Ilustrasi robot AI. (Sumber gambar: Rawpixels/Freepik)

AI Berpotensi Gantikan Pekerjaan Lama, CEO MySkill Soroti Peluang Baru

06 January 2026   |   14:48 WIB
Image
Desyinta Nuraini Jurnalis Hypeabis.id

Perkembangan kecerdasan buatan (AI) diproyeksikan akan mengubah peta kebutuhan tenaga kerja dalam beberapa tahun ke depan. Sejumlah pekerjaan yang bersifat repetitif dan administratif dinilai berpotensi tergantikan oleh teknologi, seiring meningkatnya adopsi AI di berbagai sektor industri.

CEO MySkill Angga Fauzan menilai, meskipun AI mengancam sebagian jenis pekerjaan lama, teknologi ini justru membuka peluang lahirnya profesi baru. Sejumlah peran seperti automation specialist, AI trainer, hingga data-driven marketer diperkirakan akan semakin dibutuhkan.

“Segala pekerjaan yang repetitif tentu bisa digantikan AI. Tapi di saat yang sama, ada banyak kebutuhan baru yang muncul,” ujar Angga.

Baca juga: Euforia Kecerdasan Buatan Berkembang Sejak Era Yunani Kuno

Merespons perubahan tersebut, MySkill menyiapkan kurikulum yang lebih aplikatif dan relevan dengan kebutuhan industri. Materi pelatihan difokuskan pada penerapan AI lintas profesi, mulai dari pemasaran, pengembangan perangkat lunak, hingga pengelolaan sumber daya manusia.

Saat ini, mayoritas peserta MySkill dan Clicky.id berasal dari kelompok usia 18–30 tahun. Namun, Angga mencatat adanya peningkatan signifikan dari kalangan pekerja berusia 30–45 tahun yang mulai melakukan reskilling agar tetap kompetitif di dunia kerja. Menurutnya, kebutuhan peningkatan keterampilan tidak terlepas dari tuntutan industri yang semakin dinamis.

Ke depan, Angga memandang kemampuan beradaptasi dan pemahaman dasar mengenai AI akan menjadi fondasi utama bagi talenta kerja pada 2026. Ketergantungan semata pada latar belakang pendidikan formal dinilai tidak lagi memadai.

“Kita tidak bisa hanya mengandalkan jurusan kuliah. Setiap orang perlu punya keterampilan untuk mengadopsi AI dalam pekerjaannya,” katanya.

Dia menegaskan, pekerja tidak harus menjadi ahli AI untuk bertahan di industri. Namun, keterbukaan terhadap integrasi teknologi menjadi langkah krusial. Seorang akuntan, misalnya, perlu memahami bagaimana AI dapat membantu proses analisis keuangan, sementara desainer kreatif dituntut memanfaatkan AI untuk meningkatkan produktivitas.

Sejalan dengan transformasi tersebut, MySkill juga memperluas fokus bisnisnya melalui pengembangan platform Clicky.id. Platform ini dirancang untuk memfasilitasi kreator, profesional, dan edukator dalam memonetisasi pengetahuan serta karya digital, mulai dari kelas daring, e-book, template, hingga layanan profesional.

“Kita tidak bisa lagi hanya bergantung pada satu pekerjaan. Pada akhirnya, skill yang kita miliki adalah aset utama. Clicky hadir sebagai alternatif sumber pendapatan bagi para profesional,” ujar Angga.

Fenomena skill commerce pun mulai terlihat. Angga mencontohkan seorang mahasiswi yang mampu meraih pendapatan hingga Rp100 juta per bulan dengan menjual catatan kuliah melalui platform tersebut. Selain konten edukasi, keterampilan teknis seperti pengoperasian drone juga kian diminati, seiring meningkatnya kebutuhan di sektor pertanian, pertambangan, hingga industri kreatif.

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News

SEBELUMNYA

Debut Layar Lebar, Aco Tenri Meramu Luka Keluarga lewat Film Suka Duka Tawa

BERIKUTNYA

Jadwal Event Lari Maraton & Trail Run Januari 2026

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga