Ilustrasi seseorang menyemprotkan parfum di sekitar leher (Foto: Freepik)

Sering Semprot Parfum di Sekitar Leher? Ini Risiko yang Perlu Diketahui

24 March 2026   |   13:57 WIB
Image
Muhammad Shohibul Izar Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Menyemprotkan parfum langsung ke leher memang umum dilakukan karena dianggap membuat aroma lebih tahan lama, namun di balik kebiasaan ini terdapat sejumlah risiko kesehatan yang sering luput dari perhatian.

Berdasarkan penjelasan para dokter dan ahli kesehatan yang dikutip dari berbagai media dan sejumlah literatur kesehatan, penggunaan parfum di area leher pada dasarnya aman bagi individu sehat, tetapi tetap memiliki potensi efek samping jika dilakukan terus-menerus.

Baca juga: 5 Tips Pakai Parfum agar Wanginya Lebih Awet Sepanjang Hari

Dampak yang muncul bisa beragam, mulai dari iritasi ringan hingga potensi gangguan hormonal dalam jangka panjang, tergantung pada kondisi kulit dan seberapa sering parfum digunakan. Karena itu, para ahli menekankan pentingnya mengenali jenis kulit serta memahami kandungan dalam parfum sebelum mengaplikasikannya langsung ke tubuh.


Kulit Leher: Area Paling Rentan untuk Aplikasi Parfum

Dokter Spesialis Dermatologi, Venereologi, dan Estetika di IHC RS Wonolangan Probolinggo, dr. Anindia Indraswari, menjelaskan bahwa kulit leher cenderung lebih tipis dibandingkan bagian tubuh lain. Kondisi ini membuatnya lebih sensitif terhadap paparan bahan kimia. Dikutip dari berbagai sumber, zat seperti alkohol dan pewangi sintetis dalam parfum berpotensi memicu reaksi pada kulit, terutama jika digunakan berulang.

Sejalan dengan itu, konsultan dermatologi dari Aakash Healthcare India, dr. Meenu Malik, menyebut sebagian besar parfum komersial mengandung etanol dalam kadar tinggi. Ia menjelaskan bahwa meski zat ini membantu penyebaran aroma, sifatnya yang mudah menguap justru bisa mengganggu lapisan pelindung alami kulit atau skin barrier, terutama di area yang lebih tipis seperti leher.


Risiko Iritasi dan Reaksi Alergi

Berbagai sumber menyebut, efek samping yang paling sering terjadi adalah iritasi kulit. Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto, dr. Citra Primanita, Sp.DV, menyebut kondisi seperti dermatitis kontak iritan, dermatitis alergi, hingga reaksi fotoalergi cukup umum ditemukan. Ia menegaskan bahwa risiko ini lebih sering terjadi dibandingkan gangguan hormonal.

Pendapat serupa disampaikan oleh dokter dari Universitas Jenderal Soedirman, Ismiralda Oke Putranti. Dikutip dari berbagai laporan, ia menjelaskan bahwa reaksi alergi tidak selalu muncul seketika. Dalam beberapa kasus, gejala baru terlihat setelah penggunaan berulang, mulai dari kemerahan hingga perubahan warna kulit.


Penuaan Dini: Poikiloderma of Civatte

Paparan parfum secara terus-menerus di area leher juga dapat memicu kondisi yang lebih serius. Salah satunya adalah Poikiloderma of Civatte, yang ditandai dengan perubahan warna kulit menjadi kemerahan atau kecokelatan disertai tekstur yang tampak lebih tipis dan keriput.

Menurut sejumlah informasi kesehatan, kombinasi antara bahan kimia dalam parfum dan paparan sinar matahari mempercepat proses penuaan kulit. Selain itu, beberapa kandungan seperti minyak bergamot juga dapat memicu fotosensitivitas.

Dari reaksi tersebut juga bisa menyebabkan munculnya bercak gelap atau terang yang sulit dihilangkan. Dalam jangka panjang, kondisi tersebut tidak hanya berdampak pada kesehatan kulit, tetapi juga pada aspek estetika.


Gangguan Kelenjar Tiroid dan Hormon

Selain masalah kulit, risiko lain yang mulai mendapat perhatian adalah potensi gangguan hormonal. Pakar dari IPB University, Dr. Agil Wahyu Wicaksono, dalam keterangan yang beredar menjelaskan bahwa parfum umumnya mengandung bahan seperti phthalates, paraben, dan triclosan yang termasuk endocrine disrupting chemicals (EDC).

Ia menyebutkan bahwa secara anatomi, leher berada dekat dengan kelenjar tiroid dan memiliki lapisan kulit yang relatif tipis. Paparan berulang di area ini, menurutnya, secara teoritis dapat meningkatkan kemungkinan efek lokal maupun sistemik, meski tidak terjadi secara instan.

Senada dengan itu, ahli gizi Manpreet Kalra yang dikutip dari Times of India menyebut paparan rutin pada area leher dapat meningkatkan risiko ketidakseimbangan hormon. Meski begitu, para ahli menegaskan bahwa risiko ini lebih tinggi pada kelompok tertentu, seperti perempuan hamil, anak-anak, dan individu dengan gangguan hormonal sebelumnya.


Rekomendasi Penggunaan Parfum yang Aman

Untuk mengurangi risiko, para ahli menyarankan agar parfum tidak disemprotkan langsung ke kulit, terutama di area sensitif seperti leher. Alternatif yang lebih aman adalah menyemprotkan parfum pada pakaian atau titik tubuh yang tidak mudah terpapar sinar matahari.

Beberapa titik semprot yang dianggap lebih aman antara lain pergelangan tangan, belakang telinga, atau lipatan siku. Ada juga metode menyemprotkan parfum ke sisir sebelum digunakan pada rambut untuk efek aroma yang lebih lembut.


Pertolongan Pertama Jika Terjadi Iritasi

Jika muncul tanda iritasi setelah penggunaan parfum, langkah pertama adalah menghentikan pemakaian di area tersebut. Kulit sebaiknya segera dibersihkan dengan air dan sabun lembut untuk menghilangkan sisa parfum.

Untuk gejala ringan, kondisi biasanya bisa diredakan dengan penggunaan emolien atau bahan alami seperti aloe vera. Namun, jika keluhan memburuk, misalnya muncul gatal hebat, kemerahan yang meluas, atau lepuh, sebaiknya segera berkonsultasi dengan dokter spesialis kulit untuk mendapatkan penanganan yang tepat. 

Baca juga: Perfume Pop Market Vol. 2 Kembali, Hadirkan Ratusan Brand Parfum Lokal di Jakarta

SEBELUMNYA

Olivia Rodrigo Beri Bocoran untuk Album Terbarunya yang Bakal Dipenuhi Lagu Cinta Sedih

BERIKUTNYA

Finis Ketiga di Moto3 Brasil 2026, Veda Ega Pratama Bawa Indonesia Raih Podium Perdana

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga