Menbud Fadli Zon Optimistis Sektor Budaya Bisa Menjadi Penggerak Ekonomi Indonesia
27 January 2026 |
17:00 WIB
Menteri Kebudayaan Fadli Zon optimistis sektor budaya dapat memainkan peran strategis dalam mendorong perekonomian Indonesia ke depan. Menurutnya, pengelolaan budaya tidak boleh berhenti pada pelestarian semata, tetapi perlu dikembangkan agar memiliki nilai ekonomi hingga menjadi industri.
Fadli menyebut sektor budaya sebagai aset berkelanjutan bagi Indonesia. Berbeda dengan industri berbasis sumber daya alam seperti batu bara dan nikel yang dapat habis, budaya dinilainya tidak pernah habis meski terus diolah.
Baca juga: Fadli Zon Bakal Terbitkan Buku Sejarah Lagi, Usung Pendekatan Tematik
"Budaya ini bukan sekadar dilindungi atau dilestarikan. Lebih dari itu, budaya harus kita kembangkan dan manfaatkan menjadi ekonomi budaya, lalu menjadi industri budaya atau cultural economy and industry. Inilah yang ke depan harus dikembangkan," kata Fadli Zon saat perilisan buku Selayang Kemilau Bhumi Lima Negeri di Perpustakaan Nasional, Jakarta, Kamis (22/1/2026).
Fadli menyebut banyak negara maju telah berhasil memanfaatkan budaya menjadi memiliki nilai ekonomi dan industri yang besar. Budaya bahkan juga dimanfaatkan sebagai soft power dalam diplomasi mereka. Dia lantas mencontohkan Amerika Serikat dengan Hollywood, India lewat Bollywood, Korea Selatan dengan Korean Wave, serta Nigeria dengan Nollywood.
"Mungkin kita juga perlu cari nama itu, bukan Indowood ya, tapi harus ada satu gelombang budaya Indonesia, sehingga kita bisa menjadi pusat kebudayaan dunia, karena kita sangat beragam dan sangat kaya," imbuhnya.
Fadli menilai peluang Indonesia dalam mengembangkan ekonomi budaya sangat besar, mengingat kekayaan dan keanekaragaman budaya yang dimiliki. Selain itu, Indonesia juga disebut sebagai peradaban tua dengan jejak sejarah panjang.
Dirinya menyebut ada banyak temuan lukisan gua peninggalan manusia purba yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia. Sebelumnya, katanya, rekor lukisan tertua ditemukan di Leang, Maros, berusia sekitar 51.200 tahun. Namun, baru-baru ini ditemukan lukisan serupa di Muna yang diperkirakan berusia 67.800 tahun.
Fadli menegaskan ke depan pengembangan budaya harus menjadi prioritas. Hal ini juga sesuai dengan amanat konstitusi, khususnya Pasal 32 ayat (1) UUD 1945 tentang kewajiban negara memajukan kebudayaan nasional.
Namun, Fadli menambahkan, upaya tersebut membutuhkan keterlibatan berbagai pihak. Tak hanya pemerintah, peran komunitas dan masyarakat disebut krusial dalam menciptakan ekosistem budaya yang berkelanjutan.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Fadli menyebut sektor budaya sebagai aset berkelanjutan bagi Indonesia. Berbeda dengan industri berbasis sumber daya alam seperti batu bara dan nikel yang dapat habis, budaya dinilainya tidak pernah habis meski terus diolah.
Baca juga: Fadli Zon Bakal Terbitkan Buku Sejarah Lagi, Usung Pendekatan Tematik
"Budaya ini bukan sekadar dilindungi atau dilestarikan. Lebih dari itu, budaya harus kita kembangkan dan manfaatkan menjadi ekonomi budaya, lalu menjadi industri budaya atau cultural economy and industry. Inilah yang ke depan harus dikembangkan," kata Fadli Zon saat perilisan buku Selayang Kemilau Bhumi Lima Negeri di Perpustakaan Nasional, Jakarta, Kamis (22/1/2026).
Fadli menyebut banyak negara maju telah berhasil memanfaatkan budaya menjadi memiliki nilai ekonomi dan industri yang besar. Budaya bahkan juga dimanfaatkan sebagai soft power dalam diplomasi mereka. Dia lantas mencontohkan Amerika Serikat dengan Hollywood, India lewat Bollywood, Korea Selatan dengan Korean Wave, serta Nigeria dengan Nollywood.
"Mungkin kita juga perlu cari nama itu, bukan Indowood ya, tapi harus ada satu gelombang budaya Indonesia, sehingga kita bisa menjadi pusat kebudayaan dunia, karena kita sangat beragam dan sangat kaya," imbuhnya.
Fadli menilai peluang Indonesia dalam mengembangkan ekonomi budaya sangat besar, mengingat kekayaan dan keanekaragaman budaya yang dimiliki. Selain itu, Indonesia juga disebut sebagai peradaban tua dengan jejak sejarah panjang.
Dirinya menyebut ada banyak temuan lukisan gua peninggalan manusia purba yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia. Sebelumnya, katanya, rekor lukisan tertua ditemukan di Leang, Maros, berusia sekitar 51.200 tahun. Namun, baru-baru ini ditemukan lukisan serupa di Muna yang diperkirakan berusia 67.800 tahun.
Fadli menegaskan ke depan pengembangan budaya harus menjadi prioritas. Hal ini juga sesuai dengan amanat konstitusi, khususnya Pasal 32 ayat (1) UUD 1945 tentang kewajiban negara memajukan kebudayaan nasional.
Namun, Fadli menambahkan, upaya tersebut membutuhkan keterlibatan berbagai pihak. Tak hanya pemerintah, peran komunitas dan masyarakat disebut krusial dalam menciptakan ekosistem budaya yang berkelanjutan.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.