Dimsum Mentai Nyoy Jaksel, Bisnis Rumahan Mahasiswi yang Raup Omzet Jutaan
06 March 2026 |
17:14 WIB
Libur kuliah selama dua bulan yang terasa membosankan justru membawa keberuntungan bagi Fajria Andini Zulfa. Dari iseng mencoba membuat dimsum mentai di rumah, mahasiswi yang akrab disapa Zulfa itu kini berhasil menjalankan bisnis kuliner rumahan dengan omzet jutaan rupiah setiap kali membuka pre-order.
Bernama Dimsum Mentai Nyoy Jaksel, usaha ini berdiri sejak Agustus 2024. Zulfa menjelaskan alasannya berani membuka usaha tersebut. “Yang pertama itu karena aku pecinta banget dimsum mentai. Yang kedua, overall Gen Z itu paling suka juga sama dimsum, dan lagi viral banget waktu itu sampai sekarang juga sih,” ujarnya.
Keputusan memulai usaha itu datang secara tak terduga. Saat berlibur kuliah selama dua bulan, ia merasa jenuh karena tidak memiliki pemasukan tambahan. Sehari sebelum memutuskan berbisnis, ia mencicipi dimsum mentai bersama orang tua dan sepupunya di Bojong Gede setelah melihat unggahan Instagram kakak tingkatnya.
“Pas lagi makan, ibu bilang, Kenapa nggak coba bikin aja, bisa lebih hemat. Kalau enak bisa dijual juga. Nah, di situ hati kecil ini kepikiran,” kenangnya.
Beberapa hari kemudian, Zulfa mencoba mencari resep dimsum mentai dan membuatnya sendiri di rumah. Meski belum mahir melipat dimsum, ia tetap percaya diri. Ia bahkan membeli torch dan gas portabel untuk membakar mentai agar tampilannya maksimal. Setelah mendapat persetujuan dari kedua orang tuanya dan keluarga besar, ia mulai berani menawarkan produknya ke teman-teman kampus.
Setelah teman-temannya mencoba dimsum buatannya, respons positif berdatangan. Ia pun membuka open PO melalui Instagram dan WhatsApp. Pada 12 September 2024, bertepatan dengan ulang tahunnya, ia menggelar promo khusus yang dibanjiri pesanan. Bahkan, satu kantor kini menjadi pelanggan tetap.
Seluruh proses produksi dilakukan sendiri, mulai dari racikan bumbu, adonan, membentuk dimsum, membuat mentai hingga chilli oil. Saat pesanan membludak, ia dibantu sang bunda dan sahabatnya, Habibah Najwa.
“Kalau buat adonan, mentai, sampai torch itu aku sendiri. Bunda bantu bentuk dimsum, temenku bantu masukin mentainya,” jelasnya.
Zulfa menjelaskan bahwa sistem produksi dibuat berdasarkan pesanan agar tetap segar. Ia pernah memproduksi hingga 300 pieces untuk pesanan kantor, dan sekitar 100 pieces untuk pesanan teman kampus.
Meski sempat menghadapi tantangan seperti pesanan mendadak hingga adonan ayam 3 kilogram yang terpaksa dibuang karena basi, Fajria tetap bersyukur.
“Awalnya kupikir namanya Gen Z buka bisnis paling nggak bertahan lama karena ikut-ikutan. Ternyata sebelum buka PO aja udah banyak yang nanya kapan buka lagi. Itu seneng banget,” tuturnya.
Kini, varian dimsum mentai miliknya dilengkapi chilli oil yang menjadi favorit pelanggan. Dengan pemasaran online dan offline yang berjalan seimbang, ia berharap usahanya terus berkembang. Baginya, dukungan orang tua dan keluarga menjadi kunci utama.
“Semoga suatu hari nanti bisnis kecil ini bisa punya tempat sendiri, nggak cuma pre-order, dan mungkin masuk platform online seperti GoFood,” harapnya.
Bernama Dimsum Mentai Nyoy Jaksel, usaha ini berdiri sejak Agustus 2024. Zulfa menjelaskan alasannya berani membuka usaha tersebut. “Yang pertama itu karena aku pecinta banget dimsum mentai. Yang kedua, overall Gen Z itu paling suka juga sama dimsum, dan lagi viral banget waktu itu sampai sekarang juga sih,” ujarnya.
Keputusan memulai usaha itu datang secara tak terduga. Saat berlibur kuliah selama dua bulan, ia merasa jenuh karena tidak memiliki pemasukan tambahan. Sehari sebelum memutuskan berbisnis, ia mencicipi dimsum mentai bersama orang tua dan sepupunya di Bojong Gede setelah melihat unggahan Instagram kakak tingkatnya.
“Pas lagi makan, ibu bilang, Kenapa nggak coba bikin aja, bisa lebih hemat. Kalau enak bisa dijual juga. Nah, di situ hati kecil ini kepikiran,” kenangnya.
Beberapa hari kemudian, Zulfa mencoba mencari resep dimsum mentai dan membuatnya sendiri di rumah. Meski belum mahir melipat dimsum, ia tetap percaya diri. Ia bahkan membeli torch dan gas portabel untuk membakar mentai agar tampilannya maksimal. Setelah mendapat persetujuan dari kedua orang tuanya dan keluarga besar, ia mulai berani menawarkan produknya ke teman-teman kampus.
Setelah teman-temannya mencoba dimsum buatannya, respons positif berdatangan. Ia pun membuka open PO melalui Instagram dan WhatsApp. Pada 12 September 2024, bertepatan dengan ulang tahunnya, ia menggelar promo khusus yang dibanjiri pesanan. Bahkan, satu kantor kini menjadi pelanggan tetap.
Seluruh proses produksi dilakukan sendiri, mulai dari racikan bumbu, adonan, membentuk dimsum, membuat mentai hingga chilli oil. Saat pesanan membludak, ia dibantu sang bunda dan sahabatnya, Habibah Najwa.
“Kalau buat adonan, mentai, sampai torch itu aku sendiri. Bunda bantu bentuk dimsum, temenku bantu masukin mentainya,” jelasnya.
Zulfa menjelaskan bahwa sistem produksi dibuat berdasarkan pesanan agar tetap segar. Ia pernah memproduksi hingga 300 pieces untuk pesanan kantor, dan sekitar 100 pieces untuk pesanan teman kampus.
Meski sempat menghadapi tantangan seperti pesanan mendadak hingga adonan ayam 3 kilogram yang terpaksa dibuang karena basi, Fajria tetap bersyukur.
“Awalnya kupikir namanya Gen Z buka bisnis paling nggak bertahan lama karena ikut-ikutan. Ternyata sebelum buka PO aja udah banyak yang nanya kapan buka lagi. Itu seneng banget,” tuturnya.
Kini, varian dimsum mentai miliknya dilengkapi chilli oil yang menjadi favorit pelanggan. Dengan pemasaran online dan offline yang berjalan seimbang, ia berharap usahanya terus berkembang. Baginya, dukungan orang tua dan keluarga menjadi kunci utama.
“Semoga suatu hari nanti bisnis kecil ini bisa punya tempat sendiri, nggak cuma pre-order, dan mungkin masuk platform online seperti GoFood,” harapnya.
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.