Daun kelor yang diolah menjadi bubuk masker (Sumber gambar: Freepik)

Melirik Potensi Cuan Kelor yang Mendunia

09 February 2022   |   21:33 WIB

Manfaat kelor untuk kesehatan semakin disadari banyak orang. Padahal tanaman yang tergolong ke dalam kelompok makanan super (superfood) ini dahulu dikaitkan dengan mistis seperti penangkal ilmu hitam, pengusir makhluk halus, hingga penghancur ilmu kebal. Masih simpan batang kelor di atas pintu agar hantu kolor hijau tidak masuk?

Mengutip Halodoc, 2 gram daun dari pohon yang memiliki nama latin Moringa oleifera ini mengandung banyak sekali nutrisi seperti karbohidrat, protein, zat besi, kalium, magnesium, vitamin C, vitamin A, kalsium, dan asam folat. Selain itu, terdapat pula serat, vitamin B, fosfor, tembaga, zink, dan selenium. Belum lagi kandungan antioksidan dalam daun kelor, salah satunya polifenol. 

Dari ragam nutrisi tersebut, daun kelor memiliki manfaat yang luar biasa bagi tubuh seperti menurunkan kadar gula darah, menfurangi peradangan atau inflamasi, menurunkan kolesterol, mencegah diabates hingga tumbuhnya sel kanker. 

“Umumnya manfaat kelor meningkatkan imunitas, detoks, dan memproduksi vitamin dan mineral yang baik untuk tubuh. Orang yang memiliki asam urat, hipertensi, dan sekarang sudah banyak penelitian kelor untuk kanker, gizi buruk, stunting, meningkatkan kecerdasan otak, ibu menyusui, penyakit jantung,” ujar pendiri Moringa Kidom, Nasrin H Mukhtar.

Ya, sadar akan kandungan nutrisi dan manfaat kelor, Nasrin tertarik untuk mengolah tumbuhan ini menjadi berbagai macam produk kesehatan dan kecantikan. Melalui Moringa Kidom, Nasrin membuat obat tradisional dalam bentuk teh bubuk, teh celup, dan akan mengembangkan kapsul juga minyak. Dia juga menciptakan produk makanan berupa kopi kelor, biskuit, dan sedang dikembangkan mi, dodol, dan camilan stik kelor. 

Tidak ketinggalan produk kosmetik seperti masker wajah dalam bentuk powder, sheet mask, sabun cair, sabun batang, dan berikutnya akan dibuat hand body, pasta gigi, serta sampo dengan bahan dasar kelor.

Adapun ide awal membuat produk berbahan dasar daun kelor tersebut  tidak lepas dari budaya masyarakat di daerah asalnya, Nusa Tenggara Barat (NTB), yang menjadikan daun maupun buah kelor sebagai teman makan sehari-hari. Masyarakat di sana biasanya membuat sayur bening dari daun dan buah kelor. 

Sayangnya, pengembangan komoditi di NTB dalam beberapa tahun terakhir menyebabkan pohon kelor banyak yang dipangkas. “Akhirnya Juni 2016 saya kembangkan budidaya kelor sebagai sumber bahan baku dari industri saya untuk melestarikan budaya leluhur,” ulas Nasrin.

Dia tidak asal membuat produk dari superfood ini. Pengalaman puluhan tahun bekerja di sebuah perusahaan jamu pun dimanfaatkan untuk terus berinovasi terhadap pohon yang disebut ajaib ini karena dari akar, daun, buah, ranting, biji, dan kulitnya dianggap memiliki manfaat yang baik untuk manusia. 

Dalam prosesnya, menjaga kualitas bahan baku agar nutrisi terjaga menjadi hal utama. Sejak 2016, Nasrin bekerja sama dan membina para petani di sekitar tempat tinggalnya untuk menghasilkan bibit unggul dan mengembangkan standar operasional prosedur (SOP) supaya perlakuan baik dari masa tanam sampai pasca panen tetap organik. 

Legalitas perusahaan dan produk baik dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), sertifikat halal, kekayaan intelektual, uji sifat, antioksidan, bahan baku, fakta nutrisi, hingga standar ekspor juga diperhatikan. 

Dengan demikian, Moringa Kidom bisa masuk pasar ekspor dan terus melebarkan sayap. Dari 14 izin ekspor yang diajukan, pada 2020, 12 izin sudah didapatkan Nasrin. Promosi melalui perwakilan negara atau diplomat digencarkan. “Kami kirimkan hampir 30 negara untuk sampel produk kita. Mudah-mudahan 2022 bisa memenuhi pasar ekspor,” harapnya.

Adapun pasar terbesar Moringa di Eropa berada Belanda. Sementara di Asia, Jepang, Taiwan, Hongkong sangat besar peluangnya. Di Timur Tengah, pihaknya sedang menggarap pasar di Dubai, Qatar, Riyadh, Turki. Tidak ketinggalan Nigeria, Kamerun, dan Kanada juga menjadi sasaran.

"2022 saya harap kami bisa lakukan pengiriman 5-10 kontainer untuk ke luar negeri,” imbuhnya.  

Sementara untuk menggarap pasar lokal, masih ada tantangan besar antropologi mengingat pasar terbesar ada di Pulau Jawa. Perlu diubah cara berpikir bahwa kelor adalah kekayaan dan kearifan lokal yang memiliki manfaat kesehatan. Tidak hanya itu, kelor juga berfungsi untuk menyerap air di musim hujan hingga lingkungan dan hutan terjaga. 

Dukungan dari pemerintah setempat pun dibutuhkan. Terutama pemerintah Provinsi NTB mengingat dalam waktu dekat ada ajang MotoGP Mandalika 2022. Setidaknya melalui perhelatan tersebut, produk kelor bisa dikenalkan kepada negara peserta dan akhirnya mendunia.

“Dunia tidak selebar daun kelor, tetapi daun kelor menyebar ke seluruh dunia,” sebut Nasrin.


Editor: Gita
SEBELUMNYA

Serial Layangan Putus Bangkitkan Kembali Konten Lokal dengan Kemasan Berbeda

BERIKUTNYA

Kabar Terbaru T.O.P BIGBANG setelah Hengkang dari YG Entertainment

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga: