingan merek fesyen muslim lokal, Ayu tetap percaya bahwa desainnya masih diminati oleh banyak orang. Baginya, terus berkarya menjadi kunci penting untuk terus bertahan di industri fesyen Tanah Air.

“Tidak mudah untuk selama sebelas tahun mengeluarkan karya yang terus konsisten. Aku berusaha untuk selalu konsisten mengeluarkan karya dan jujur sama identitas aku sendiri,” katanya.

Hal yang tak kalah penting adalah terus berinovasi dengan membuat koleksi yang selalu berbeda. Ayu mengatakan bahwa dirinya selalu berusaha mencari inspirasi yang berbeda di tengah tren yang ada, sehingga baju-baju rancangannya tetap diminati oleh masyarakat.

“Jadi jangan cepat merasa puas. Aku terus belajar dan berusaha mendesain produk [fesyen] yang baru,” ujar Ayu.



Editor: Roni Yunianto

SEBELUMNYA

Ini Dia 4 Alasan Kenapa Drakor 'Our Blues' Wajib Kalian Tonton

BERIKUTNYA

Mulai Tayang di Bioskop, Cek 5 Fakta Menarik Film 'Gara-Gara Warisan'

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga: