Ilustrasi kepedulian kanker. (Sumber gambar: Angiola Harry/Unsplash).

Kisah Neneng Herbawati, Survivor yang Mampu Berdamai & Bertahan Melawan Kanker

12 March 2026   |   15:53 WIB
Image
Desyinta Nuraini Jurnalis Hypeabis.id

Diagnosis kanker kerap menjadi titik balik yang mengguncang hidup seseorang, memaksa perubahan besar pada tubuh, pikiran, dan cara memandang masa depan. Bagi para penyintas, perjuangan tidak berhenti di ruang operasi atau ruang terapi, melainkan berlanjut dalam disiplin menjalani pengobatan, mengelola ketakutan, serta membangun kembali harapan hingga kanker tak lagi mendikte arah hidup mereka.

Seperti yang terungkap dalam kisah Neneng Herbawati, sosok praktisi konsultan komunikasi di Jakarta. Semula, benjolan kecil di bawah ketiak kiri itu nyaris tak terasa. Tidak sakit, tak mengganggu aktivitas. Namun, dari sanalah perjalanan panjang hidupnya sebagai pejuang kanker payudara bermula. 

Benjolan yang diamatinya terus membesar menghantarkan langkah Neneng untuk memeriksakan diri ke dokter. Dokter pun mulai menyebut kata yang paling ditakuti banyak orang, yaitu kanker. Alih-alih panik, Neneng justru meminta waktu. Tiga bulan dia gunakan untuk menyiapkan mental, keluarga, dan pekerjaannya. “Saya ingin datang ke meja operasi dalam kondisi siap,” ujarnya. 

Baca juga: Perluas Akses Skrining Kanker Serviks Melalui Teknologi AI

Bagi Neneng, kesiapan mental sama pentingnya dengan tindakan medis. Keputusan besar datang menjelang operasi. Dokter anestesi menyampaikan kemungkinan pengangkatan payudara jika hasil biopsi menunjukkan kanker yang agresif.  Tanpa sempat berdiskusi panjang dengan keluarga, Neneng menyerahkan keputusan sepenuhnya kepada dokter. Dia mengaku tipe pasien yang nurut keputusan dokter jika memang hal tersebut baik untuk dirinya. 

Hasil biopsi lanjutan menyatakan Neneng mengidap kanker payudara stadium dua dengan pertumbuhan cepat. Payudara kirinya diangkat untuk mencegah penyebaran ke kelenjar getah bening dan organ lain. 

Keputusan yang bagi banyak perempuan terasa berat, justru diterima Neneng dengan tenang. Baginya, esensi hidup jauh melampaui soal kebutuhan fisik.

Selepas operasi, perjuangan belum usai. Radioterapi selama 36 kali tanpa jeda harus dijalani. Setiap hari dia datang ke rumah sakit, menghadapi rasa panas seperti luka bakar di dada, pantangan berkeringat, hingga larangan menggunakan salep. 

Keluarga hadir penuh, mengantar dan menjemputnya setiap hari. “Dukungan keluarga itu krusial. Orang sakit, apalagi kanker, tidak boleh merasa sendirian,” tuturnya.

Neneng Herbawati. (Sumber gambar: istimewa)

Pengobatan hormon menjadi bab berikutnya. Selama lima tahun, Neneng disiplin minum obat pada jam yang sama setiap hari. Alarm di ponsel suami dan anak-anak menjadi pengingat bersama. Kontrol rutin, tes darah, mamografi, dan USG dijalani tanpa kompromi. 


“Modalnya disiplin. Alhamdulillah ini sudah mau tahun ke 8, kan di operasinya di 2018. Alhamdulillah tuh bersih, karena saya rajin kontrol,” tuturnya. 

Disiplin itu juga berlaku pada gaya hidup. Neneng mematuhi pantangan makanan, menjauhi daging tertentu, makanan berpengawet, dan pangan yang berpotensi karsinogenik. Dia rutin mengkonsumsi brokoli, buah naga, dan menjaga pola tidur. Lebih dari itu, dia belajar mengelola stres, musuh utama yang disebut dokter bisa mengaktifkan kembali sel kanker.

Perubahan besar justru terjadi pada cara dia memandang hidup. Neneng yang dulu perfeksionis, terbiasa mengerjakan segalanya sendiri, mulai melepaskan banyak hal. Dia membagi tanggung jawab rumah tangga, menurunkan ekspektasi terhadap orang lain, dan berhenti memendam emosi. “Semua harus dirilis. Kalau dipendam, stresnya balik ke badan,” ujarnya.

Bagi Neneng, kanker bukan musuh yang harus terus diperangi, melainkan “teman” yang mengajarkannya berdamai dengan diri sendiri. Dia memilih optimisme sebagai sikap hidup. Tak ada ruang untuk merasa cacat atau kalah. Dia tetap bekerja, tetap aktif, dan justru melihat tantangan sebagai peluang.

Kini, perannya bergeser. Dari pasien menjadi penguat bagi sesama pejuang kanker. Dia aktif di komunitas, berbagi pengalaman, dan mendorong pasien lain untuk patuh pada pengobatan medis. Neneng tegas menolak pengobatan alternatif sebagai jalan utama. Pengalamannya melihat pasien yang terlambat ditangani menjadi alasan kuat untuk terus mengedukasi.

Pesannya sederhana namun tegas, yakni jangan panik saat didiagnosis, patuhi dokter, disiplin menjalani terapi, dan jaga pola hidup. Untuk yang sehat, dia mengingatkan pentingnya pencegahan sejak dini dengan mengelola stres, menghindari makanan berisiko, serta rutin melakukan pemeriksaan.

Delapan tahun setelah operasi, hasil kontrol terakhir menunjukkan semuanya bersih. Neneng yang kini berusia tepat 60 tahun saat bercerita, berada pada fase survivor, fase di mana rasa takut berganti dengan ketenangan.
 

SEBELUMNYA

Rekomendasi AC yang Punya Fitur Kesehatan Hingga AI

BERIKUTNYA

Film Biopik Bon Jovi Dikembangkan oleh Universal Pictures

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga