Foto oleh Keira Burton dari Pexels

Bunda Wajib Tahu Gejala Parental Burnout & Cara Mengatasinya

01 February 2022   |   14:52 WIB
Image
Dewi Andriani Hypeabis.id

Burnout menjadi salah satu istilah yang cukup populer di masa pandemi. Pasalnya, saat ini banyak orang yang merasa terjebak pada rutinitasnya sehingga mengalami kelelahan secara mental sampai pada titik ingin melarikan diri dari situasi yang dihadapinya.

Burnout sendiri berbeda dengan stres. Secara umum, stres yang negatif atau dikenal dengan distress akan membuat produktivitas seseorang menurun. Ketika tidak ada intervensi dan penyelesaiannya, maka distress akan berkembang menjadi burnout.

Psikolog Tatik Imadatus Sa’adati mengatakan bahwa burnout merupakan tumpukan stres yang negatif dan tidak ditangani dengan tepat.
“Pada awalnya, burnout lebih banyak dipakai di kalangan para pekerja. Namun, seiring berjalannya waktu, istilah ini juga ada dalam dunia parenting, yakni parental burnout,” ujarnya dalam Instagram live bersama Teman Parenting.

Dia menjelaskan ada beberapa pencetus yang menyebabkan orang tua mengalami burnout, yaitu belum siap memiliki anak, tidak ada support system yang baik, dan kurang memiliki pengetahuan tentang dunia parenting.

Menurutnya, ada tiga tanda untuk mendeteksi orang tua mengalami parental burnout.
 

1. Merasa lelah secara emosional

Walaupun secara fisik terlihat biasa saja, emosi sebenarnya tidak stabil dan tidak terkendali. Beberapa ibu menganggap bahwa dia harus bisa melakukan semua hal sebagai seorang ibu. Padahal, itu termasuk dalam irrational thinking. Sebab bagaimanapun pikiran itu sifatnya terbatas, begitu pula dengan fisik maka emosi juga perlu di-charge.

“Akibatnya, para ibu kadang kala tidak sadar kalau sedang lelah,” tuturnya.

Jika kelelahan terus menumpuk, akan ada fase di mana alam bawah sadar tidak bisa lagi mengontrol pikiran dan perasaan sehingga saat emosi sudah tidak stabil, maka otak depan akan kesulitan untuk memutuskan atau menyelesaikan sesuatu secara bijak.
 

2. Bisa bersikap negatif pada orang lain

Tanda kedua seseorang mengalami parental burnout adalah merasa sinis, mudah marah, dan tersinggung. Psikolog yang akrab disapa Ima ini mengatakan bahwa burnout yang dialami orang tua tidak boleh diabaikan karena dapat berkembang menjadi bermacam-macam gangguan, di antaranya psikosomatik, depresi, gangguan kepribadian, hingga keinginan untuk menyakiti diri sendiri atau orang lain.
 

3. Menjadi overthingking

Gejala selanjutnya adalah produktivitas akan menurun atau pencapaian individu berkurang. Salah satu contohnya, orang tua jadi suka overthinking karena ingin menjadi ibu yang baik dan segalanya berjalan sempurna.

Pada saat overthingking tersebut bisa jadi dia akan menyalahkan diri sendiri. Bentuk yang paling ekstrem dari menyalahkan diri sendiri adalah melakukan self harm atau menyakiti diri sendiri.

Bahkan, bisa berkembang menjadi keinginan untuk menyakiti bayinya sebab merasa itulah yang menjadi sumber kelelahannya, lalu berujung pada menghilangkan nyawa sendiri atau nyawa sang Bayi.

CARA MENGATASI
Ima mengungkapkan, normal apabila sekali waktu ibu merasa lelah, sedih, butuh orang lain, atau ingin me time. Terbukalah dengan support system ketika membutuhkan bantuan atau atur strategi dengan pasangan, apa yang bisa dilakukan agar tidak sampai burnout.

Saat merasa burnout, yang pertama bisa dilakukan adalah rehat sejenak dari situasi tersebut. Mintalah orang lain untuk menggantikan peran ibu untuk sementara waktu dalam mengasuh si Kecil.

Kemudian, lakukan sesuatu yang pasti akan membuat ibu senang dan membuat baterai emosi kembali stabil. Misalnya, ibu merasa lebih baik ketika dipeluk oleh suami, maka jangan ragu untuk minta dipeluk suami. Terkadang, perlu juga untuk tidak melakukan apapun alias bermalas-malasan saja. Seberapa lamanya, tergantung kebutuhan sang Ibu.

Editor: Fajar Sidik
 
SEBELUMNYA

Awas! Ada 6 Pantangan saat Imlek

BERIKUTNYA

Kumpulan Puisi Sipit, dari Rasa Marah hingga Penerimaan Diri

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga: