Inner Sight: Transformasi Estetik RB Ali Setelah Fase Realisme
01 March 2026 |
14:00 WIB
Cahaya lampu memantul lembut di atas kanvas yang dipenuhi figur-figur terdeformasi. Bentuknya samar namun sugestif—ada yang mengingatkan pada ikan, kucing, gajah, hingga kadal. Di sekelilingnya, tersebar coretan kata, rumus, serta ilustrasi permainan ular tangga yang menambah lapisan makna pada komposisi visual tersebut.
Lukisan bertajuk Angeli itu merupakan karya RB Ali yang dipamerkan dalam pameran Inner Sight di Galeri Zen1, Jakarta. Pameran ini menjadi penanda perjalanan kreatif Ali selama empat tahun terakhir, setelah sebelumnya dikenal melalui
pendekatan realisme yang lebih konvensional.
Baca juga: Saat Fauna Jadi Cermin Manusia: Refleksi di Pameran Takeaway Art #2 Jakarta
Sekilas, karya ini menghadirkan perpaduan antara surealisme dan abstrakisme. Di atas kanvas, bentuk-bentuk literal dan imajinatif saling berkelindan, menciptakan harmoni yang terasa kontras namun tetap menyatu. Figur-figur yang tampak familiar itu seolah sengaja dilepaskan dari bentuk aslinya, memberi ruang bagi penonton untuk menafsirkan ulang makna di baliknya.
RB Ali bukan seniman yang setia pada satu aliran. Dia pernah menapaki realisme, kubisme, abstraksi, hingga surealisme. Dalam pameran yang berlangsung hingga 10 Maret 2026, ini dia melebur seluruh bahasa visual tersebut menjadi lebih bebas.
“Bagi saya menggambar ikan memang tidak harus seperti ikan. Menggambar katak juga tidak harus benar-benar seperti katak. Saya membebaskan bentuk itu sebebas-bebasnya,” katanya.
Perjalanan menuju fase ini juga tidak sederhana. Sepulang dari pameran di Beijing pada 2019, istrinya wafat. Sejak itu, dia memutuskan menggantung kuas dan lebih banyak menulis karya sastra, terutama puisi.
Namun, semangat untuk melukis kembali muncul. Bedanya, kali ini seniman asal Lampung itu mengintegrasikan teks literal dengan visual. Di atas kanvas, pengunjung dapat melihat goresan-goresan puisi yang ia tulis sendiri.
“Proses berkarya bagi saya adalah pengendapan,” katanya. “Saya membiarkan perasaan larut, lalu hadir sebagai karya yang matang.” Dari situlah lukisan dan puisi mulai bertemu lebih intens dalam praktiknya.
Dalam karya-karya terbarunya, teks dan angka hadir berdampingan dengan figur. Ada puisi yang ditulis langsung di atas kanvas. Ada pula simbol permainan seperti ular tangga yang menyiratkan naik-turun kehidupan.
Refleksi ini, misalnya, hadir dalam karya bertajuk Lelah dalam Ketidakpastian (2023) dan The Lucky (2026). Pada dua karya bermedium akrilik di atas kanvas tersebut, penonton dapat melihat objek-objek keseharian hingga figur ganjil yang saling berkelindan.
Selain itu, Ali juga menghadirkan angka dan rumus di atas kanvas. Senarai teks literal ini menjadi bagian dari komposisi. Dia mengungkap, terkadang teks lahir lebih dulu lalu divisualkan, atau justru sebaliknya.
Kurator Rizki A. Zaelani mengatakan, Inner Sight bukan hanya refleksi autobiografis RB Ali. Lebih dari itu, pameran ini merupakan pergulatan seniman di tengah luka, kehilangan, dan pembaruan diri sekaligus daya untuk kembali bangkit.
Menurutnya, karya RB Ali dalam fase ini lahir dari kebutuhan batin, bukan sekadar eksperimen formal. “Dia memiliki inner sight—kemampuan melihat ke dalam diri dan mengolah pengalaman menjadi struktur visual,” ujar Rizki.
Senarai karya terbaru Ali, paparnya, juga memantulkan fase hidup baru sang seniman yang berbicara tentang cinta dan harapan. Refleksi ini di antaranya terejawantah dalam karya berjudul Capek Boleh, Menyerah Jangan (2026) dan Terjeda (2026).
Dalam Capek Boleh, Menyerah Jangan, Ali menghadirkan figur yang tampak ringkih namun tetap berdiri. Warna-warna kontras menguatkan kesan ketegangan sekaligus daya hidup. Ada rasa lelah, tetapi juga dorongan untuk terus melangkah.
Sementara dalam Terjeda, suasana terasa lebih hening dan kontemplatif. Komposisinya menghadirkan objek rumah, tangan yang menggapai, serta sosok yang berjalan di atas titian, seakan menghitung langkah di antara angka-angka yang berdiri di hadapannya.
Rizki juga melihat keberanian Ali dalam mengakui kerentanan sebagai kekuatan utama. “Ali tidak menutup luka itu, justru mengolahnya menjadi energi visual,” ujarnya. Di situlah publik dapat menemukan resonansi personal.
Selain itu, pengalaman kehilangan yang dialami Ali tidak dihadirkan secara harfiah. Lewat figur dan objek yang ditampilkan, perupa ini tidak melukis potret duka secara dramatik. Ia memilih metafora, simbol, dan pertemuan teks dengan citra.
Bagi Rizki, integrasi puisi dan lukisan dalam fase ini juga penting dicatat. “Teks yang hadir di kanvas bukan tempelan, tetapi bagian dari tubuh karya,” katanya. Perjumpaan kata dan rupa itu menjadi bahasa personal Ali yang kian utuh.
Ali juga berharap karya-karya terbarunya ini bisa menjadi ruang berbagi—tentang cinta, tentang hidup, dan tentang harapan. "Karena meski dunia penuh sandiwara dan luka, saya yakin kita masih bisa menciptakan keindahan darinya," katanya.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Lukisan bertajuk Angeli itu merupakan karya RB Ali yang dipamerkan dalam pameran Inner Sight di Galeri Zen1, Jakarta. Pameran ini menjadi penanda perjalanan kreatif Ali selama empat tahun terakhir, setelah sebelumnya dikenal melalui
pendekatan realisme yang lebih konvensional.
Baca juga: Saat Fauna Jadi Cermin Manusia: Refleksi di Pameran Takeaway Art #2 Jakarta
Sekilas, karya ini menghadirkan perpaduan antara surealisme dan abstrakisme. Di atas kanvas, bentuk-bentuk literal dan imajinatif saling berkelindan, menciptakan harmoni yang terasa kontras namun tetap menyatu. Figur-figur yang tampak familiar itu seolah sengaja dilepaskan dari bentuk aslinya, memberi ruang bagi penonton untuk menafsirkan ulang makna di baliknya.
RB Ali bukan seniman yang setia pada satu aliran. Dia pernah menapaki realisme, kubisme, abstraksi, hingga surealisme. Dalam pameran yang berlangsung hingga 10 Maret 2026, ini dia melebur seluruh bahasa visual tersebut menjadi lebih bebas.
“Bagi saya menggambar ikan memang tidak harus seperti ikan. Menggambar katak juga tidak harus benar-benar seperti katak. Saya membebaskan bentuk itu sebebas-bebasnya,” katanya.
Perjalanan menuju fase ini juga tidak sederhana. Sepulang dari pameran di Beijing pada 2019, istrinya wafat. Sejak itu, dia memutuskan menggantung kuas dan lebih banyak menulis karya sastra, terutama puisi.
Namun, semangat untuk melukis kembali muncul. Bedanya, kali ini seniman asal Lampung itu mengintegrasikan teks literal dengan visual. Di atas kanvas, pengunjung dapat melihat goresan-goresan puisi yang ia tulis sendiri.
“Proses berkarya bagi saya adalah pengendapan,” katanya. “Saya membiarkan perasaan larut, lalu hadir sebagai karya yang matang.” Dari situlah lukisan dan puisi mulai bertemu lebih intens dalam praktiknya.

Seniman RB Ali berpose di depan karyanya dalam pameran Inner Sight di Galeri Zen1, Jakarta (sumber gambar: Hypeabis.id/Prasetyo Agung Ginanjar)
Refleksi ini, misalnya, hadir dalam karya bertajuk Lelah dalam Ketidakpastian (2023) dan The Lucky (2026). Pada dua karya bermedium akrilik di atas kanvas tersebut, penonton dapat melihat objek-objek keseharian hingga figur ganjil yang saling berkelindan.
Selain itu, Ali juga menghadirkan angka dan rumus di atas kanvas. Senarai teks literal ini menjadi bagian dari komposisi. Dia mengungkap, terkadang teks lahir lebih dulu lalu divisualkan, atau justru sebaliknya.
Pengalaman Personal
Kurator Rizki A. Zaelani mengatakan, Inner Sight bukan hanya refleksi autobiografis RB Ali. Lebih dari itu, pameran ini merupakan pergulatan seniman di tengah luka, kehilangan, dan pembaruan diri sekaligus daya untuk kembali bangkit.Menurutnya, karya RB Ali dalam fase ini lahir dari kebutuhan batin, bukan sekadar eksperimen formal. “Dia memiliki inner sight—kemampuan melihat ke dalam diri dan mengolah pengalaman menjadi struktur visual,” ujar Rizki.
Senarai karya terbaru Ali, paparnya, juga memantulkan fase hidup baru sang seniman yang berbicara tentang cinta dan harapan. Refleksi ini di antaranya terejawantah dalam karya berjudul Capek Boleh, Menyerah Jangan (2026) dan Terjeda (2026).
Dalam Capek Boleh, Menyerah Jangan, Ali menghadirkan figur yang tampak ringkih namun tetap berdiri. Warna-warna kontras menguatkan kesan ketegangan sekaligus daya hidup. Ada rasa lelah, tetapi juga dorongan untuk terus melangkah.
Sementara dalam Terjeda, suasana terasa lebih hening dan kontemplatif. Komposisinya menghadirkan objek rumah, tangan yang menggapai, serta sosok yang berjalan di atas titian, seakan menghitung langkah di antara angka-angka yang berdiri di hadapannya.
Rizki juga melihat keberanian Ali dalam mengakui kerentanan sebagai kekuatan utama. “Ali tidak menutup luka itu, justru mengolahnya menjadi energi visual,” ujarnya. Di situlah publik dapat menemukan resonansi personal.
Selain itu, pengalaman kehilangan yang dialami Ali tidak dihadirkan secara harfiah. Lewat figur dan objek yang ditampilkan, perupa ini tidak melukis potret duka secara dramatik. Ia memilih metafora, simbol, dan pertemuan teks dengan citra.
Bagi Rizki, integrasi puisi dan lukisan dalam fase ini juga penting dicatat. “Teks yang hadir di kanvas bukan tempelan, tetapi bagian dari tubuh karya,” katanya. Perjumpaan kata dan rupa itu menjadi bahasa personal Ali yang kian utuh.
Ali juga berharap karya-karya terbarunya ini bisa menjadi ruang berbagi—tentang cinta, tentang hidup, dan tentang harapan. "Karena meski dunia penuh sandiwara dan luka, saya yakin kita masih bisa menciptakan keindahan darinya," katanya.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.