MD Pictures Filmkan Buku Filosofi Teras, Sherina Munaf dan Lydia Kandou Jadi Pemeran Utama
01 March 2026 |
13:00 WIB
MD Pictures resmi mengumumkan adaptasi film dari buku best seller berjudul Filosofi Teras karya Henry Manampiring dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu, 25 Februari 2026. Proyek ini langsung menarik perhatian karena menggandeng Sherina Munaf sebagai pemeran utama.
Dikutip dari berbagai sumber, film bergenre drama keluarga tersebut dijadwalkan mulai syuting pada Jumat, 27 Februari 2026. Adaptasi ini menjadi langkah ambisius mengingat buku aslinya telah terjual hampir 500.000 eksemplar dan memasuki cetakan ke-94.
Baca juga: Henry Manampiring & Praktik Mendekatkan Filsafat ke Anak Muda Lewat Stoa
Sherina mengaku memiliki kedekatan emosional dengan buku tersebut jauh sebelum proyek film ini diumumkan. Ia menilai Filosofi Teras bukan sekadar bacaan populer, melainkan karya yang membantu banyak orang memahami dan mengelola emosi.
Menurutnya, film ini diharapkan tidak hanya menjadi tontonan yang menghibur, tetapi juga menghadirkan dampak reflektif bagi penonton. Ia melihat kisah yang diangkat memiliki relevansi kuat dengan dinamika kehidupan modern.
Sementara itu, Henry Manampiring mengakui sempat menyimpan kekhawatiran terkait proses adaptasi. Namun setelah membaca naskahnya, ia merasa nilai-nilai utama Stoisisme dalam bukunya tetap terjaga dengan baik.
Ia menilai pesan filosofis dalam buku berhasil diterjemahkan ke dalam konflik, dialog, dan dinamika karakter secara dramatis tanpa kehilangan esensi. Hal itu membuatnya yakin adaptasi ini tetap setia pada ruh karya aslinya.
Dari informasi yang beredar, film ini turut menghadirkan deretan pemeran lintas generasi, termasuk Lydia Kandou dan Ge Pamungkas. Nama lain yang terlibat antara lain Kiki Narendra, Zee Asadel, Rangga Nattra, Givina Lukita, Dinda Kanya Dewi, Ina Marika, Tubagus Ali, Adinda Cresheilla, dan Putri Ayudya.
Proyek ini disutradarai oleh Affandi Abdul Rachman dengan naskah yang ditulis Haqi Achmad dan Widi Lestari Putri. Kolaborasi tersebut menjanjikan pendekatan dramatik yang emosional sekaligus relevan dengan realitas sosial.
Seperti yang diketahui, versi film ini menghadirkan narasi fiksi yang berpusat pada karakter Nea yang diperankan oleh Sherina. Kehidupannya berubah drastis setelah sang ayah meninggal dunia, memaksanya mengambil peran sebagai tulang punggung keluarga.
Ia harus membiayai kebutuhan rumah tangga dan pendidikan sang adik, sementara sang kakak belum mampu berkontribusi secara finansial. Tekanan ekonomi dan tanggung jawab moral menjadi konflik utama yang membentuk perjalanan emosionalnya.
Situasi semakin rumit ketika Nea mengetahui rumah keluarga mereka telah digadaikan oleh mendiang ayahnya. Hal itulah yang memaksanya menunda rencana pernikahan dengan Dio, karakter yang diperankan Ge Pamungkas.
Di tengah tekanan hidup yang dihadapinya, ajaran Stoisisme menjadi benang merah dalam alur cerita. Konsep yang membedakan hal yang berada dalam kendali dan di luar kendali ditampilkan sebagai dasar perubahan dan pendewasaan karakter Nea.
Filosofi Yunani-Romawi kuno itu selama ini dikenal sebagai panduan hidup untuk tetap tenang dan rasional dalam menghadapi krisis. Popularitasnya di Indonesia meningkat signifikan dalam beberapa tahun terakhir, terutama saat masyarakat menghadapi ketidakpastian global.
Dalam berbagai keterangan resmi, CEO MD Entertainment, Manoj Punjabi menyatakan optimismenya terhadap proyek ini. Ia memastikan proses produksi segera berjalan dan memberi sinyal bahwa film tersebut diproyeksikan menjadi salah satu rilisan penting rumah produksi tahun ini.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Dikutip dari berbagai sumber, film bergenre drama keluarga tersebut dijadwalkan mulai syuting pada Jumat, 27 Februari 2026. Adaptasi ini menjadi langkah ambisius mengingat buku aslinya telah terjual hampir 500.000 eksemplar dan memasuki cetakan ke-94.
Baca juga: Henry Manampiring & Praktik Mendekatkan Filsafat ke Anak Muda Lewat Stoa
Sherina mengaku memiliki kedekatan emosional dengan buku tersebut jauh sebelum proyek film ini diumumkan. Ia menilai Filosofi Teras bukan sekadar bacaan populer, melainkan karya yang membantu banyak orang memahami dan mengelola emosi.
Menurutnya, film ini diharapkan tidak hanya menjadi tontonan yang menghibur, tetapi juga menghadirkan dampak reflektif bagi penonton. Ia melihat kisah yang diangkat memiliki relevansi kuat dengan dinamika kehidupan modern.
Sementara itu, Henry Manampiring mengakui sempat menyimpan kekhawatiran terkait proses adaptasi. Namun setelah membaca naskahnya, ia merasa nilai-nilai utama Stoisisme dalam bukunya tetap terjaga dengan baik.
Ia menilai pesan filosofis dalam buku berhasil diterjemahkan ke dalam konflik, dialog, dan dinamika karakter secara dramatis tanpa kehilangan esensi. Hal itu membuatnya yakin adaptasi ini tetap setia pada ruh karya aslinya.
Dari informasi yang beredar, film ini turut menghadirkan deretan pemeran lintas generasi, termasuk Lydia Kandou dan Ge Pamungkas. Nama lain yang terlibat antara lain Kiki Narendra, Zee Asadel, Rangga Nattra, Givina Lukita, Dinda Kanya Dewi, Ina Marika, Tubagus Ali, Adinda Cresheilla, dan Putri Ayudya.
Proyek ini disutradarai oleh Affandi Abdul Rachman dengan naskah yang ditulis Haqi Achmad dan Widi Lestari Putri. Kolaborasi tersebut menjanjikan pendekatan dramatik yang emosional sekaligus relevan dengan realitas sosial.
Seperti yang diketahui, versi film ini menghadirkan narasi fiksi yang berpusat pada karakter Nea yang diperankan oleh Sherina. Kehidupannya berubah drastis setelah sang ayah meninggal dunia, memaksanya mengambil peran sebagai tulang punggung keluarga.
Ia harus membiayai kebutuhan rumah tangga dan pendidikan sang adik, sementara sang kakak belum mampu berkontribusi secara finansial. Tekanan ekonomi dan tanggung jawab moral menjadi konflik utama yang membentuk perjalanan emosionalnya.
Situasi semakin rumit ketika Nea mengetahui rumah keluarga mereka telah digadaikan oleh mendiang ayahnya. Hal itulah yang memaksanya menunda rencana pernikahan dengan Dio, karakter yang diperankan Ge Pamungkas.
Di tengah tekanan hidup yang dihadapinya, ajaran Stoisisme menjadi benang merah dalam alur cerita. Konsep yang membedakan hal yang berada dalam kendali dan di luar kendali ditampilkan sebagai dasar perubahan dan pendewasaan karakter Nea.
Filosofi Yunani-Romawi kuno itu selama ini dikenal sebagai panduan hidup untuk tetap tenang dan rasional dalam menghadapi krisis. Popularitasnya di Indonesia meningkat signifikan dalam beberapa tahun terakhir, terutama saat masyarakat menghadapi ketidakpastian global.
Dalam berbagai keterangan resmi, CEO MD Entertainment, Manoj Punjabi menyatakan optimismenya terhadap proyek ini. Ia memastikan proses produksi segera berjalan dan memberi sinyal bahwa film tersebut diproyeksikan menjadi salah satu rilisan penting rumah produksi tahun ini.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.