Toosi Coffee dari Bali Sukses Tembus Pasar Dubai

16 August 2025   |   12:00 WIB
Image
Kintan Nabila Jurnalis Hypeabis.id
Toosi Coffee dari Bali Sukses Tembus Pasar Dubai

Toosi Coffee. (Sumber foto: Hypeabis.id/Robby Fathan)


Berawal dari sebidang kebun kopi keluarganya di Bali, Ayu Puryasanthi tak pernah menyangka hobinya mengolah biji kopi akan berkembang menjadi bisnis besar yang bisa memasok puluhan kedai kopi, hotel, dan ritel modern. Melalui Toosi Coffee, dia meracik cita rasa kopi khas Bali yang khas dan harum.

Ayu Puryasanthi, pemilik Toosi Coffee, memaparkan nama Toosi Coffee memiliki makna khusus yang merupakan singkatan dari The Only One Source of Inspiration. Filosofi tersebut terinspirasi dari pengalaman minum kopi yang bisa menghilangkan kantuk dan membuat pikiran kembali segar sehingga bisa memunculkan ide-ide baru.

Baca juga: Resep Nenek Antar Bisnis MV Cookies Naik Kelas

"Kami berdiri sejak 2016, awalnya dari kebun keluarga di Bali," kata Ayu saat ditemui di Pertamina SMEXPO. Toosi Coffee berlokasi di JI. Kecubung Gg. Nagasari No.7, Denpasar Timur. Perusahaan ini memproduksi kopi Bali Plagadari perkebunan yang merupakan daerah penghasil kopi arabika terbaik. 

Awalnya, sistem produksi dilakukan secara sederhana. Ayu dan keluarganya memanen biji kopi dari kebun sendiri, kemudian memprosesnya langsung setelah panen. Minat sang anak untuk mendalami dunia kopi mendorong Ayu membeli mesin roasting kecil berkapasitas satu kilogram, yang menjadi awal langkah mereka memasuki bisnis kopi secara serius. 

“Dari situ kami mulai mencari lokasi untuk membuka kedai kopi pertama di Jalan Pantai Berawa, Canggu untuk memperkenalkan cita rasa kopi hasil kebun keluarga kepada pasar yang lebih luas.” tuturnya.

Kini kegiatan produksinya menggunakan mesin-mesin modern dengan memberdayakan petani dan masyarakat setempat. Dari proses panen, setelah proses panen, sampai proses penyangraian dilakukan menggunakan treatment khusus sehingga menghasilkan kopi terbaik. 
 

Ayu Puryasanthi, pemilik Toosi Coffee. (Sumber foto: Hypeabis.id/Robby Fathan)

Ayu Puryasanthi, pemilik Toosi Coffee. (Sumber foto: Hypeabis.id/Robby Fathan)

Setelah biji kopi matang dan dipetik dalam kondisi merah sempurna, biji tersebut dikupas menggunakan mesin dry huller berkapasitas 1-5 ton per hari. Keunikan Toosi Coffee terletak pada proses fermentasi honey process, yang dilakukan untuk menonjolkan kandungan asam malat. Proses ini menghasilkan cita rasa buah-buahan dengan sentuhan manis dan asam yang seimbang pada kopi.

Berbeda dengan honey process, pada full washed process biji kopi diproses menggunakan air bersih untuk memastikan tidak ada sisa daging buah yang menempel. Cara ini membantu memaksimalkan pembentukan asam sitrat alami, sehingga menghasilkan cita rasa khas kopi Bali yang segar menyerupai buah jeruk.

Setelah melalui proses fermentasi, biji kopi dijemur di tempat penjemuran khusus agar tidak bersentuhan langsung dengan tanah dan terkena sinar matahari penuh selama 1-2 hari. Setelah itu, kopi dipindahkan ke rumah penjemuran untuk mendapatkan panas yang stabil dan konsisten.

Jika biji kopi sudah kering, tahap berikutnya adalah pengupasan untuk menghilangkan kulit tanduk (parchment). Setelah dikupas, kopi melewati proses grading untuk memisahkan kualitasnya. Proses ini menghasilkan empat tingkatan, yaitu specialty grade, Grade 1, Grade 2, dan Grade 3. Masing-masing grade memiliki karakter rasa yang berbeda dan memengaruhi nilai jualnya.

Produk Toosi Coffe dijual di pasar offline, seperti jaringan minimarket dana ritel area Denpasar dan Badung. Selain itu, juga tersedia secara online melalui e-commerce Tokopedia, Shopee, dan juga dapat memesan langsung melalui Whatsapp, dan Media Sosial untuk memudahkan pelanggan di seluruh daerah Indonesia.

Meski pasar kopi semakin kompetitif, Ayu memilih fokus meningkatkan kualitas dan kuantitas produksi kopinya. Kapasitas produksi pasca panen bisa menghasilkan hingga 1.000 ton green bean per tahun. Sementara untuk roastery, kapasitasnya sekitar 1.000 kilogram per bulan, baik dalam bentuk roast beans maupun bubuk kopi.

Targetnya dalam waktu dekat ini adalah memperluas produksi dengan membangun rumah produksi yang lebih besar dan mesin roasting berkapasitas 25 kilogram. Namun, saat ini mereka baru memiliki tiga unit mesin roasting. Satu unit berkapasitas lima kilogram dan dua unit berkapasitas satu kilogram. Mesin-mesin tersebut kini mulai kewalahan memenuhi permintaan.
 

Toosi Coffee memasok biji kopi ke berbagai hotel, vila, dan restoran di kawasan Ubud, Nusa Dua, dan Canggu. Jangkauan pemasarannya kini meluas hingga ke luar Bali, mencakup kota-kota seperti Surabaya, Solo, dan Yogyakarta. Selain itu, mereka juga memasok green beans ke berbagai roastery dan bahkan pernah melakukan ekspor ke Dubai pada 2016.

“Sekarang permintaan dari hotel saja hampir 300 kilogram per bulan. Belum lagi dari puluhan coffee shop langganan kami,” ungkapnya.

Perjalanan panjang bisnis Toosi Coffee mendapat dorongan signifikan ketika Ayu mengikuti pembinaan dari Dinas UMKM. Dari program tersebut, dia mendapatkan akses untuk terhubung dengan Rumah BUMN binaan Pertamina. Dari sanalah dia mendapatkan sejumlah dukungan dan fasilitas mulai dari permodalan, perizinan, sertifikasi halal, sampai pemasaran.

“Manfaatnya besar sekali, mulai dari modal sampai pemasaran,” kata Ayu.

Toosi Coffee merupakan salah satu mitra binaan Pertamina dan didukung penuh untuk terus berkembang hingga menembus pasar global.

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News) 

SEBELUMNYA

Arti Warna Segel pada Kemasan Roti Tawar

BERIKUTNYA

Dari Gunungkidul, Cokelat Premium Java Criollo Mendunia

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.


Toosi Coffee. (Sumber foto: Hypeabis.id/Robby Fathan)

Toosi Coffee dari Bali Sukses Tembus Pasar Dubai

16 August 2025   |   12:00 WIB
Image
Kintan Nabila Jurnalis Hypeabis.id
Toosi Coffee dari Bali Sukses Tembus Pasar Dubai

Toosi Coffee. (Sumber foto: Hypeabis.id/Robby Fathan)


Berawal dari sebidang kebun kopi keluarganya di Bali, Ayu Puryasanthi tak pernah menyangka hobinya mengolah biji kopi akan berkembang menjadi bisnis besar yang bisa memasok puluhan kedai kopi, hotel, dan ritel modern. Melalui Toosi Coffee, dia meracik cita rasa kopi khas Bali yang khas dan harum.

Ayu Puryasanthi, pemilik Toosi Coffee, memaparkan nama Toosi Coffee memiliki makna khusus yang merupakan singkatan dari The Only One Source of Inspiration. Filosofi tersebut terinspirasi dari pengalaman minum kopi yang bisa menghilangkan kantuk dan membuat pikiran kembali segar sehingga bisa memunculkan ide-ide baru.

Baca juga: Resep Nenek Antar Bisnis MV Cookies Naik Kelas

"Kami berdiri sejak 2016, awalnya dari kebun keluarga di Bali," kata Ayu saat ditemui di Pertamina SMEXPO. Toosi Coffee berlokasi di JI. Kecubung Gg. Nagasari No.7, Denpasar Timur. Perusahaan ini memproduksi kopi Bali Plagadari perkebunan yang merupakan daerah penghasil kopi arabika terbaik. 

Awalnya, sistem produksi dilakukan secara sederhana. Ayu dan keluarganya memanen biji kopi dari kebun sendiri, kemudian memprosesnya langsung setelah panen. Minat sang anak untuk mendalami dunia kopi mendorong Ayu membeli mesin roasting kecil berkapasitas satu kilogram, yang menjadi awal langkah mereka memasuki bisnis kopi secara serius. 

“Dari situ kami mulai mencari lokasi untuk membuka kedai kopi pertama di Jalan Pantai Berawa, Canggu untuk memperkenalkan cita rasa kopi hasil kebun keluarga kepada pasar yang lebih luas.” tuturnya.

Kini kegiatan produksinya menggunakan mesin-mesin modern dengan memberdayakan petani dan masyarakat setempat. Dari proses panen, setelah proses panen, sampai proses penyangraian dilakukan menggunakan treatment khusus sehingga menghasilkan kopi terbaik. 
 

Ayu Puryasanthi, pemilik Toosi Coffee. (Sumber foto: Hypeabis.id/Robby Fathan)

Ayu Puryasanthi, pemilik Toosi Coffee. (Sumber foto: Hypeabis.id/Robby Fathan)

Setelah biji kopi matang dan dipetik dalam kondisi merah sempurna, biji tersebut dikupas menggunakan mesin dry huller berkapasitas 1-5 ton per hari. Keunikan Toosi Coffee terletak pada proses fermentasi honey process, yang dilakukan untuk menonjolkan kandungan asam malat. Proses ini menghasilkan cita rasa buah-buahan dengan sentuhan manis dan asam yang seimbang pada kopi.

Berbeda dengan honey process, pada full washed process biji kopi diproses menggunakan air bersih untuk memastikan tidak ada sisa daging buah yang menempel. Cara ini membantu memaksimalkan pembentukan asam sitrat alami, sehingga menghasilkan cita rasa khas kopi Bali yang segar menyerupai buah jeruk.

Setelah melalui proses fermentasi, biji kopi dijemur di tempat penjemuran khusus agar tidak bersentuhan langsung dengan tanah dan terkena sinar matahari penuh selama 1-2 hari. Setelah itu, kopi dipindahkan ke rumah penjemuran untuk mendapatkan panas yang stabil dan konsisten.

Jika biji kopi sudah kering, tahap berikutnya adalah pengupasan untuk menghilangkan kulit tanduk (parchment). Setelah dikupas, kopi melewati proses grading untuk memisahkan kualitasnya. Proses ini menghasilkan empat tingkatan, yaitu specialty grade, Grade 1, Grade 2, dan Grade 3. Masing-masing grade memiliki karakter rasa yang berbeda dan memengaruhi nilai jualnya.

Produk Toosi Coffe dijual di pasar offline, seperti jaringan minimarket dana ritel area Denpasar dan Badung. Selain itu, juga tersedia secara online melalui e-commerce Tokopedia, Shopee, dan juga dapat memesan langsung melalui Whatsapp, dan Media Sosial untuk memudahkan pelanggan di seluruh daerah Indonesia.

Meski pasar kopi semakin kompetitif, Ayu memilih fokus meningkatkan kualitas dan kuantitas produksi kopinya. Kapasitas produksi pasca panen bisa menghasilkan hingga 1.000 ton green bean per tahun. Sementara untuk roastery, kapasitasnya sekitar 1.000 kilogram per bulan, baik dalam bentuk roast beans maupun bubuk kopi.

Targetnya dalam waktu dekat ini adalah memperluas produksi dengan membangun rumah produksi yang lebih besar dan mesin roasting berkapasitas 25 kilogram. Namun, saat ini mereka baru memiliki tiga unit mesin roasting. Satu unit berkapasitas lima kilogram dan dua unit berkapasitas satu kilogram. Mesin-mesin tersebut kini mulai kewalahan memenuhi permintaan.
 

Toosi Coffee memasok biji kopi ke berbagai hotel, vila, dan restoran di kawasan Ubud, Nusa Dua, dan Canggu. Jangkauan pemasarannya kini meluas hingga ke luar Bali, mencakup kota-kota seperti Surabaya, Solo, dan Yogyakarta. Selain itu, mereka juga memasok green beans ke berbagai roastery dan bahkan pernah melakukan ekspor ke Dubai pada 2016.

“Sekarang permintaan dari hotel saja hampir 300 kilogram per bulan. Belum lagi dari puluhan coffee shop langganan kami,” ungkapnya.

Perjalanan panjang bisnis Toosi Coffee mendapat dorongan signifikan ketika Ayu mengikuti pembinaan dari Dinas UMKM. Dari program tersebut, dia mendapatkan akses untuk terhubung dengan Rumah BUMN binaan Pertamina. Dari sanalah dia mendapatkan sejumlah dukungan dan fasilitas mulai dari permodalan, perizinan, sertifikasi halal, sampai pemasaran.

“Manfaatnya besar sekali, mulai dari modal sampai pemasaran,” kata Ayu.

Toosi Coffee merupakan salah satu mitra binaan Pertamina dan didukung penuh untuk terus berkembang hingga menembus pasar global.

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News) 

SEBELUMNYA

Arti Warna Segel pada Kemasan Roti Tawar

BERIKUTNYA

Dari Gunungkidul, Cokelat Premium Java Criollo Mendunia

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.