Single "Nol" Tangkap Wajah Abnormal Realitas Sosial Ala Band Monkey To Millionaire
02 February 2026 |
19:48 WIB
Setelah empat tahun tanpa rilisan baru, band Monkey To Millionaire kembali menghadirkan karya terbaru tahun ini. Single bertajuk “Nol” menjadi penanda kelanjutan perjalanan band yang digawangi Aghan Sudrajat (bas), Wisnu Adji (gitar, vokal), dan Raveliza (drum), setelah rilisan terakhir mereka pada 2022 lewat EP The Golden Sound.
Single “Nol” lahir dari kegelisahan Monkey To Millionaire dalam membaca realitas di sekeliling mereka. Menurut sang vokalis, Wisnu Adji, batas antara hal yang normal dan janggal semakin sulit dibedakan. Seolah, katanya, hal-hal bersifat anomali kini telah menjadi bagian dari keseharian sosial.
Baca juga: No Na Awali 2026 dengan Single Work Berkonsep Girl Boss yang Penuh Energi
“Belakangan ini banyak sekali hal-hal abnormal yang terjadi. Tapi rangkaian tersebut justru dianggap sebagai sesuatu yang normal oleh banyak orang, dan begitu juga sebaliknya,” katanya.
Dari segi aransemen, “Nol” menampilkan warna yang terasa lebih lembut dibandingkan beberapa materi dalam EP The Golden Sound. Pilihan musikal ini rupanya berangkat dari rasa rindu yang tumbuh secara kolektif di antara para personel.
Wisnu menjelaskan bahwa mereka memiliki dorongan kuat untuk kembali menikmati lagu-lagu dengan nuansa yang lebih ringan, seperti yang kerap mereka dengarkan di masa lalu. Dari gagasan sederhana tersebut, Trio alternatif Rock asal Jakarta ini kemudian mencoba merangkai sebuah lagu yang mampu meredakan kerinduan itu.
Soal harapan terhadap lagu ini, Monkey To Millionaire tidak membebani “Nol” dengan ambisi yang berlebihan. Single tersebut mereka jadikan sebagai ruang untuk menyalurkan energi bersama, sekaligus mengekspresikan sisi sentimental dalam proses berkarya secara berkelanjutan.
"Sederhana sebenarnya. Semoga lagu ini bisa sampai kepada para pendengar dan dinikmati sebagai karya yang utuh,” tutup Wisnu Adji.
Setelah lagu ini dirilis, Monkey To Millionaire dijadwalkan membawakan “Nol” untuk pertama kalinya secara langsung dalam sebuah showcase tunggal yang akan berlangsung pada Rabu, 4 Februari 2026, di Krapela, Row 9, Jakarta Selatan.
Monkey To Millionaire merupakan band trio asal Jakarta yang berdiri sejak 2004. Grup ini berawal dari persahabatan semasa SMA antara Wisnu Adji (vokal, gitar) dan Aghan Sudrajat (bas).
Nama Monkey To Millionaire mulai mendapat perhatian luas setelah menjuarai ajang LA Lights Indiefest pada 2004. Dalam perjalanannya, Raveliza resmi bergabung sebagai personel tetap pada 2022, setelah sebelumnya terlibat sebagai additional player sejak 2018.
Sepanjang kariernya, Monkey To Millionaire telah merilis empat album penuh, yakni Lantai Merah (2009), Inertia (2013), Tanpa Koma (2017), dan Bipolar (2019). Mereka juga merilis tiga EP berjudul Self Titled, Strange Is the Song in Our Conversation, serta The Golden Sound.
Di ranah visual, band ini telah menghasilkan 12 video klip dan satu video konser berdurasi lebih dari satu jam bertajuk Monkey To Millionaire – The Golden Sound Intimate Showcase.
Rilisan terbaru Monkey To Millionaire tercatat melalui perilisan ulang dua album awal mereka, Lantai Merah dan Inertia, yang dilakukan melalui kerja sama dengan PHR Records.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Single “Nol” lahir dari kegelisahan Monkey To Millionaire dalam membaca realitas di sekeliling mereka. Menurut sang vokalis, Wisnu Adji, batas antara hal yang normal dan janggal semakin sulit dibedakan. Seolah, katanya, hal-hal bersifat anomali kini telah menjadi bagian dari keseharian sosial.
Baca juga: No Na Awali 2026 dengan Single Work Berkonsep Girl Boss yang Penuh Energi
“Belakangan ini banyak sekali hal-hal abnormal yang terjadi. Tapi rangkaian tersebut justru dianggap sebagai sesuatu yang normal oleh banyak orang, dan begitu juga sebaliknya,” katanya.
Dari segi aransemen, “Nol” menampilkan warna yang terasa lebih lembut dibandingkan beberapa materi dalam EP The Golden Sound. Pilihan musikal ini rupanya berangkat dari rasa rindu yang tumbuh secara kolektif di antara para personel.
Wisnu menjelaskan bahwa mereka memiliki dorongan kuat untuk kembali menikmati lagu-lagu dengan nuansa yang lebih ringan, seperti yang kerap mereka dengarkan di masa lalu. Dari gagasan sederhana tersebut, Trio alternatif Rock asal Jakarta ini kemudian mencoba merangkai sebuah lagu yang mampu meredakan kerinduan itu.
Soal harapan terhadap lagu ini, Monkey To Millionaire tidak membebani “Nol” dengan ambisi yang berlebihan. Single tersebut mereka jadikan sebagai ruang untuk menyalurkan energi bersama, sekaligus mengekspresikan sisi sentimental dalam proses berkarya secara berkelanjutan.
"Sederhana sebenarnya. Semoga lagu ini bisa sampai kepada para pendengar dan dinikmati sebagai karya yang utuh,” tutup Wisnu Adji.
Setelah lagu ini dirilis, Monkey To Millionaire dijadwalkan membawakan “Nol” untuk pertama kalinya secara langsung dalam sebuah showcase tunggal yang akan berlangsung pada Rabu, 4 Februari 2026, di Krapela, Row 9, Jakarta Selatan.

Artwork Single Nol Monkey To Millionaire (dok: band Monkey To Millionaire)
Kenal Lebih Dekat
Monkey To Millionaire merupakan band trio asal Jakarta yang berdiri sejak 2004. Grup ini berawal dari persahabatan semasa SMA antara Wisnu Adji (vokal, gitar) dan Aghan Sudrajat (bas).Nama Monkey To Millionaire mulai mendapat perhatian luas setelah menjuarai ajang LA Lights Indiefest pada 2004. Dalam perjalanannya, Raveliza resmi bergabung sebagai personel tetap pada 2022, setelah sebelumnya terlibat sebagai additional player sejak 2018.
Sepanjang kariernya, Monkey To Millionaire telah merilis empat album penuh, yakni Lantai Merah (2009), Inertia (2013), Tanpa Koma (2017), dan Bipolar (2019). Mereka juga merilis tiga EP berjudul Self Titled, Strange Is the Song in Our Conversation, serta The Golden Sound.
Di ranah visual, band ini telah menghasilkan 12 video klip dan satu video konser berdurasi lebih dari satu jam bertajuk Monkey To Millionaire – The Golden Sound Intimate Showcase.
Rilisan terbaru Monkey To Millionaire tercatat melalui perilisan ulang dua album awal mereka, Lantai Merah dan Inertia, yang dilakukan melalui kerja sama dengan PHR Records.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.