Ilustrasi mudik (Sumber gambar : Unsplash/Jacek Dylag)

Jangan Mepet! Ini Waktu yang Tepat Vaksin Covid-19 Sebelum Mudik

27 April 2022   |   17:00 WIB
Image
Desyinta Nuraini Jurnalis Hypeabis.id

Vaksinasi saat ini menjadi syarat agar masyarakat bisa mudik. Alhasil tidak sedikit yang mendatangi sentra vaksin, terutama untuk booster. Namun demikian, ternyata hal tersebut tidak efektif mencegah penularan Covid-19 di perjalanan, lho.

Spesialis paru dari Divisi Infeksi Departemen Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia dr. Erlina Burhan mengatakan memang saat ini cakupan vaksinani sudah baik, dengan booster pun memberi perlindungan lebih lagi. 

Namun demikian, booster sebaiknya dilakukan jauh hari alias jangan mepet dengan waktu mudik karena proteksinya tidak terjadi seketika. Kata Erlina butuh waktu vaksin bekerja merangsang terbentuknya antibodi. 

"Kalau vaksin pertama 2 minggu setelahnya, makanya perlu vaksin kedua. Proteksi optimal pun 2-3 minggu setelah itu baru ada. Jangan mau berangkat lusa, baru mau vaksin sekarang. Jangan sampai vaksin disalahkan jika tertular karena perlu waktu vaksin bekerja," tegasnya dalam diskusi virtual, Rabu (27/4/2022). 

Selain itu, vaksin bukan satu-satunya faktor seseorang aman dari penularan Covid-19. Protokol kesehatan tetap harus dijaga untuk menhindari pajanan dan jumlah virus yang masuk ke tubuh. 

Ya, risiko penularan Covid-19 saat mudik tetap ada, terutama yang menggunakan transportasi umum seperti bus, kereta api, kapal laut, ataupun pesawat yang terkadang membutuhkan waktu hingga berjam-jam lamanya untuk sampai di daerah tujuan.

"Bila ada satu orang terinfeksi dan tidak memakai prokes, virus akan bersirkulasi dalam kendaraan," katanya.. 

Oleh karena itu, tanggung jawab untuk menjaga prokes ketat sejatinya ada pada diri kita sendiri. Vaksinasi saja tidak cukup untuk mencegah penularan Covid-19. 

Sementara itu, Erlina menyebut ada salah kaprah tentang tolak ukur efektivitas vaksin Covid-19. Selama ini, banyak yang mengartikan bahwa tingginya antibodi yang terbentuk setelah vaksinasi menunjukkan efektivitas dari vaksin tersebut, namun kenyataannya tidak demikian. 

"Banyak faktor untuk seseorang menjadi sakit. Itu kenapa antibodi bukan prediktor terbaik," ujarnya.

Editor: Nirmala Aninda 

SEBELUMNYA

Jadi Tradisi Tiap Lebaran, Begini Asal-Usul Istilah Mudik

BERIKUTNYA

Mau Liburan? Likupang Bisa Jadi Pilihan

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga: