Pengunjung menyaksikan senarai karya dalam pameran seni rupa bertajuk Alih di Nadi Gallery, Jakarta. (sumber gambar: Hypeabis.id/Prasetyo Agung Ginanjar)

Alih, Ruang Transformasi Handiwirman Saputra di Nadi Gallery Jakarta

04 March 2026   |   21:00 WIB
Image
Prasetyo Agung Ginanjar Jurnalis Hypeabis.id

Sebuah instalasi tanpa wajah menyergap pengunjung di halaman Nadi Gallery, Jakarta Barat. Bentuknya oval, berwarna oranye, dengan dua lubang kecil sebagai satu satunya penanda. Tidak ada ekspresi, hanya kehadiran yang memaksa perhatian.

Memasuki galeri, pengunjung kembali berhadapan dengan bentuk serupa. Kali ini ukurannya lebih kecil, berwarna krem, dengan karet melingkari bagian bawah yang kemerahan, serta tertempel di dinding.

Baca juga: Inner Sight: Transformasi Estetik RB Ali Setelah Fase Realisme

Dua karya tersebut berjudul Tuturkarena serta Pose Tuturkarena dan Karet, karya Handiwirman Saputra. Medianya menggunakan resin, fiber, dan akrilik berdimensi 204 sentimetr (cm) x 125 cm x 100 cm, dan 45 sentimeter (cm) x30 cm x 15 cm.

Dimodifikasi laiknya kepala manusia instalasi ini ditampilkan dalam pameran tunggal Handiwirman bertajuk Alih yang berlangsung  hingga 9 Maret 2026. Pameran ini menjadi pembuka program Nadi Gallery di tahun 2026.

Alih merupakan pameran tunggal ke sembilan bagi perupa asal Bukittinggi tersebut. Terakhir kali dia menggelar pameran tunggal bersama Nadi Gallery pada 2015, saat karyanya ditampilkan di Art Basel Hong Kong.

Pengelola Nadi Gallery, Dhira Dwinanda, mengatakan pameran Alih bukan proyek mendadak. Rencana pameran ini telah dibicarakan jauh sebelum pandemi Covid-19, namun tertunda akibat berbagai kendala hingga akhirnya terealisasi tahun ini.

"Secara material, Handiwirman masih setia pada objek sehari-hari sperti benang, kapas, spons yang telah menjadi ciri khasnya. Namun, pendekatan berkaryanya kali ini berubah signifikan," katanya.
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

A post shared by Nadi Gallery (@nadi.gallery)



Menurut dia, pada karya karya sebelumnya Handiwirman kerap memulai proses dengan membuat objek fisik berukuran kecil, kemudian memotretnya sebagai dasar untuk lukisan. Dalam pameran Alih, Handiwirman melepas ketergantungan pada objek asli tersebut dan mulai bekerja langsung dari imajinasi.

Perubahan ini membuat bentuk-bentuk dalam karya terbarunya terasa lebih liar dan bebas, tidak lagi terikat pada referensi konkret. Salah satu contohnya terlihat dalam seri lukisan Taut Berpilin 1 dan Taut Berpilin 2, di mana objek keseharian hadir dalam bentuk yang lebih cair dan ambigu.

Meski benda benda sehari-hari masih menjadi pijakan utama, Handiwirman juga  mencoba meruntuhkan stigma lukisan sebagai medium dua dimensi. Dalam pameran ini, sejumlah kanvas dipasang di atas pedestal beroda, memungkinkan karya dipindahkan dan dinikmati dari berbagai sudut pandang dengan bantuan pihak galeri.

Pendekatan tersebut membuat pengalaman memandang karya menjadi lebih situasional dan personal. Posisi karya yang bisa berubah menggeser cara pengunjung berinteraksi dengan lukisan, sekaligus menegaskan bahwa ruang pamer menjadi bagian dari karya itu sendiri.


Bahasa Visual

Namun, eksplorasi Handiwirman tidak berhenti pada lukisan. Karya instalatif terbarunya yang berbentuk seperti bata dalam seri Sebata Batas dan Susun Bertumpuk juga menghadirkan pengalaman baru dalam memaknai ruang.

Karya-karya tersebut dibuat dari styrofoam yang dilapisi serat, aquaproof, debu pasir, dan debu bata, sehingga secara visual tampak berat seperti batu bata asli, padahal ringan secara material.

Pendekatan ini juga membuka kemungkinan baru dalam praktik berkarya sang seniman. Selain lebih fleksibel secara logistik, senarai karya ini juga dapat diintegrasikan dengan kebutuhan arsitektur ruang.
 

jaj

 Senarai karya Handiwrman Saputra dalam pameran seni rupa bertajuk Alih di Nadi Gallery, Jakarta. (sumber gambar: Hypeabis.id/Prasetyo Agung Ginanjar)
 

Di Nadi Gallery, beberapa instalasi ini juga difungsikan sebagai sekat pembatas atau elemen interior, sekaligus mengaburkan batas antara objek dan ilusi, antara berat dan ringan, antara nyata dan replika.

Kurator Fumio Nanjo mencatat perkembangan konsisten dalam praktik Handiwirman sejak 2005. Perkembangan tersebut terlihat dari pengolahan subjek, bahan, ruang, warna, hingga bahasa visual yang dibangun secara bertahap.

Objek objek karya Handiwirman yang tampak ganjil, menurut Nanjo, mengingatkan pada metode dépaysement, istilah dalam seni dan sastra Surealis yang merujuk pada pemindahan objek ke konteks asing untuk menciptakan keterkejutan visual.

"Handiwirman nyaris secara harfiah menciptakan puisi dari pertemuan bahan: objek-objek keseharian yang kerap dianggap remeh, bahkan benda-benda yang diselamatkan dari tempat sampah,"tulisnya.

Handiwirman sendiri memandang seni sebagai sesuatu yang melampaui fungsi dekorasi atau hiburan. Seni, menurut dia, merupakan bagian mendasar dari ekspresi dan komunikasi manusia, sekaligus cermin yang memantulkan nilai, kepercayaan, dan aspirasi.

Dalam konteks tersebut, seni juga kerap berperan sebagai medium perubahan sosial. Bukan melalui seruan langsung atau argumen faktual, melainkan lewat kemampuannya menyentuh perasaan dan kesadaran secara lebih subtil dan mendalam.

“Pameran Alih dapat dibaca sebagai perpindahan makna, perubahan keadaan, pergeseran fokus, atau transformasi cara pandang dari satu hal ke hal lain secara metaforis,” katanya.

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News

SEBELUMNYA

Mengenal Selat Hormuz, Jalur Strategis Perdagangan yang Berdampak Bagi Stabilitas Energi Dunia

BERIKUTNYA

Produk Paling Diminati pada Ramadan 2026: Busana Sarimbit hingga Kasur Vakum

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga