Ilustrasi bahagia (Sumber foto: Pixabay)

Apakah Kebahagiaan dapat Meningkatkan Kesehatan? Ini Penjelasannya

14 January 2026   |   21:00 WIB
Image
Alwi Rahman Kusnandar Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Jakarta

Selama ini, banyak orang percaya bahwa hidup bahagia membuat tubuh lebih sehat. Namun, sebuah studi global terbaru menunjukkan bahwa kebahagiaan memang berdampak pada kesehatan tetapi hanya jika sudah mencapai tingkat tertentu.

Melansir Healthline, sebuah penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Frontiers in Medicine mengungkapkan bahwa kebahagiaan baru benar-benar berpengaruh pada kesehatan ketika kesejahteraan seseorang atau suatu negara melewati “titik balik”. Di bawah titik itu, tambahan rasa bahagia belum tentu membuat orang hidup lebih lama atau lebih sehat.

Baca juga: Bukan Soal Bahagia, Ini Tanda Mental yang Sehat Tanpa Disadari

Para peneliti menganalisis data dari 123 negara selama periode 2006 hingga 2021. Mereka menggunakan ukuran kepuasan hidup bernama Life Ladder, sebuah survei sederhana yang meminta orang menilai hidup mereka dari skala 0 hingga 10, dari kehidupan terburuk hingga terbaik. Nilai ini kemudian dibandingkan dengan angka kematian akibat penyakit tidak menular, seperti penyakit jantung, kanker, diabetes, dan gangguan pernapasan kronis.

Analisis tersebut mengungkapkan ambang batas yang jelas yaitu kebahagiaan mulai memberi dampak positif pada kesehatan ketika skor Life Ladder berada di atas angka sekitar 2,7. Di bawah angka tersebut, kenaikan kebahagiaan tidak banyak mengubah risiko kematian akibat penyakit kronis. Namun, setelah melewati ambang itu, setiap peningkatan kecil dalam kepuasan hidup berkaitan dengan penurunan angka kematian.

Menariknya, para peneliti tidak menemukan batas atas. Artinya, tidak ada bukti bahwa terlalu bahagia justru membahayakan kesehatan. Meski begitu, kebahagiaan bukan satu-satunya penentu.

Tingginya angka obesitas dan konsumsi alkohol tetap menjadi faktor utama yang meningkatkan risiko kematian, terlepas dari seberapa bahagia suatu negara. Polusi udara juga berperan besar, terutama di negara-negara dengan tingkat kebahagiaan rendah.

Urbanisasi atau kehidupan di kota besar menunjukkan dua sisi. Di negara yang kurang bahagia, hidup di kota cenderung memperburuk kesehatan karena tekanan hidup dan lingkungan. Namun, di negara yang lebih bahagia, kota justru bisa mendukung hidup sehat berkat fasilitas yang lebih baik, akses layanan kesehatan, dan ruang publik yang memadai.

Studi ini juga menemukan hubungan dua arah antara kebahagiaan dan kesehatan. Masyarakat yang lebih bahagia cenderung lebih sehat, dan masyarakat yang lebih sehat juga berpeluang menjadi lebih bahagia di masa depan.

Kebahagiaan bisa menjadi modal kesehatan jika kebutuhan dasar sudah terpenuhi. Hal ini dapat terwujud dari rasa aman, akses kesehatan, dan lingkungan yang layak. Bagi negara atau masyarakat yang masih berjuang memenuhi kebutuhan tersebut, fokus utama sebaiknya tetap pada perbaikan ekonomi, layanan kesehatan, dan lingkungan.

Namun, bagi mereka yang sudah melewati titik dasar itu, meningkatkan kebahagiaan melalui hubungan sosial, kesehatan mental, dan kualitas hidup bisa menjadi kunci untuk hidup lebih panjang dan lebih sehat.

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News

SEBELUMNYA

Gaji Habis Terus? Buku Ini Bongkar Kebiasaan Finansial Anak Muda

BERIKUTNYA

Film Animasi K-pop Demon Hunters Raih Dua Trofi Golden Globe 2026

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga