Kris Antoni, CEO & Founder of Toge Productions (Foto: Instagram/@kerissakti)

CEO Toge Productions Kris Antoni Soroti Aturan Pajak, Isyaratkan Pindah ke Luar Negeri

03 March 2026   |   20:00 WIB
Image
Muhammad Shohibul Izar Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

CEO dan pendiri Toge Productions, Kris Antoni, mengungkapkan rencana memindahkan operasional studio ke luar negeri. Pernyataan itu disampaikan melalui akun X @kerissakti. Dalam unggahannya, Kris mengaku baru menghadapi persoalan pajak yang dinilainya tidak masuk akal hingga membuatnya mempertimbangkan relokasi perusahaan.

Toge Productions dikenal sebagai studio di balik gim Coffee Talk dan A Space for the Unbound, dua judul yang mendapat perhatian luas di pasar internasional. Kris menyebut dirinya telah berupaya selama 17 tahun untuk mendorong industri game Indonesia berkembang. Namun polemik terbaru ini membuatnya merasa kecewa.

Baca juga: Genhype, Ini Pentingnya Melek Pajak Bagi Pengusaha Pemula

“Saya sudah berusaha memajukan industri game Indonesia selama 17 tahun, tapi sepertinya harapan saya sudah pupus,” tulisnya.

Persoalan utama disebut-sebut berkaitan dengan penafsiran biaya pengembangan gim. Menurut penjelasan Kris, otoritas pajak meminta agar gaji karyawan selama masa produksi dikategorikan sebagai aset tak berwujud dan diamortisasi.

Ia mengaku awalnya hendak mengajukan restitusi kelebihan bayar pajak, tetapi justru menerima tagihan kurang bayar dengan nilai yang disebutnya sangat besar. Kris menegaskan perusahaannya tidak pernah mengajukan kapitalisasi biaya tersebut.

Unggahan itu viral dan memicu perdebatan luas di kalangan pengembang gim maupun warganet. Dalam diskusi lanjutan, Kris bahkan menyinggung kemungkinan memindahkan Toge Productions ke Malaysia. Pernyataan tersebut memunculkan kekhawatiran bahwa relokasi benar-benar sedang dipertimbangkan, bukan sekadar reaksi emosional sesaat.

Di sisi lain, tanggapan berbeda datang dari Shieny Aprilia, CEO Agate. Ia menjelaskan bahwa aturan yang dipermasalahkan berkaitan dengan PSAK 19 yang mengacu pada standar internasional IAS 38 tentang aset tak berwujud. Menurutnya, penerapan standar tersebut merupakan bagian dari upaya mendorong tata kelola industri yang lebih profesional dan sejalan dengan praktik global.

Kasus ini kembali menyoroti kondisi industri gim nasional. Data Asosiasi Game Indonesia menunjukkan pengembang lokal hanya menguasai sekitar 2,5 persen pasar domestik, sementara mayoritas dikuasai produk asing. Di tengah tantangan tersebut, polemik regulasi dan kepastian hukum menjadi sorotan karena dinilai dapat memengaruhi iklim usaha industri kreatif.

Situasi ini menunjukkan industri gim nasional masih menghadapi tantangan mendasar, seperti keterbatasan pendanaan, distribusi, dan minimnya insentif yang berpihak pada pengembang lokal. Tanpa kepastian regulasi dan dukungan kebijakan yang konsisten, pelaku industri dalam negeri berisiko semakin tertinggal meski potensi pasar digital Indonesia terus berkembang.

Jika relokasi yang dilakukan kris benar-benar terjadi, dampaknya akan signifikan. Toge Productions selama ini menjadi salah satu contoh studio lokal yang berhasil menembus pasar global. Keputusan hengkang ke luar negeri bukan hanya soal bisnis, tetapi juga menyangkut masa depan ekosistem gim Indonesia yang masih berjuang untuk tumbuh di negeri sendiri.

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News

SEBELUMNYA

Ingin Jadi Konten Kreator? Simak Strategi Pertumbuhan ala Beby Tsabina

BERIKUTNYA

Resident Evil Requiem Jadi Game dengan Rating Pengguna Tertinggi di Metacritic

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga