Illustrasi Nasi jepang (sumber: Freepik)

Rahasia Orang Jepang Makan Nasi Tiap Hari Tapi Tetap Langsing

08 January 2026   |   09:00 WIB
Image
Bianca Wanda Zakia Mahasiswa Universitas Bina Nusantara

Orang Jepang dikenal menjadikan nasi sebagai makanan pokok yang dikonsumsi hampir di setiap waktu makan, mulai dari pagi, siang, hingga malam. Namun menariknya, tingkat obesitas di Negeri Sakura ini justru tergolong sangat rendah dibandingkan banyak negara lain.

Melansir dari Futura Sciences, fenomena ini bukan disebabkan oleh penghindaran karbohidrat, melainkan oleh pola makan yang terkontrol, porsi yang seimbang, serta gaya hidup yang disiplin dan aktif. Di Jepang, porsi nasi yang disajikan jauh lebih kecil dibandingkan standar porsi di banyak negara Barat. 

Baca juga: Kemampuan Bahasa Inggris Jepang Merosot ke Titik Terendah Global

Seporsi nasi putih umumnya hanya sekitar 140 gram, dengan kandungan kalori kurang lebih 200 kalori. Porsi ini cukup untuk memberikan energi tanpa membebani tubuh dengan asupan berlebihan. Bahkan makanan praktis seperti onigiri atau nasi kepal isi ikan dan sayuran juga memiliki ukuran yang relatif kecil sehingga tetap aman dikonsumsi sebagai sumber energi harian.

Selain porsi yang terkontrol, sup menjadi elemen penting dalam setiap hidangan orang Jepang. Sup miso atau sup kaldu bening biasanya dikonsumsi setidaknya dua kali sehari. Kebiasaan ini membantu memberikan rasa kenyang lebih awal sebelum menyantap hidangan utama. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa mengawali makan dengan sup dapat mengurangi total asupan kalori karena tubuh lebih cepat merasa puas.

Budaya makan di Jepang juga sangat menekankan keteraturan. Ngemil di luar jam makan utama bukanlah kebiasaan umum. Makan sambil berjalan atau mengemil tanpa tujuan dianggap kurang sopan secara sosial. Hal ini secara tidak langsung membantu mengurangi konsumsi makanan tinggi gula dan lemak yang sering menjadi penyebab kenaikan berat badan di banyak negara lain.

Gaya hidup aktif menjadi faktor penting lainnya. Aktivitas fisik ringan seperti berjalan kaki, bersepeda, dan menggunakan transportasi umum merupakan bagian dari rutinitas harian masyarakat Jepang. Tanpa harus melakukan olahraga berat, aktivitas ini membantu pembakaran kalori secara konsisten sepanjang hari. Bahkan kebiasaan duduk di lantai atau tatami juga membuat tubuh lebih aktif dibandingkan duduk lama di sofa empuk.

Selain itu, orang Jepang memiliki hubungan emosional yang kuat dengan makanan. Sejak kecil, mereka diajarkan untuk menghargai setiap butir nasi dan tidak menyisakan makanan di piring. Sikap ini menumbuhkan kesadaran untuk makan secukupnya dan tidak berlebihan. Mereka jarang mengambil porsi tambahan jika makanan di mangkuk belum benar benar habis.

Meskipun pengaruh makanan modern dan Barat mulai masuk ke Jepang, kebiasaan makan tradisional tetap menjadi fondasi utama. Hal ini terlihat dari tingkat obesitas Jepang yang hanya sekitar 3,6 persen, jauh lebih rendah dibandingkan negara seperti Amerika Serikat. Angka tersebut menunjukkan bahwa keseimbangan antara pola makan, budaya, dan aktivitas fisik berperan besar dalam menjaga berat badan ideal.
 

SEBELUMNYA

Studi Baru Pertanyakan Manfaat Intermittent Fasting Bagi Kesehatan

BERIKUTNYA

Sukses Besar di Box Office, The Housemaid Resmi Lanjut dengan Film Sekuel

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga