Ari Lasso (dok. Instagram Ari Lasso)

Kenali Risiko dan Gejala Limfoma, Kanker yang Menyerang Ari Lasso

17 November 2021   |   14:18 WIB
Image
Desyinta Nuraini Jurnalis Hypeabis.id

Ada yang berbeda dari tampilan penyanyi Ari Lasso. Dia hadir dengan kepala pelontos setelah sekian puluh tahun selalu tampil dengan rambut gondrong. Kondisi ini tidak lepas dari pengobatan yang dijalani pelantun lagu Hampa itu saat berjuang melawan kanker limfoma stadium 2. 

Ya, pada awal September lalu, Ari Lasso mengumumkan dia mengidap kanker Diffuse Large B-Cell Lymphoma(DLBCL). Mengutip Lymphoma.org, jenis limfoma non-Hodgkin (NHL) ini terbilang agresif (tumbuh cepat) yang mempengaruhi limfosit B. Limfosit adalah salah satu jenis sel darah putih. Sel B adalah limfosit yang membuat antibodi untuk melawan infeksi dan merupakan bagian penting dari sistem limfatik.

Meskipun dapat terjadi pada masa kanak-kanak, kejadian DLBCL umumnya meningkat seiring bertambahnya usia, dan sebagian besar pasien berusia di atas 60 tahun saat diagnosis.

DLBCL dapat berkembang di kelenjar getah bening atau di situs ekstranodal (area di luar kelenjar getah bening) seperti saluran pencernaan, testis, tiroid, kulit, payudara, tulang, otak, atau pada dasarnya setiap organ tubuh. 

Kanker ini biasanya terlokalisasi (di satu tempat) atau umum (menyebar ke seluruh tubuh). Meskipun limfoma agresif, DLBCL dianggap berpotensi dapat disembuhkan.

Sementara itu, mengutip Indonesia Cancer Care Community, terdapat beberapa faktor yang meningkatkan risiko seseorang terkena limfoma. Pertama adalah usia. Limfoma non-Hodgkin sering ditemukan pada usia di atas 55 tahun, sementara jenis limfoma lainnya dijumpai pada dewasa muda. 

Kedua, jenis kelamin. Pria lebih berisiko mengalami kanker ini dibandingkan wanita. Ketiga, adanya gangguan sistem imun. Limfoma lebih sering dijumpai pada orang dengan penyakit sistem imun atau orang yang mengkonsumsi obat yang menekan sistem imun.

Keempat, mengalami infeksi tertentu. Infeksi yang dikaitkan dengan risiko limfoma misalnya virus Epstein-Barr dan Helicobacter pylori (menyebabkan infeksi pada lambung). Kelima, terpajan dengan radiasi dalam kadar yang tinggi dan bahan-bahan kimia herbisida dan insektisida (untuk membunuh tanaman pengganggu dan serangga) meningkatkan risiko limfoma non-Hodgkin.

Keenam adanya riwayat dalam keluarga. Jika ada limfoma Hodgkin pada keluarga, risiko limfoma Hodgkin lebih tinggi. Ketujuh, iImplan payudara, ini dikaitkan dengan limfoma sel besar anaplastik dalam jaringan payudara.
 
Adapun gejala dari limfoma menyerupai beberapa penyakit infeksi virus, misalnya common cold. Namun, umumnya berlanjut selama beberapa waktu. Beberapa orang tidak mengalami gejala apapun. 

Gejala yang dapat dijumpai antara lain pembengkakan pada kelenjar getah bening yang sering terjadi pada daerah leher, selangkangan, perut, atau ketiak serta sering tidak terasa nyeri, sering demam tanpa infeksi, berkeringat pada malam hari dan menggigil, penurunan berat badan dan nafsu makan, gatal, merasa lelah. 

Nyeri, kelemahan, kelumpuhan, atau perubahan sensasi dapat terjadi jika pembesaran kelenjar getah bening menekan saraf tulang belakang atau sumsum tulang.

Editor: Fajar Sidik

SEBELUMNYA

Simak Rute dan Jadwal Shuttle Bus Gratis ke GIIAS 2021 di ICE BSD

BERIKUTNYA

Ed Sheeran Bakal Tampil di Mnet Asian Music Awards 2021

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga: