Cerita Para Kreator Kuliner TikTok, Menyatukan Rasa dan Budaya lewat Makanan
07 October 2025 |
15:49 WIB
Kreator kuliner Sania Jeny Versari (Sumber Foto: TikTok Indonesia)
Menonton video kuliner di TikTok menjadi hiburan ringan yang tak terpisahkan dari keseharian. Bagi sebagian orang, tak lengkap rasanya kalau bersantap tanpa menggulir video makanan yang muncul di FYP (For You Page). Rasanya seolah bisa ikut mencicipi setiap suapan yang muncul di layar, mulai dari menikmati aroma, tekstur, sampai kelezatannya.
Video kuliner juga banyak digemari, lantaran bisa menjadi sumber inspirasi untuk mencari makanan baru yang tak itu-itu saja. Dari jajanan pasar, makanan tradisional, hingga restoran modern, TikTok menghadirkan ragam rasa yang seolah bisa dijelajahi tanpa harus beranjak dari layar ponsel.
Baca juga: Kreator Muda Jadi Kunci Promosi UMKM dan Pariwisata Lokal
“Secara organik, makanan memang tidak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Di TikTok, ada banyak jenis konten seputar kuliner mulai dari ulasan makanan, hidden gem, hingga berbagai resep,” kata Christopher Junaidi, Client Partnerships Solution Manager TikTok Indonesia, dalam acara Media Briefing TikTok Food Fest 2025, Selasa (7/20/2025).
Makanan adalah topik universal yang mampu menyentuh hampir semua lapisan masyarakat. Menurutnya, hal ini telah membentuk ekosistem kreatif yang besar. Sistem rekomendasi konten di TikTok, atau yang sering disebut FYP, mempertemukan kreator kuliner, pelaku usaha, dan penikmat makanan.
"Uniknya, untuk bisa muncul di FYP, seseorang tidak perlu memiliki pengikut banyak atau bisnis besar. Yang terpenting adalah konten yang relevan dan menarik,” jelasnya.
Fenomena tersebut tampak nyata ketika konten sederhana seperti video warung rumahan bisa mendadak viral dan mengubah nasib pelaku usaha. Kreator dan UMKM saling bertumbuh di TikTok. Satu video yang autentik dan jujur bisa menjadi titik balik bagi pertumbuhan bisnis kecil.
Christopher menambahkan bahwa TikTok berkomitmen untuk terus mengembangkan ekosistem ini agar kreator dan pelaku usaha dapat tumbuh bersama. Diharapan paltform tersebut bisa menjadi sarana bagi UMKM kuliner untuk menjangkau audiens yang tepat, karena seperti kita tahu, sektor kuliner adalah tulang punggung UMKM Indonesia.
Bukan hanya sekadar cicip makanan dan jelajah warung makan, mereka menjadi representasi nyata dari bagaimana konten makanan dapat menyentuh sisi personal sekaligus sosial.
Bagi Sania, semuanya berawal dari momen sederhana. Dia kerap membagikan konten-konten video mukbang yang memperlihatkan dirinya sedang makan dengan lahap. Videonya banyak disukai orang-orang yang merasa penasaran dengan kelezatan makanan yang sedang dicicipi Sania.
"Awalnya aku suka upload konten makan karena memang ingin menambah berat badan, lalu tiba-tiba videonya viral, akhirnya aku coba berbagai makanan dan jadi explore banyak kuliner," katanya.
Konten Sania banyak menampilkan ragam kuliner Nusantara. Salah satunya, melibatkan usaha keluarganya sendiri yakni dendengmamaku.id.
“Itu usaha mama aku. Awalnya aku cuma bantu videoin produk dendeng mamaku, eh ternyata trending. Jadi sekalian promosi juga buat usaha keluarga,” lanjutnya.
Cerita serupa datang dari Kim dan Dea, pasangan suami istri asal Korea Selatan dan Indonesia. Mereka kerap membuat video kuliner yang menyoroti beragam jajanan alias street food lokal.
“Kami mulai aktif di TikTok sekitar tiga-empat tahun lalu. Awalnya karena saya suka jajan, dan suami saya orang Korea. Jadi setiap jajan, saya memperkenalkan makanan Indonesia ke dia. Reaksinya lucu banget, jadi saya rekam,” kata Dea.
Dea melihat ada pedagang kaki lima lewat di depan rumahnya menjual jasuke atau jagung susu keju. Dia lalu merekam suaminya, Kim saat membeli dan berbincang dengan penjualnya. Tanpa disangka, video sederhana itu justru menarik banyak perhatian.
Saat diunggah ke TikTok, tayangannya tembus hingga 20 juta penonton. Setelah itu, Dea membuat kompilasi berjudul “Om Kim jajan depan rumah” yang sekarang telah ditonton lebih dari 50 juta kali.
“Sebenarnya saya cuma suka makan dan jajan saja. Awalnya enggak sengaja, cuma direkam. Tapi tiba-tiba banyak yang nonton, sampai jutaan view,” tambah Kim.
Bagi mereka, kuliner bukan hanya soal rasa, tetapi juga jembatan budaya. Makanan menjadi medium yang mempertemukan dua budaya berbeda, menghadirkan hiburan sekaligus cara baru untuk saling memahami melalui cita rasa.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Video kuliner juga banyak digemari, lantaran bisa menjadi sumber inspirasi untuk mencari makanan baru yang tak itu-itu saja. Dari jajanan pasar, makanan tradisional, hingga restoran modern, TikTok menghadirkan ragam rasa yang seolah bisa dijelajahi tanpa harus beranjak dari layar ponsel.
Baca juga: Kreator Muda Jadi Kunci Promosi UMKM dan Pariwisata Lokal
“Secara organik, makanan memang tidak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Di TikTok, ada banyak jenis konten seputar kuliner mulai dari ulasan makanan, hidden gem, hingga berbagai resep,” kata Christopher Junaidi, Client Partnerships Solution Manager TikTok Indonesia, dalam acara Media Briefing TikTok Food Fest 2025, Selasa (7/20/2025).
Makanan adalah topik universal yang mampu menyentuh hampir semua lapisan masyarakat. Menurutnya, hal ini telah membentuk ekosistem kreatif yang besar. Sistem rekomendasi konten di TikTok, atau yang sering disebut FYP, mempertemukan kreator kuliner, pelaku usaha, dan penikmat makanan.
"Uniknya, untuk bisa muncul di FYP, seseorang tidak perlu memiliki pengikut banyak atau bisnis besar. Yang terpenting adalah konten yang relevan dan menarik,” jelasnya.
Fenomena tersebut tampak nyata ketika konten sederhana seperti video warung rumahan bisa mendadak viral dan mengubah nasib pelaku usaha. Kreator dan UMKM saling bertumbuh di TikTok. Satu video yang autentik dan jujur bisa menjadi titik balik bagi pertumbuhan bisnis kecil.
Christopher menambahkan bahwa TikTok berkomitmen untuk terus mengembangkan ekosistem ini agar kreator dan pelaku usaha dapat tumbuh bersama. Diharapan paltform tersebut bisa menjadi sarana bagi UMKM kuliner untuk menjangkau audiens yang tepat, karena seperti kita tahu, sektor kuliner adalah tulang punggung UMKM Indonesia.
Cerita para Kreator Kuliner TikTok, Lebih dari Sekadar Cicip Makanan
Nama-nama dan wajah familiar yang kerap muncul di FYP TikTok, yakni Sania Jeny Versari dengan akun @versansss, Kim dan Dea dengan akun @kimdea, membagikan cerita awal mulanya mereka bisa menjadi konten kreator kuliner.Bukan hanya sekadar cicip makanan dan jelajah warung makan, mereka menjadi representasi nyata dari bagaimana konten makanan dapat menyentuh sisi personal sekaligus sosial.
Bagi Sania, semuanya berawal dari momen sederhana. Dia kerap membagikan konten-konten video mukbang yang memperlihatkan dirinya sedang makan dengan lahap. Videonya banyak disukai orang-orang yang merasa penasaran dengan kelezatan makanan yang sedang dicicipi Sania.
@versansss mam pagi sore pake + @dendengmamaku.id lagiii #versansss ? original sound - sans
Konten Sania banyak menampilkan ragam kuliner Nusantara. Salah satunya, melibatkan usaha keluarganya sendiri yakni dendengmamaku.id.
“Itu usaha mama aku. Awalnya aku cuma bantu videoin produk dendeng mamaku, eh ternyata trending. Jadi sekalian promosi juga buat usaha keluarga,” lanjutnya.
Cerita serupa datang dari Kim dan Dea, pasangan suami istri asal Korea Selatan dan Indonesia. Mereka kerap membuat video kuliner yang menyoroti beragam jajanan alias street food lokal.
“Kami mulai aktif di TikTok sekitar tiga-empat tahun lalu. Awalnya karena saya suka jajan, dan suami saya orang Korea. Jadi setiap jajan, saya memperkenalkan makanan Indonesia ke dia. Reaksinya lucu banget, jadi saya rekam,” kata Dea.
@kimdea Omkim gak suka nongkrong di mall sukanya nongkrong di balkon #omkimdandea #koreanindonesiancouple ? Cooking BGM (Japanese style) - ArcTracks
Dea melihat ada pedagang kaki lima lewat di depan rumahnya menjual jasuke atau jagung susu keju. Dia lalu merekam suaminya, Kim saat membeli dan berbincang dengan penjualnya. Tanpa disangka, video sederhana itu justru menarik banyak perhatian.
Saat diunggah ke TikTok, tayangannya tembus hingga 20 juta penonton. Setelah itu, Dea membuat kompilasi berjudul “Om Kim jajan depan rumah” yang sekarang telah ditonton lebih dari 50 juta kali.
“Sebenarnya saya cuma suka makan dan jajan saja. Awalnya enggak sengaja, cuma direkam. Tapi tiba-tiba banyak yang nonton, sampai jutaan view,” tambah Kim.
Bagi mereka, kuliner bukan hanya soal rasa, tetapi juga jembatan budaya. Makanan menjadi medium yang mempertemukan dua budaya berbeda, menghadirkan hiburan sekaligus cara baru untuk saling memahami melalui cita rasa.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)

Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.
KUMPULAN ARTIKEL LAINNYA
Menikmati House of Tugu, Destinasi Kuliner Berbalut Sejarah di Kota Tua Jakarta
26 Maret 2026
Rekomendasi Kuliner Khas di Jawa Tengah yang Wajib Dicoba Saat Mudik
17 Maret 2026
The Good Bagel: Kafe Bagel Artisan di Gading Serpong yang Viral
16 Maret 2026
Menikmati Kuliner Indonesia dalam Balutan Modern di Menteng
13 Maret 2026