7 Kiat Mengonsumsi Sushi & Sashimi yang Aman

02 February 2025   |   16:30 WIB
Image
Luke Andaresta Jurnalis Hypeabis.id
7 Kiat Mengonsumsi Sushi & Sashimi yang Aman

Ilustrasi sushi. (Sumber gambar: Rajesh Tp/Pexels)


Sushi dan sashimi adalah hidangan Jepang lezat yang digemari banyak orang. Ciri khas dari hidangan ini adalah mengandalkan kesegaran ikan atau makanan laut mentah, yang dipadukan dengan bumbu seperti kecap asin (shoyu) dan wasabi.

Tekstur yang lembut dan halus dari ikan mentah pada sushi dan sashimi menjadi daya tarik sendiri bagi penikmatnya. Namun, mengonsumsi bahan makanan mentah dapat menimbulkan risiko seperti keracunan makanan. Pasalnya, sushi atau sashimi yang terbuat dari ikan mentah dapat mengandung beberapa risiko seperti parasit, bakteri, virus, hingga cacing pita. 

Baca juga: Sensasi Hidangan Oriental khas Jepang di Shima Japanese Restaurant, Mulai Ramen hingga Sashimi

Bagi banyak orang sehat, makan ikan atau seafood mentah dalam jumlah wajar mungkin bisa menimbulkan risiko kesehatan kecil. Tetapi, tidak menutup kemungkinan untuk dapat menyebabkan penyakit yang berasal dari makanan, seperti muntah, diare, sakit perut, dan gejala lainnya.

Oleh karena itu, penting untuk memahami cara mengonsumsi sushi dan sashimi dengan aman. Berikut adalah informasi lengkapnya.


1. Pilih restoran yang tepat

Langkah pertama yang harus dilakukan adalah memilih restoran sushi atau sashimi dengan reputasi baik dan chef terlatih. Melansir dari UPMC Health Beat, tempat makan dengan reputasi baik akan mematuhi standar kebersihan yang ketat, melatih staf dalam hal keamanan pangan, serta menyediakan bahan-bahan berkualitas tinggi. Termasuk, hanya akan mempekerjakan juru masak yang telah terlatih seperti koki sushi. 

Oleh karena itu, sebelum mengunjungi sebuah restoran, penting untuk memeriksa profil restoran, ulasan pelanggan, hingga sertifikat keamanan restoran (seperti sertifikat halal, kesehatan, dan sebagainya). Hindari makan sushi atau sashimi di restoran yang kurang proporsional dan tidak bereputasi baik, untuk terhindar dari kualitas makanan yang buruk.
 

h

Ilustrasi sashimi. (Sumber gambar: Valeriya/Pexels)

2. Pilih ikan segar

Kesegaran ikan yang digunakan dalam sushi dan sashimi sangat penting untuk mengurangi risiko penyakit bawaan makanan. Mengutip dari We Chu, makanan laut yang digunakan untuk membuat sushi atau sashimi harus diberi label makanan laut bermutu sushi atau sashimi.

Ikan yang dikonsumsi mentah harus dibekukan pada suhu -20°C (-4°F) selama 7 hari atau -35°C (-31°F) selama 15 jam. Proses ini akan menghancurkan parasit apa pun dalam ikan sehingga lebih aman untuk dikonsumsi, meskipun tetap ada risikonya. 

Idealnya, spesies ikan yang digunakan untuk sushi atau sashimi harus hidup di perairan dingin dan dalam, atau di daerah yang jauh dari parasit ikan. Dikutip dari The Food Untold, tuna dianggap sebagai salah satu dari sedikit spesies ikan yang cukup aman untuk dikonsumsi mentah, bahkan dengan pengolahan minimal. Hal ini karena tuna sangat tahan terhadap parasit. Ini termasuk tuna mata besar, bonito, tuna sirip kuning, albacore, tuna sirip biru, dan cakalang.


3. Perhatikan jenis ikan

Berbagai jenis ikan memiliki tingkat risiko yang berbeda-beda jika dikonsumsi mentah. Ikan yang umum digunakan, seperti tuna dan salmon, biasanya lebih aman karena standar industri yang ketat dalam penanganan dan persiapannya.

Sementara itu, ikan yang kurang umum seperti makarel, todak, atau ikan buntal dapat menimbulkan risiko tambahan jika dikonsumsi mentah, termasuk terpapar parasit atau racun. Pilihlah jenis ikan yang sudah umum digunakan untuk sushi dan sashimi, untuk meminimalkan risiko, terutama jika ingin membuat sushi atau sashimi sendiri.


4. Pastikan ikan disajikan dengan tepat

Menukil dari Canadian Institute of Food Safety, menyiapkan hidangan sushi atau sashimi memerlukan kehati-hatian dan perhatian yang cermat. Jika tidak, ikan mentah akan terkontaminasi yang menyebabkan penyakit bawaan makanan.

Pastikan ikan disiapkan dengan kondisi tangan yang bersih, kondisi chef yang sehat, serta peralatan seperti talenan, piring, dan pisau yang telah disanitasi baik sebelum maupun sesudah proses penyajian. Jika perlu, tanyakan tentang cara penyajian ikan kepada staf restoran yang dikunjungi untuk memastikan keamanannya.
 

Ilustrasi sashimi. (Sumber gambar: Pexels)

Ilustrasi sashimi. (Sumber gambar: Pexels)

5. Waspadai kontaminasi silang

Kontaminasi silang dapat terjadi saat ikan mentah bersentuhan dengan makanan lain, peralatan, atau permukaan yang tidak dibersihkan dengan benar. Ini adalah penyebab umum penyakit bawaan makanan dalam konsumsi sushi dan sashimi.

Pastikan restoran yang kalian kunjungi menggunakan talenan dan pisau terpisah untuk makanan mentah dan matang guna menghindari perpindahan bakteri berbahaya antar hidangan. Termasuk, tidak mencuci ikan di wastafel yang rentan terpapar bakteri dari permukaan sekitarnya.

Kontaminasi silang juga dapat terjadi selama proses penyimpanan jika makanan laut mentah tidak dipisahkan dari bahan lain. Praktik penyimpanan dan protokol keamanan pangan yang tepat adalah kunci untuk meminimalkan risiko ini. 
 

Ilustrasi sushi. (Sumber gambar: Marta Filipczyk/Unsplash)

Ilustrasi sushi. (Sumber gambar: Marta Filipczyk/Unsplash)

6. Perhatikan respons tubuh

Setelah mengonsumsi sushi atau sashimi, perhatikan baik-baik apa yang kalian rasakan. Tanda-tanda awal keracunan makanan akibat ikan yang terkontaminasi dapat meliputi mual, kram perut, muntah, dan diare.

Gejala dapat muncul dalam beberapa jam setelah mengonsumsinya, dan penting untuk mencari pertolongan medis jika menduga mengalami keracunan makanan. Dalam beberapa kasus, infeksi parasit memerlukan waktu lebih lama untuk menimbulkan gejala.

Selain itu, sebagian kelompok juga disarankan untuk mengonsumsi sushi atau sashimi. Mengutip dari Cleveland Clinic, beberapa kelompok itu termasuk orang hamil, anak-anak kecil atau orang dewasa yang lebih tua yang mungkin memiliki sistem kekebalan tubuh yang lebih lemah, serta orang dengan penyakit kekebalan tubuh atau mereka yang mengonsumsi obat penekan kekebalan tubuh.


7. Nikmati secukupnya

Disarankan untuk mengonsumsi sushi dan sashimi secukupnya dan tidak berlebihan. Mengonsumsi ikan mentah dalam jumlah besar secara teratur meningkatkan paparan terhadap kontaminan, termasuk logam berat seperti merkuri, yang dapat terakumulasi pada jenis ikan tertentu seperti tuna dan ikan todak.

Membatasi asupan ikan-ikan ini dapat mengurangi paparan jangka panjang terhadap merkuri dan zat berbahaya lainnya. Selain itu, mengonsumsi sushi secukupnya juga memungkinkan sistem pencernaan pulih di antara waktu makan. Tubuh mungkin memerlukan waktu untuk memproses ikan mentah, dan memakannya terlalu sering dapat membebani pencernaan.

Dengan menyeimbangkan asupan, kalian tidak hanya melindungi diri dari potensi keracunan makanan tetapi juga menjaga pola makan yang lebih sehat secara keseluruhan.

Baca juga: Resep Sashimi Batak Naniura ala Chef Damar Toba

Editor: Dika Irawan

SEBELUMNYA

5 Perbedaan Antara Hibachi Grill dan Teppanyaki

BERIKUTNYA

Menikmati Kekayaan Gastronomi Indonesia di Amanaia

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.


Ilustrasi sushi. (Sumber gambar: Rajesh Tp/Pexels)

7 Kiat Mengonsumsi Sushi & Sashimi yang Aman

02 February 2025   |   16:30 WIB
Image
Luke Andaresta Jurnalis Hypeabis.id
7 Kiat Mengonsumsi Sushi & Sashimi yang Aman

Ilustrasi sushi. (Sumber gambar: Rajesh Tp/Pexels)


Sushi dan sashimi adalah hidangan Jepang lezat yang digemari banyak orang. Ciri khas dari hidangan ini adalah mengandalkan kesegaran ikan atau makanan laut mentah, yang dipadukan dengan bumbu seperti kecap asin (shoyu) dan wasabi.

Tekstur yang lembut dan halus dari ikan mentah pada sushi dan sashimi menjadi daya tarik sendiri bagi penikmatnya. Namun, mengonsumsi bahan makanan mentah dapat menimbulkan risiko seperti keracunan makanan. Pasalnya, sushi atau sashimi yang terbuat dari ikan mentah dapat mengandung beberapa risiko seperti parasit, bakteri, virus, hingga cacing pita. 

Baca juga: Sensasi Hidangan Oriental khas Jepang di Shima Japanese Restaurant, Mulai Ramen hingga Sashimi

Bagi banyak orang sehat, makan ikan atau seafood mentah dalam jumlah wajar mungkin bisa menimbulkan risiko kesehatan kecil. Tetapi, tidak menutup kemungkinan untuk dapat menyebabkan penyakit yang berasal dari makanan, seperti muntah, diare, sakit perut, dan gejala lainnya.

Oleh karena itu, penting untuk memahami cara mengonsumsi sushi dan sashimi dengan aman. Berikut adalah informasi lengkapnya.


1. Pilih restoran yang tepat

Langkah pertama yang harus dilakukan adalah memilih restoran sushi atau sashimi dengan reputasi baik dan chef terlatih. Melansir dari UPMC Health Beat, tempat makan dengan reputasi baik akan mematuhi standar kebersihan yang ketat, melatih staf dalam hal keamanan pangan, serta menyediakan bahan-bahan berkualitas tinggi. Termasuk, hanya akan mempekerjakan juru masak yang telah terlatih seperti koki sushi. 

Oleh karena itu, sebelum mengunjungi sebuah restoran, penting untuk memeriksa profil restoran, ulasan pelanggan, hingga sertifikat keamanan restoran (seperti sertifikat halal, kesehatan, dan sebagainya). Hindari makan sushi atau sashimi di restoran yang kurang proporsional dan tidak bereputasi baik, untuk terhindar dari kualitas makanan yang buruk.
 

h

Ilustrasi sashimi. (Sumber gambar: Valeriya/Pexels)

2. Pilih ikan segar

Kesegaran ikan yang digunakan dalam sushi dan sashimi sangat penting untuk mengurangi risiko penyakit bawaan makanan. Mengutip dari We Chu, makanan laut yang digunakan untuk membuat sushi atau sashimi harus diberi label makanan laut bermutu sushi atau sashimi.

Ikan yang dikonsumsi mentah harus dibekukan pada suhu -20°C (-4°F) selama 7 hari atau -35°C (-31°F) selama 15 jam. Proses ini akan menghancurkan parasit apa pun dalam ikan sehingga lebih aman untuk dikonsumsi, meskipun tetap ada risikonya. 

Idealnya, spesies ikan yang digunakan untuk sushi atau sashimi harus hidup di perairan dingin dan dalam, atau di daerah yang jauh dari parasit ikan. Dikutip dari The Food Untold, tuna dianggap sebagai salah satu dari sedikit spesies ikan yang cukup aman untuk dikonsumsi mentah, bahkan dengan pengolahan minimal. Hal ini karena tuna sangat tahan terhadap parasit. Ini termasuk tuna mata besar, bonito, tuna sirip kuning, albacore, tuna sirip biru, dan cakalang.


3. Perhatikan jenis ikan

Berbagai jenis ikan memiliki tingkat risiko yang berbeda-beda jika dikonsumsi mentah. Ikan yang umum digunakan, seperti tuna dan salmon, biasanya lebih aman karena standar industri yang ketat dalam penanganan dan persiapannya.

Sementara itu, ikan yang kurang umum seperti makarel, todak, atau ikan buntal dapat menimbulkan risiko tambahan jika dikonsumsi mentah, termasuk terpapar parasit atau racun. Pilihlah jenis ikan yang sudah umum digunakan untuk sushi dan sashimi, untuk meminimalkan risiko, terutama jika ingin membuat sushi atau sashimi sendiri.


4. Pastikan ikan disajikan dengan tepat

Menukil dari Canadian Institute of Food Safety, menyiapkan hidangan sushi atau sashimi memerlukan kehati-hatian dan perhatian yang cermat. Jika tidak, ikan mentah akan terkontaminasi yang menyebabkan penyakit bawaan makanan.

Pastikan ikan disiapkan dengan kondisi tangan yang bersih, kondisi chef yang sehat, serta peralatan seperti talenan, piring, dan pisau yang telah disanitasi baik sebelum maupun sesudah proses penyajian. Jika perlu, tanyakan tentang cara penyajian ikan kepada staf restoran yang dikunjungi untuk memastikan keamanannya.
 

Ilustrasi sashimi. (Sumber gambar: Pexels)

Ilustrasi sashimi. (Sumber gambar: Pexels)

5. Waspadai kontaminasi silang

Kontaminasi silang dapat terjadi saat ikan mentah bersentuhan dengan makanan lain, peralatan, atau permukaan yang tidak dibersihkan dengan benar. Ini adalah penyebab umum penyakit bawaan makanan dalam konsumsi sushi dan sashimi.

Pastikan restoran yang kalian kunjungi menggunakan talenan dan pisau terpisah untuk makanan mentah dan matang guna menghindari perpindahan bakteri berbahaya antar hidangan. Termasuk, tidak mencuci ikan di wastafel yang rentan terpapar bakteri dari permukaan sekitarnya.

Kontaminasi silang juga dapat terjadi selama proses penyimpanan jika makanan laut mentah tidak dipisahkan dari bahan lain. Praktik penyimpanan dan protokol keamanan pangan yang tepat adalah kunci untuk meminimalkan risiko ini. 
 

Ilustrasi sushi. (Sumber gambar: Marta Filipczyk/Unsplash)

Ilustrasi sushi. (Sumber gambar: Marta Filipczyk/Unsplash)

6. Perhatikan respons tubuh

Setelah mengonsumsi sushi atau sashimi, perhatikan baik-baik apa yang kalian rasakan. Tanda-tanda awal keracunan makanan akibat ikan yang terkontaminasi dapat meliputi mual, kram perut, muntah, dan diare.

Gejala dapat muncul dalam beberapa jam setelah mengonsumsinya, dan penting untuk mencari pertolongan medis jika menduga mengalami keracunan makanan. Dalam beberapa kasus, infeksi parasit memerlukan waktu lebih lama untuk menimbulkan gejala.

Selain itu, sebagian kelompok juga disarankan untuk mengonsumsi sushi atau sashimi. Mengutip dari Cleveland Clinic, beberapa kelompok itu termasuk orang hamil, anak-anak kecil atau orang dewasa yang lebih tua yang mungkin memiliki sistem kekebalan tubuh yang lebih lemah, serta orang dengan penyakit kekebalan tubuh atau mereka yang mengonsumsi obat penekan kekebalan tubuh.


7. Nikmati secukupnya

Disarankan untuk mengonsumsi sushi dan sashimi secukupnya dan tidak berlebihan. Mengonsumsi ikan mentah dalam jumlah besar secara teratur meningkatkan paparan terhadap kontaminan, termasuk logam berat seperti merkuri, yang dapat terakumulasi pada jenis ikan tertentu seperti tuna dan ikan todak.

Membatasi asupan ikan-ikan ini dapat mengurangi paparan jangka panjang terhadap merkuri dan zat berbahaya lainnya. Selain itu, mengonsumsi sushi secukupnya juga memungkinkan sistem pencernaan pulih di antara waktu makan. Tubuh mungkin memerlukan waktu untuk memproses ikan mentah, dan memakannya terlalu sering dapat membebani pencernaan.

Dengan menyeimbangkan asupan, kalian tidak hanya melindungi diri dari potensi keracunan makanan tetapi juga menjaga pola makan yang lebih sehat secara keseluruhan.

Baca juga: Resep Sashimi Batak Naniura ala Chef Damar Toba

Editor: Dika Irawan

SEBELUMNYA

5 Perbedaan Antara Hibachi Grill dan Teppanyaki

BERIKUTNYA

Menikmati Kekayaan Gastronomi Indonesia di Amanaia

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.