Illustrasi Artificial intelligence (sumber: Freepik)

Fenomena Collective Abandonment: Ketika Manusia Lebih Memilih AI daripada Sesama

22 November 2025   |   20:00 WIB
Image
Bianca Wanda Zakia Mahasiswa Universitas Bina Nusantara

Di era kecerdasan buatan yang semakin dominan, muncul konsep psikologis collective abandonment, yakni rasa “ditinggalkan bersama” dalam skala besar. Istilah ini menggambarkan kecemasan yang timbul ketika teknologi berkembang begitu cepat hingga manusia merasa kehilangan tempat, arah, atau peran dalam hubungan sosialnya.

Dalam tulisannya di Psychology Today, Cornelia C. Walther menekankan bahwa fenomena ini tidak semata-mata dipicu oleh AI, melainkan lahir dari pilihan manusia sendiri yang lebih sering bergantung pada teknologi dibanding saling menjaga.

Baca juga: Mood Naik Turun? Ini 6 Cara Meningkatkan Dopamin Secara Alami

Salah satu mekanisme psikologis yang ia soroti adalah proximity bias, kecenderungan manusia memberi perhatian lebih pada hal-hal yang tampak dekat dan nyata. AI ada di genggaman—di ponsel dan komputer—sementara penderitaan manusia di tempat jauh, seperti kemiskinan ekstrem, terasa abstrak dan mudah kita abaikan.

Dari sini muncul ironi besar: di satu sisi, miliaran dolar mengalir deras untuk mengembangkan AI; di sisi lain, jutaan orang yang hidup dalam kekurangan tidak mendapat perhatian yang sama. Fenomena ini diperkuat oleh apa yang disebut Walther sebagai technological solutionism, keyakinan bahwa masalah sosial yang rumit bisa diselesaikan lewat solusi teknis.

Kita lebih nyaman menyerahkan urusan dunia pada kecanggihan mesin ketimbang berhadapan langsung dengan isu-isu sulit seperti ketimpangan, distribusi kekuasaan, atau keadilan sosial.

Rasa “aman” palsu itulah yang membuat investasi AI tampak lebih menarik. Teknologi memberi ilusi bahwa kita mengendalikan masa depan, sementara problem sosial dianggap terlalu berantakan untuk disentuh.

Mekanisme lain yang ikut berperan adalah diffusion of responsibility: ketika tanggung jawab terasa tersebar ke banyak pihak, setiap orang merasa masalah global bukan tugasnya. Akibatnya, terciptalah efek bystander dalam skala dunia, kesempatan untuk bertindak ada, tetapi perhatian kita tersedot ke gemerlap AI.

Tekanan pasar juga memperkuat lingkaran ini. FOMO dalam investasi AI membuat perusahaan dan individu berlomba-lomba ikut tren agar tidak tertinggal, meski sering kali tanpa mempertimbangkan nilai jangka panjang atau implikasi etisnya. Semua bergerak cepat, namun tidak selalu ke arah yang manusiawi.

Walther lalu menawarkan jalan keluar yang ia sebut ProSocial AI. Ia mendorong agar teknologi dinilai bukan dari kecanggihannya, tetapi dari dampaknya terhadap martabat manusia dan keberlanjutan bumi. AI harus dirancang bersama komunitas yang paling terdampak—termasuk negara-negara Global Selatan—agar manfaatnya tidak hanya dinikmati investor, tetapi juga masyarakat luas.

Ia juga memperkenalkan gagasan hybrid intelligence: keputusan penting tidak boleh sepenuhnya diserahkan pada mesin. Kecerdasan artifisial harus berjalan berdampingan dengan empati dan pertimbangan moral manusia. Dengan cara ini, otonomi dan nilai kemanusiaan tetap terjaga di tengah derasnya arus teknologi.

Untuk membalik fenomena collective abandonment, Walther mengusulkan beberapa “titik tuas psikologis”, seperti mendorong aktivisme pemegang saham agar perusahaan AI memasukkan metrik dampak sosial dalam laporan tahunan, serta mengubah narasi publik agar biaya lingkungan dari penggunaan AI—seperti air dan listrik—menjadi lebih disadari dan diperhitungkan.

Collective abandonment adalah refleksi nyata dari dilema modern: kita memilih kecanggihan teknologi, tapi kadang mengorbankan perhatian dan kepedulian terhadap sesama manusia. Walther mengajak kita untuk berpikir ulang, bukan hanya tentang apa yang bisa AI lakukan, tetapi tentang apa yang seharusnya AI lakukan agar masa depan tetap manusiawi dan penuh empati.

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News

SEBELUMNYA

Jakarta IP Market 2025 Tegaskan Ibu Kota sebagai Hub Perdagangan Kekayaan Intelektual

BERIKUTNYA

Drama Targaryen Berlanjut, HBO Umumkan House of the Dragon Season 4

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga