Menyelami Sado, Ritual Teh Jepang yang Menyajikan Matcha Spesial

12 December 2025   |   13:20 WIB
Image
Chelsea Venda Jurnalis Hypeabis.id
Menyelami Sado, Ritual Teh Jepang yang Menyajikan Matcha Spesial

Experience Japanese Food Culture: Matcha and Sweets yang diprakarsai oleh Misi Jepang untuk ASEAN pada Selasa (10/12/2025). (Sumber gambar: Chelsea Venda/Hypeabis.id)


Di salah satu sudut ruangan gedung Sekretariat Asean, Jakarta, tampak sebuah pemandangan yang tidak biasa seperti hari lainnya. Di ruangan itu, Urasanke Indonesia tengah memperagakan Sado, upacara minum teh tradisional dari Jepang yang sangat ritualistik dan penuh makna.

Peragaan Sado ini menjadi bagian dari acara Experience Japanese Food Culture: Matcha and Sweets yang diprakarsai oleh Misi Jepang untuk Asean pada Selasa (10/12/2025). Di sini, peserta tidak hanya menonton peragaan, tetapi juga diajak menyelami proses pembuatan matcha, teh hijau bubuk yang tengah naik daun di dunia, termasuk di wilayah Asean.

Baca juga: Fenomena Matcha: Tren Global dengan Manfaat Kecantikan yang Terbukti Ilmiah

Upacara minum teh ini berlangsung dengan khidmat. Tata cara dimulai ketika tuan rumah membersihkan peralatan teh, chawan (mangkuk teh), chasen (pengocok bambu), dan chashaku (sendok bambu), dengan gerakan yang telah diwariskan selama berabad-abad. Pembersihan ini tidak sekadar prosedur kebersihan, tetapi ritual untuk menyiapkan ruang batin agar turut bersih, baik bagi penyaji maupun tamu.
 

Experience Japanese Food Culture: Matcha and Sweets yang diprakarsai oleh Misi Jepang untuk ASEAN pada Selasa (10/12/2025).  (Sumber gambar: Chelsea Venda/Hypeabis.id)

Experience Japanese Food Culture: Matcha and Sweets yang diprakarsai oleh Misi Jepang untuk ASEAN pada Selasa (10/12/2025). (Sumber gambar: Chelsea Venda/Hypeabis.id)


Setelah peralatan siap, matcha bubuk dimasukkan ke dalam chawan. Air panas dituangkan perlahan dalam takaran yang tepat, lalu chasen digerakkan dalam ritme yang pas sampai menciptakan busa lembut di permukaan. 

Setelah teh selesai dipersiapkan, penyaji akan menyerahkannya kepada tamu. Sebelum diberikan, mangkuk teh biasanya diputar terlebih dahulu. Tamu yang menerimanya pun akan kembali memutar mangkuk sedikit sebagai tanda penghormatan.

Dalam upacara teh ini, juga disajikan wagashi yang dibuat langsung oleh pengrajin ahli. Kudapan manis ini bukan sekadar pendamping teh; ia dirancang untuk menyeimbangkan rasa pahit matcha dan mencerminkan estetika tersendiri.

Biasanya, para tamu diminta menikmati wagashi terlebih dahulu sebelum mencicip matcha agar rasa keduanya berpadu harmonis. Sepanjang sesi, para peserta yang hadir tampak terhanyut dalam pengalaman tersebut.

Duta Besar Jepang untuk Asean, Yonetani Koji, menjelaskan bahwa sado adalah upacara minum teh yang memiliki nilai budaya mendalam bagi masyarakat Jepang. Di tengah popularitas teh hijau dari negerinya, matcha, yang tengah meningkat, dia pun berharap tradisi ini juga dapat dikenal lebih jauh oleh khalayak yang lebih luas.

Sebab, ritual minum teh ini punya filosofi yang begitu penting. Menurutnya, semangat sado mewakili rasa hormat kepada orang lain untuk berbagi momen damai bersama.

"Saya percaya bahwa semangat sado (chado) memiliki kesamaan dengan visi yang kita bagi bersama di Asean, yakni kontribusi pada perdamaian dan kemakmuran kawasan," ungkapnya.

 

 

 

 

Experience Japanese Food Culture: Matcha and Sweets yang diprakarsai oleh Misi Jepang untuk ASEAN pada Selasa (10/12/2025).  (Sumber gambar: Chelsea Venda/Hypeabis.id)

Experience Japanese Food Culture: Matcha and Sweets yang diprakarsai oleh Misi Jepang untuk ASEAN pada Selasa (10/12/2025). (Sumber gambar: Chelsea Venda/Hypeabis.id)

 


Yonetani menyampaikan kegembiraannya melihat matcha kini digemari di banyak negara, termasuk Indonesia. Ia menilai tren ini dapat menjadi kesempatan yang baik untuk memperkuat diplomasi budaya. Di saat yang sama, Jepang juga berharap dapat memperdalam berbagai bentuk kerja sama, seperti di bidang ekonomi maupun pariwisata—dengan negara-negara Asean.

Dia menambahkan, popularitas matcha tidak terlepas dari fleksibilitasnya dalam berbagai kreasi kuliner. Menurut Yonetani, matcha sekarang tidak hanya diminum secara tradisional, tetapi juga hadir dalam bentuk-bentuk modern seperti matcha latte, aneka kue berbahan matcha, hingga cokelat matcha.

"Tren ini mungkin berkembang seiring dengan semakin populernya kuliner Jepang," ucapnya.

Yonetani menuturkan bahwa matcha adalah komoditas yang sangat spesial dan jumlahnya terbatas. Bahkan di negara asalnya sendiri, Jepang tengah menghadapi kekurangan pasokan matcha karena tingginya permintaan dari seluruh dunia.

Dia menjelaskan bahwa pemerintah dan para pelaku industri di Jepang kini berusaha menambah jumlah produsen matcha guna memenuhi kebutuhan pasar yang terus meningkat.

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News

SEBELUMNYA

Saat Seni, Sejarah, dan Rasa Bertemu di Tugu Kunstkring Paleis

BERIKUTNYA

Review Jade River Chinese Restaurant, Pengalaman Bersantap yang Autentik

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.


Experience Japanese Food Culture: Matcha and Sweets yang diprakarsai oleh Misi Jepang untuk ASEAN pada Selasa (10/12/2025). (Sumber gambar: Chelsea Venda/Hypeabis.id)

Menyelami Sado, Ritual Teh Jepang yang Menyajikan Matcha Spesial

12 December 2025   |   13:20 WIB
Image
Chelsea Venda Jurnalis Hypeabis.id
Menyelami Sado, Ritual Teh Jepang yang Menyajikan Matcha Spesial

Experience Japanese Food Culture: Matcha and Sweets yang diprakarsai oleh Misi Jepang untuk ASEAN pada Selasa (10/12/2025). (Sumber gambar: Chelsea Venda/Hypeabis.id)


Di salah satu sudut ruangan gedung Sekretariat Asean, Jakarta, tampak sebuah pemandangan yang tidak biasa seperti hari lainnya. Di ruangan itu, Urasanke Indonesia tengah memperagakan Sado, upacara minum teh tradisional dari Jepang yang sangat ritualistik dan penuh makna.

Peragaan Sado ini menjadi bagian dari acara Experience Japanese Food Culture: Matcha and Sweets yang diprakarsai oleh Misi Jepang untuk Asean pada Selasa (10/12/2025). Di sini, peserta tidak hanya menonton peragaan, tetapi juga diajak menyelami proses pembuatan matcha, teh hijau bubuk yang tengah naik daun di dunia, termasuk di wilayah Asean.

Baca juga: Fenomena Matcha: Tren Global dengan Manfaat Kecantikan yang Terbukti Ilmiah

Upacara minum teh ini berlangsung dengan khidmat. Tata cara dimulai ketika tuan rumah membersihkan peralatan teh, chawan (mangkuk teh), chasen (pengocok bambu), dan chashaku (sendok bambu), dengan gerakan yang telah diwariskan selama berabad-abad. Pembersihan ini tidak sekadar prosedur kebersihan, tetapi ritual untuk menyiapkan ruang batin agar turut bersih, baik bagi penyaji maupun tamu.
 

Experience Japanese Food Culture: Matcha and Sweets yang diprakarsai oleh Misi Jepang untuk ASEAN pada Selasa (10/12/2025).  (Sumber gambar: Chelsea Venda/Hypeabis.id)

Experience Japanese Food Culture: Matcha and Sweets yang diprakarsai oleh Misi Jepang untuk ASEAN pada Selasa (10/12/2025). (Sumber gambar: Chelsea Venda/Hypeabis.id)


Setelah peralatan siap, matcha bubuk dimasukkan ke dalam chawan. Air panas dituangkan perlahan dalam takaran yang tepat, lalu chasen digerakkan dalam ritme yang pas sampai menciptakan busa lembut di permukaan. 

Setelah teh selesai dipersiapkan, penyaji akan menyerahkannya kepada tamu. Sebelum diberikan, mangkuk teh biasanya diputar terlebih dahulu. Tamu yang menerimanya pun akan kembali memutar mangkuk sedikit sebagai tanda penghormatan.

Dalam upacara teh ini, juga disajikan wagashi yang dibuat langsung oleh pengrajin ahli. Kudapan manis ini bukan sekadar pendamping teh; ia dirancang untuk menyeimbangkan rasa pahit matcha dan mencerminkan estetika tersendiri.

Biasanya, para tamu diminta menikmati wagashi terlebih dahulu sebelum mencicip matcha agar rasa keduanya berpadu harmonis. Sepanjang sesi, para peserta yang hadir tampak terhanyut dalam pengalaman tersebut.

Duta Besar Jepang untuk Asean, Yonetani Koji, menjelaskan bahwa sado adalah upacara minum teh yang memiliki nilai budaya mendalam bagi masyarakat Jepang. Di tengah popularitas teh hijau dari negerinya, matcha, yang tengah meningkat, dia pun berharap tradisi ini juga dapat dikenal lebih jauh oleh khalayak yang lebih luas.

Sebab, ritual minum teh ini punya filosofi yang begitu penting. Menurutnya, semangat sado mewakili rasa hormat kepada orang lain untuk berbagi momen damai bersama.

"Saya percaya bahwa semangat sado (chado) memiliki kesamaan dengan visi yang kita bagi bersama di Asean, yakni kontribusi pada perdamaian dan kemakmuran kawasan," ungkapnya.

 

 

 

 

Experience Japanese Food Culture: Matcha and Sweets yang diprakarsai oleh Misi Jepang untuk ASEAN pada Selasa (10/12/2025).  (Sumber gambar: Chelsea Venda/Hypeabis.id)

Experience Japanese Food Culture: Matcha and Sweets yang diprakarsai oleh Misi Jepang untuk ASEAN pada Selasa (10/12/2025). (Sumber gambar: Chelsea Venda/Hypeabis.id)

 


Yonetani menyampaikan kegembiraannya melihat matcha kini digemari di banyak negara, termasuk Indonesia. Ia menilai tren ini dapat menjadi kesempatan yang baik untuk memperkuat diplomasi budaya. Di saat yang sama, Jepang juga berharap dapat memperdalam berbagai bentuk kerja sama, seperti di bidang ekonomi maupun pariwisata—dengan negara-negara Asean.

Dia menambahkan, popularitas matcha tidak terlepas dari fleksibilitasnya dalam berbagai kreasi kuliner. Menurut Yonetani, matcha sekarang tidak hanya diminum secara tradisional, tetapi juga hadir dalam bentuk-bentuk modern seperti matcha latte, aneka kue berbahan matcha, hingga cokelat matcha.

"Tren ini mungkin berkembang seiring dengan semakin populernya kuliner Jepang," ucapnya.

Yonetani menuturkan bahwa matcha adalah komoditas yang sangat spesial dan jumlahnya terbatas. Bahkan di negara asalnya sendiri, Jepang tengah menghadapi kekurangan pasokan matcha karena tingginya permintaan dari seluruh dunia.

Dia menjelaskan bahwa pemerintah dan para pelaku industri di Jepang kini berusaha menambah jumlah produsen matcha guna memenuhi kebutuhan pasar yang terus meningkat.

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News

SEBELUMNYA

Saat Seni, Sejarah, dan Rasa Bertemu di Tugu Kunstkring Paleis

BERIKUTNYA

Review Jade River Chinese Restaurant, Pengalaman Bersantap yang Autentik

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.