Hutan Fantasi Warnai Panggung Chanel Haute Couture Spring–Summer 2026
28 January 2026 |
15:26 WIB
Chanel kembali mengubah Grand Palais menjadi dunia fantasi dalam peragaan Haute Couture Spring–Summer 2026 yang digelar pada 27 Januari 2026. Di bawah arahan Matthieu Blazy, panggung ikonis tersebut disulap menjadi hutan surealis yang memadukan elemen alam dan imajinasi.
Hamparan karpet merah muda, deretan pohon willow berwarna pink, serta jamur-jamur raksasa bernuansa pastel mendominasi ruang utama, menciptakan atmosfer bak negeri dongeng. Tata panggung ini menghadirkan pengalaman visual yang kuat sejak para tamu memasuki area peragaan.
Baca juga: London Fashion Week Spring/Summer 2026: Tren Fringe & Crochet sampai Warna Neon
Nuansa whimsical bahkan sudah terasa sejak undangan dikirimkan kepada para tamu, yang dilengkapi liontin jamur perak sebagai simbol dari tema hutan yang akan mereka temui. Detail kecil ini menjadi pembuka menuju dunia fantasi yang dirancang Blazy untuk musim ini.
Set panggung yang mengingatkan pada dunia Alice in Wonderland dan ilustrasi ala Dr. Seuss semakin hidup dengan latar suara kicauan burung yang perlahan berganti dengan lagu-lagu ikonis era 1990-an seperti Bitter Sweet Symphony dari The Verve dan Wonderwall dari Oasis, menghadirkan sentuhan nostalgia di tengah kemewahan couture.
Di atas runway, para model seolah bertransformasi menjadi kawanan burung—simbol utama dalam koleksi ini. Siluet busana, yang dikerjakan melalui teknik haute couture dari atelier flou dan tailleur, menampilkan permainan lipit, bordir, anyaman, serta layering yang membentuk tekstur menyerupai bulu.
Koleksi dibuka dengan siluet setelan kotak khas Chanel, namun dibuat dari bahan mousseline super tipis alih-alih tweed tradisional, sehingga rantai khas di bagian kelim berkilau tertangkap cahaya. Gaun slip dengan tali bahu dari rangkaian batu permata, anting berbentuk sangkar burung berisi mutiara kecil, hingga little black dress dengan detail bulu merah di punggung memperlihatkan eksplorasi couture yang halus sekaligus teatrikal.
Meski pengerjaannya sangat teknis dan rumit, kekuatan koleksi ini justru terletak pada kehangatan dan empati terhadap perempuan yang mengenakannya, tercermin dari pemilihan model lintas usia dan latar belakang.
Mengutip The Guardian, Matthieu Blazy menyebut ia ingin menghadirkan pertunjukan yang ringan dan penuh kegembiraan, sekaligus memuat kisah personal para perempuan yang akan mengenakan busana tersebut. Setiap model diminta memilih elemen pribadi—mulai dari inisial, tanggal penting, potongan puisi, hingga sepucuk surat cinta—yang kemudian disulam oleh rumah bordir Lesage ke dalam busana atau disisipkan di saku tas quilted.
Meski teaser koleksi yang menampilkan burung animasi sempat memunculkan tanda tanya, Blazy berhasil menerjemahkan nuansa manis itu menjadi magis yang terasa matang dan dewasa. Permainan trompe l’œil kembali muncul, termasuk denim yang ternyata merupakan mousseline yang dilukis, serta gaun terinspirasi burung gagak dengan detail “bulu” yang dibuat dari kulit.
Melalui koleksi haute couture terbarunya ini, Blazy kembali mendapat sambutan positif, menandai koleksi ketiganya sejak dipercaya memimpin Chanel. Peragaan untuk musim semi/panas kali ini tersebut semakin menegaskan posisinya sebagai figur kunci di balik arah baru salah satu rumah mode paling berpengaruh di dunia, dengan nilai penjualan tahunan yang diperkirakan mendekati US$20 miliar.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Hamparan karpet merah muda, deretan pohon willow berwarna pink, serta jamur-jamur raksasa bernuansa pastel mendominasi ruang utama, menciptakan atmosfer bak negeri dongeng. Tata panggung ini menghadirkan pengalaman visual yang kuat sejak para tamu memasuki area peragaan.
Baca juga: London Fashion Week Spring/Summer 2026: Tren Fringe & Crochet sampai Warna Neon
Nuansa whimsical bahkan sudah terasa sejak undangan dikirimkan kepada para tamu, yang dilengkapi liontin jamur perak sebagai simbol dari tema hutan yang akan mereka temui. Detail kecil ini menjadi pembuka menuju dunia fantasi yang dirancang Blazy untuk musim ini.
Set panggung yang mengingatkan pada dunia Alice in Wonderland dan ilustrasi ala Dr. Seuss semakin hidup dengan latar suara kicauan burung yang perlahan berganti dengan lagu-lagu ikonis era 1990-an seperti Bitter Sweet Symphony dari The Verve dan Wonderwall dari Oasis, menghadirkan sentuhan nostalgia di tengah kemewahan couture.
Di atas runway, para model seolah bertransformasi menjadi kawanan burung—simbol utama dalam koleksi ini. Siluet busana, yang dikerjakan melalui teknik haute couture dari atelier flou dan tailleur, menampilkan permainan lipit, bordir, anyaman, serta layering yang membentuk tekstur menyerupai bulu.
Koleksi dibuka dengan siluet setelan kotak khas Chanel, namun dibuat dari bahan mousseline super tipis alih-alih tweed tradisional, sehingga rantai khas di bagian kelim berkilau tertangkap cahaya. Gaun slip dengan tali bahu dari rangkaian batu permata, anting berbentuk sangkar burung berisi mutiara kecil, hingga little black dress dengan detail bulu merah di punggung memperlihatkan eksplorasi couture yang halus sekaligus teatrikal.
Meski pengerjaannya sangat teknis dan rumit, kekuatan koleksi ini justru terletak pada kehangatan dan empati terhadap perempuan yang mengenakannya, tercermin dari pemilihan model lintas usia dan latar belakang.
Mengutip The Guardian, Matthieu Blazy menyebut ia ingin menghadirkan pertunjukan yang ringan dan penuh kegembiraan, sekaligus memuat kisah personal para perempuan yang akan mengenakan busana tersebut. Setiap model diminta memilih elemen pribadi—mulai dari inisial, tanggal penting, potongan puisi, hingga sepucuk surat cinta—yang kemudian disulam oleh rumah bordir Lesage ke dalam busana atau disisipkan di saku tas quilted.
Meski teaser koleksi yang menampilkan burung animasi sempat memunculkan tanda tanya, Blazy berhasil menerjemahkan nuansa manis itu menjadi magis yang terasa matang dan dewasa. Permainan trompe l’œil kembali muncul, termasuk denim yang ternyata merupakan mousseline yang dilukis, serta gaun terinspirasi burung gagak dengan detail “bulu” yang dibuat dari kulit.
Melalui koleksi haute couture terbarunya ini, Blazy kembali mendapat sambutan positif, menandai koleksi ketiganya sejak dipercaya memimpin Chanel. Peragaan untuk musim semi/panas kali ini tersebut semakin menegaskan posisinya sebagai figur kunci di balik arah baru salah satu rumah mode paling berpengaruh di dunia, dengan nilai penjualan tahunan yang diperkirakan mendekati US$20 miliar.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.