Patung Fall of Icarus (2024) karya seniman Alexander Chris, dalam pameran Yang Menampakkan Dirinya, di Neo Gallery, Jakarta. (sumber gambar: Hypeabis.id/Prasetyo Agung Ginanjar)

Menafsir Icarus di Neo Gallery: Antara Ambisi dan Kerentanan

13 January 2026   |   12:00 WIB
Image
Prasetyo Agung Ginanjar Jurnalis Hypeabis.id

Sosok lelaki itu tengkurap di atas hamparan pasir. Tubuhnya yang berwarna putih pucat tampak menyerupai patung klasik dengan anatomi realis yang nyaris steril, tanpa cela dan ekspresi. Figur manusia bersayap ini, seolah baru saja jatuh dari atas ketinggian.

Di punggungnya, sayapnya yang lebar, yang menjadi simbol kebebasan terlihat terbentang tak berdaya. Sebagian terlipat, dan sebagian lain menekan tanah, seolah kehilangan fungsinya setelah dipaksa terbang.

Itulah karya Fall of Icarus (2024) karya seniman Alexander Chris, dalam pameran bertajuk Yang Menampakkan Dirinya, di Neo Gallery, Jakarta. Berlangsung belum lama ini, pameran menelusuri dunia visual melalui pendekatan yang beragam.

Baca juga: Pameran Spiritualitas Urban: Menemukan Hening di Tengah Hiruk-Pikuk Kota

Terinspirasi dari mitologi Yunani, Chris menggambarkan momen dramatik dari mitos Icarus. Icarus adalah putra Daedalus, yang kisahnya berakhir tragis setelah melarikan diri dari Pulau Kreta menggunakan sayap bulu dan lilin buatan ayahnya.

Karya patung media campuran berdimensi 150x150x90 sentimeter ini, seolah menafsir ulang mitos klasik tentang kebebasan. Khususnya refleksi tentang kegagalan, kerentanan, dan ambisi seorang manusia dalam menggapai apa yang dia inginkan.

Menurut Chris, kejatuhan Icarus bukan semata akhir dari sebuah mitos, melainkan titik balik yang membuka pembacaan baru tentang ambisi manusia. “Saat ini ada banyak orang yang memiliki ambisi, tapi ada yang berani mengambilnya, tapi ada juga yang tidak,” katanya.
 

ahah

Lukisan Icarian Ascension (tengah) karya seniman Alexander Chris, dalam pameran Yang Menampakkan Dirinya, di Neo Gallery, Jakarta. (sumber gambar: Hypeabis.id/Prasetyo Agung Ginanjar)

Kedekatan Chris dengan kisah-kisah lama dan narasi biblikal, yang berkaitan dengan latar belakang pendidikannya dalam sejarah gereja. Sosok Icarus juga dihadirkan dalam lukisan berjudul Icarian Ascension (2025).

Namun berbeda dengan karya sebelumnya, figur bersayap dalam lukisan ini digambarkan duduk di atas singgasana dengan mata terpejam dan ekspresi lunglai. Draperi merah dan latar kota yang terbakar seolah juga menghadirkan ambiguitas antara kemenangan dan kelelahan.

Kurator Heru Hikayat menjelaskan, senarai karya Chris dalam pameran ini memang tidak hanya sekadar mengutip, melainkan menafsir ulang. Sang seniman, juga memanfaatkan teknik melukis dan mematung realis untuk menggubah tokoh-tokoh dari kisah yang dijadikan pokok persoalan.

Misalnya dalam karya Apostle (2024), yang merujuk pada tokoh supra-manusia. Chris menggambarkan sosok tersebut dengan fokus pada punggung bagian atas yang berdarah karena sayapnya yang telah terlepas. Menariknya, tokoh itu menjadi manusia justru karena melepaskan unsur yang memberinya kuasa supra.

Menurut Heru, Chris juga lebih memilih menggunakan pendekatan realis untuk menampilkan perwatakan tokoh dari kisah yang diangkat. Sebab, selain karakter, narasi yang menjadi pokok persoalan tema dipandang relevan dalam menghadirkan hubungan antara masa lalu dan masa kini.

“Bagi Chris, kisah-kisah lama ini merupakan khazanah narasi arketipal yang dapat terus ditafsir ulang sesuai dengan semangat zaman,” katanya.


Beragam Cara Melihat

Selain Alexander Chris, pameran juga memacak karya dari seniman lain. Mereka adalah Act Move, Cecep M. Taufik, Didit Sudianto, Mola, Rieswandi, Rudy Murdock, Singgih Adhi Prasetyo, dan Sumastania Widyandari. Seluruh seniman juga menghadirkan karya dengan tema beragam.

Seniman Act Move, misalnya, yang tidak hanya menawarkan narasi tunggal, melainkan fragmen-fragmen visual yang saling bertubrukan. Dalam pameran ini, karyanya menjadi penanda bagaimana citra bergerak bebas dan terus ditafsir ulang oleh siapa pun yang melihatnya.

Salah satunya Remixculture (2025) yang terdiri dari dua seri. Menggunakan media campuran yang ditempel di dinding, seniman bernama asli Arman Jamparing itu menggunakan teknik kolase untuk menghadirkan citraan dari berbagai sumber, baik masa lalu maupun masa depan.

Hasilnya adalah citra yang ramai, penuh, dan serba sesak. Pengunjung juga bisa melihat bentangan visual ulang-alik antara dunia digital dan kenyataan. Momen bertemunya dua dunia yang bagi sang seniman memang saling berkelindan pada situasi termutakhir.
 

ahah

 karya seniman Act Move berjudul Remixculture (2025), dalam pameran Yang Menampakkan Dirinya, di Neo Gallery, Jakarta. (sumber gambar: Hypeabis.id/Prasetyo Agung Ginanjar)


Lain lagi seniman Didit Sudianto, yang menggunakan teknik Flemish, sebuah teknik yang berkembang di wilayah Belgia pada abad ke-15 hingga ke-17. Flemish adalah metode melukis cat minyak klasik berlapis, rumit, dan sangat detail dengan ciri lapisan glasir transparan.

Refleksi itu hadir dalam karya berjudul Silence Before the Storm (2023) yang menampilkan pemandangan alam bergaya naturalis. Menariknya, melalui teknik ini, pengunjung dapat melihat detail yang kaya warna dari gradasi pemandangan tersebut.

Didit juga menggunakan pendekatan apropriasi dalam sebagian karyanya. Dia mengambil citra dari lukisan-lukisan ikonik dan bersejarah, mengadaptasinya, lalu menyisipkan perbedaan atau pesan baru. Salah satunya dalam karya berjudul Friendship (2020) yang sepintas mengingatkan karya Mona Lisa.

“Komposisi karya Didit melengkapi ‘kubu realis’ dalam pameran ini. Seperti Alexander Chris, Didit adalah penafsir yang menghadirkan relevansi baru dari khazanah lama yang melampaui waktu dan ruang asalnya,” imbuh Heru.

Direktur NEO Gallery, Stefanus Randy Oenardi Raharjo, mengatakan pameran ini memang hadir sebagai undangan untuk memperlambat cara kita melihat. Termasuk pentingnya memberi ruang bagi karya untuk 'berbicara', lalu membiarkan makna muncul melalui pengalaman visual.

“Saat itu terjadi, sebuah karya bukan hanya hasil tangan individual, tetapi menjadi ruang pertemuan antara imajinasi pribadi dan pandangan kolektif yang membentuk cara kita melihat,” katanya.

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News

SEBELUMNYA

Rayakan Satu Dekade Berkarya, Reality Club Bakal Gelar Konser Spesial di Jakarta

BERIKUTNYA

Defisit Moral Demokrasi Indonesia dalam Pandangan Romo Magnis

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga