Ilustrasi (dok. Pexels)

Muncul saat Masa Kandungan, Kenali Risiko Penyakit Jantung Bawaan pada Anak

29 September 2021   |   14:53 WIB
Image
Desyinta Nuraini Jurnalis Hypeabis.id

Jantung merupakan organ vital bagi kehidupan manusia. Sayangnya, tak sedikit anak yang lahir dengan kelainan atau penyakit jantung bawaan yang berdampak langsung pada kualitas hidup dan kesehatannya. Menurut data Indonesia Heart Association, angka kejadian penyakit jantung bawaan di Indonesia diperkirakan mencapai 43.200 kasus dari 4,8 juta kelahiran hidup, atau 9 per 1.000 kelahiran hidup setiap tahun. 

Dokter Spesialis Anak Konsultan Kardiologi, dr. Rahmat Budi Kuswiyanto, menjelaskan penyakit jantung bawaan merupakan kelainan struktur anatomi, letak, atau fungsi jantung akibat gangguan pembentukan organ jantung pada trimester awal kehamilan.

Ada banyak bentuk kelainan pada penyakit jantung bawaan, seperti jantung bocor, katup sempit atau tidak lengkap, bahkan katup buntu, maupun pembuluh darah terbalik.

Secara garis besar, penyakit jantung bawaan memliki dua kelompok, yakni non-kritis dan kritis. Untuk anak yang mengalami penyakit jantung bawaan kritis, kata Budi, perlu penanganan segera pada tahun pertama kehidupan.

“Kalau tidak biasanya meninggal, kalau tidak akan menjadi kontributor abadi kematian bayi,” tegasnya dalam diskusi virtual yang digelar Danone Indonesia, Rabu (29/9/2021).

Lebih lanjut Budi menerangkan belum diketahui pasti penyebab dari penyakit jantung bawaan. Namun, ada sejumlah faktor risiko terutama yang dihubungkan dengan riwayat kehamilan, di antarnya infeksi saat kehamilan, komorbid sang ibu seperti hipertensi, diabetes, dan lupus.

Konsumsi obat-obatan tertentu, paparan asap rokok, alkohol, nutrisi yang tidak seimbang, kelainan genetik janin, dan riwayat keluarga dengan kelainan jantung juga diduga berpengaruh.

Sementara tanda utama penyakit jantung bawaan adalah bayi dengan tubuh kebiruan serta napas cepat atau sesak napas dan kelelahan saat beraktivitas pada bayi.

“Bayi aktivitasnya menyusu, maka akan kelihatan saat menyusu dia kelelahan,” terangnya.

Pertumbuhan anak dengan penyakit jantung bawaan juga bisa terhambat, dan berat badannya menjadi sulit naik. Tanda lainnya yakni bunyi jantung yang terdengar jelas dan letaknya bisa berubah. 

Budi menuturkan anak dengan penyakit jantung bawaan sering kali dirawat berulang karena infeksi paru. Pada usia yang lebih besar, penderita penyakit jantung bawaan kerap pingsan, mengalami jantung berdebar, maupun nyeri dada. Selain itu, mereka mudah mengalami stunting atau gizi buruk namun tidak sedikit pula yang kondisi fisiknya terlihat sehat. 

Tidak jarang anak dengan penyakit jantung bawaan juga memiliki kondisi lain, seperti bibir sumbing, kelainan telinga, katarak, kelainan pada organ tubuh lain, dan down syndrome. “Hampir setengah anak dengan down syndrome mengalami kelainan jantung bawaan,” sebut Budi. 

Pemeriksaan saturasi oksigen pada anak baru lahir dapat menjadi pemeriksaan dalam deteksi dini penyakit jantung bawaan. Sementara tindakan yang dilakukan jika ditemukan gejala adalah stabilisasi dan pertolongan pertama untuk memperbaiki keadaan umum.

“Selanjutnya kontrol rutin sesuai anjuran untuk memantau perkembangan penyakit, diagnosis KJB, dan penentuan intervensi,” sambung Budi.

Pada praktiknya, penanganan penyakit jantungan bawaan disesuaikan dengan jenis kelainan dan tingkat keparahannya. Meski telah mendapatkan intervensi, anak dengan kondisi penyakit jantung bawaan masih mengalami tantangan kesehatan karena mengalami pertumbuhan terus-menerus, memiliki komposisi tubuh yang bervariasi, dan membutuhkan energi yang adekuat. 

Untuk itu, orangtua memiliki peran penting dalam deteksi dini adanya penyakit jantung bawaan dan mengoptimalkan perawatan dan intervensi bila terindikasi untuk meningkatkan usia harapan hidup dan kualitas hidup anak dengan penyakit jantung bawaan.


Editor: Avicenna

SEBELUMNYA

Superhero Fatigue, Ancaman di Balik Banyaknya Film Pahlawan Super

BERIKUTNYA

Begini 4 Tips Memaksimalkan Pemasaran Produk Pertanian

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga: