Saat Seni, Sejarah, dan Rasa Bertemu di Tugu Kunstkring Paleis
Restoran Tugu Kunstkring Paleis Jakarta (Sumber gambar: Hypeabis.id/Robby Fathan)
Didirikan pada 1914, gedung dua lantai ini merupakan karya arsitek Pieter Adriaan Jacobus Moojen. Pada masanya, bangunan tersebut dimiliki oleh Nederlandsch Indische Kunstkring, komunitas seniman dan budayawan di Hindia Belanda.
Baca juga: Mencicipi Warna-warni Eksplorasi Rasa Lokal di Paris Baguette
Sejumlah karya dari seniman besar dunia, seperti Vincent van Gogh, Pablo Picasso, hingga Paul Gauguin, pernah dipamerkan di gedung ini. Di antara nama besar internasional itu, S. Sudjojono menjadi satu-satunya seniman pribumi yang karyanya pernah dipamerkan di sini.
Namun, seiring berkembangnya zaman, gedung ini beberapa kali beralih fungsi. Dimulai dari kantor Madjlis Islam Alaa Indonesia, kantor imigrasi, hingga sempat terbengkalai sebelum pada 2013 gedung ini dihidupkan kembali dengan nama Tugu Kunstkring Paleis oleh Tugu Group.


Restoran Tugu Kunstkring Paleis Jakarta (Sumber gambar: Hypeabis.id/Robby Fathan)
Suasana berbeda langsung terasa ketika pengunjung masuk ke dalam restoran, seakan kita tengah meninggalkan Jakarta masa kini dan berpindah ke Batavia awal abad ke-20. Atmosfer era kolonial langsung terasa dari tata ruang hingga elemen dekoratifnya yang terjaga rapi.
Di dalam, pengunjung juga akan dimanjakan dengan koleksi seni yang memperkaya karakter setiap ruangan. Karya-karya tersebut tidak sekadar pajangan, tetapi bagian dari narasi sejarah yang sengaja disajikan sebagai bagian dari pengalaman bersantap.
Salah satu karya yang paling menarik perhatian adalah lukisan kolosal berjudul The Fall of Jawa yang terpajang di Ruang Pangeran Diponegoro. Karya berukuran 9 x 4 meter tersebut menggambarkan kisah heroik Pangeran Diponegoro dalam menghadapi penjajahan.
Selain itu, beberapa ruang tematik juga disediakan, antara lain Multatuli Room, Soekarno Room, Kolonial Rijsttafel Room, serta sejumlah ruang lain yang menampilkan karakter dan narasi sejarah berbeda.
"Gedung ini awalnya bernama Bataviasche Kunstkring, dibuka pada tahun 1914 sebagai pusat seni dan pameran di Batavia. Setelah melalui berbagai fungsi dan sempat terbengkalai, Tugu Group memutuskan untuk memugar dan menghidupkannya kembali," ungkap Febby Okta, Marketing & Public Relations Tugu Hotels & Restaurants.
Tujuannya, katanya, adalah agar bangunan bersejarah ini bisa 'hidup kembali', bukan hanya menjadi bangunan tua, tapi tempat di mana masyarakat bisa menikmati kuliner sambil merasakan sejarah dan seni yang pernah berkembang di masa lalu


Tujuannya adalah agar bangunan bersejarah ini bisa 'hidup kembali' — bukan hanya menjadi bangunan tua, tapi tempat di mana masyarakat bisa menikmati kuliner sambil merasakan sejarah dan seni yang pernah berkembang di masa lalu
Siang itu, Bisnis Indonesia berkesempatan mencicipi fine dining di Ruang Pangeran Diponegoro. Hidangan dibuka dengan Prawn Sugar Cane yang disajikan sebagai appetizer. Hidangan ini tampil unik, adonan udang dibentuk menyerupai sate lilit Bali, kemudian dilekatkan pada sebuah stick.
Sajian ini tidak hanya cantik, tetapi juga aromatik dengan panggangan yang meninggalkan guratan grill marks yang menggoda. Dari segi rasa, Prawn Sugar Cane menghadirkan kombinasi gurih dan manis yang pas.
Beralih ke menu utama, ada Udang Sauce Padang. Hidangan ini hadir dengan warna merah kecokelatan, saus yang melimpah, serta aroma bumbu yang khas. Perpaduan udang segar dengan bumbu khas Padang yang pedas, gurih, dan sedikit asam menghasilkan cita rasa yang kaya.
Tingkat kepedasannya dibuat tidak terlalu tajam sehingga tetap aman dinikmati oleh pengunjung yang kurang terbiasa dengan masakan Padang yang intens. Di hidangan ini, kesegaran dan rasa manis alami udangnya menjadi sorotan utama.
Rangkaian main course berlanjut ke Ayam Afrika. Dengan potongan ayam besar, hidangan ini dipanggang hingga menghasilkan warna kecokelatan yang menarik dan menghasilkan aroma smoky yang pas. Di piring yang sama, hadir juga potongan pisang goreng kecil yang menjadi ciri khasnya.
Ayamnya lembut dengan bumbu rempah yang tidak berlebihan, sehingga rasa smokiness-nya tetap menjadi sorotan utama. Pisang goreng kecil yang disajikan sebagai pendamping memberikan kontras rasa manis-gurih yang menarik, membuat hidangan ini terasa lebih playful dan tidak monoton.
"Restoran mencoba memadukan antara seni, sejarah, dan kuliner. Pengunjung tidak hanya datang untuk bersantap, tetapi diajak untuk menikmati suasana yang membawa mereka “kembali ke masa lalu” lewat arsitektur kolonial, sentuhan budaya Jawa, dan koleksi seni yang memperkuat karakter ruangan," imbuhnya.


Tujuannya adalah agar bangunan bersejarah ini bisa 'hidup kembali' — bukan hanya menjadi bangunan tua, tapi tempat di mana masyarakat bisa menikmati kuliner sambil merasakan sejarah dan seni yang pernah berkembang di masa lalu
Jika ingin sensasi berbeda, menu lain yang cukup menonjol di restoran ini adalah Betawi Rijsttafel, sebuah hidangan lengkap warisan era kolonial Belanda yang kemudian diadaptasi dengan cita rasa Betawi. Dalam satu paket, pengunjung akan menikmati nasi uduk yang dipadukan dengan beragam lauk tradisional seperti semur lidah, bebek opor, sate, sambal khas Betawi, serta berbagai pelengkap lainnya.
Penyajiannya dibuat khas dan penuh nuansa teatrikal, dengan pelayan berbusana tempo dulu yang menyajikan hidangan secara bertahap layaknya ritual jamuan pada masa kolonial. Melalui menu ini, pengunjung tidak hanya mencicipi ragam rasa, tetapi juga merasakan pengalaman kuliner yang sarat sejarah.
Secara keseluruhan, pengalaman bersantap di Tugu Kunstkring Paleis bukan hanya soal rasa, tetapi juga suasana. Tugu Kunstkring Paleis tetap menjadi salah satu destinasi fine dining paling berkarakter di Jakarta.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)

Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.
KUMPULAN ARTIKEL LAINNYA
Menikmati House of Tugu, Destinasi Kuliner Berbalut Sejarah di Kota Tua Jakarta
26 Maret 2026
Rekomendasi Kuliner Khas di Jawa Tengah yang Wajib Dicoba Saat Mudik
17 Maret 2026
The Good Bagel: Kafe Bagel Artisan di Gading Serpong yang Viral
16 Maret 2026
Menikmati Kuliner Indonesia dalam Balutan Modern di Menteng
13 Maret 2026