Startup LindungiHutan Dorong Reforestasi Lewat Kolaborasi Swasta dan Masyarakat
05 January 2026 |
21:01 WIB
Sebagai paru-paru dunia, hutan memiliki peran penting dalam kehidupan manusia. Selain menjaga keseimbangan ekosistem, hutan juga berperan untuk menyerap karbon, meredam laju perubahan iklim serta pemanasan global yang kian terasa.
Manfaat hutan tak terbatas pada lingkungan semata, tetapi juga berdampak langsung bagi keberlanjutan hidup manusia sehingga keberadaannya, patut dijaga dan dilestarikan.
Baca juga: Dari Methuselah hingga Hyperion, Mengenal Pohon-Pohon Paling Istimewa di Planet Bumi
Namun, upaya menjaga kelestarian hutan tidak bisa hanya bergantung pada pemerintah. Peran swasta dan masyarakat sipil juga turut menjadi kunci dalam mempercepat rehabilitasi dan reforestasi di berbagai daerah. Di sinilah inisiatif seperti yang dilakukan LindungiHutan mengambil peran strategis.
Didirikan pada 2016 di Semarang, LindungiHutan menjadi jembatan kolaboratif antara masyarakat, komunitas lokal, dan perusahaan untuk melakukan aksi nyata penghijauan untuk menanam serta merawat pohon secara berkelanjutan.
Startup lingkungan ini mengembangkan platform crowdplanting yang memudahkan siapapun termasuk korporasi, berpartisipasi dalam penanaman dan perawatan pohon secara transparan dan terukur.
CEO sekaligus Co-founder Lindungi Hutan, Miftachurrobani mengatakan bahwa visi utama mereka adalah menyelamatkan hutan untuk kemanusiaan. “Kami ingin semua orang bisa ikut menghijaukan Indonesia. Tidak hanya menanam pohon, tapi juga memastikan pohon itu dirawat dan tumbuh,” ujar pria yang akrab disapa Ben ini.
Melalui platform digitalnya, Lindungi Hutan menghubungkan masyarakat, komunitas, dan korporasi untuk melakukan aksi reboisasi yang terukur dan transparan. Hingga saat ini, Lindungi Hutan telah bekerja dengan mitra petani lokal di 35 titik penghijauan di seluruh Indonesia mulai dari hutan mangrove di pesisir Jawa hingga kawasan konservasi di Kalimantan dan Sulawesi.
Adapun jumlah pohon yang ditanam sudah mencapai lebih dari 1,1 juta pohon yang dilakukan bersama lebih dari 640 perusahaan mulai dari UMKM hingga perusahaan nasional dan multinasional, serta ribuan individu.
Setiap kerja sama disertai laporan terbuka yang memuat data pertumbuhan pohon, tinggi, diameter batang, hingga estimasi serapan karbon sebagai bukti nyata kontribusi lingkungan dari masing-masing mitra.
“Kami ingin semua orang, termasuk perusahaan, ikut menghijaukan Indonesia. Tidak hanya menanam, tapi juga memastikan pohon-pohon itu hidup dan dirawat,” tuturnya.
Melalui pendekatan ini, Lindungi Hutan tidak sekedar menghadirkan kegiatan CSR simbolik yang bersifat seremoni, tetapi membangun komitmen jangka panjang antara sektor swasta dan komunitas lokal untuk memulihkan lahan kritis.
“Kami tidak ingin kegiatan penanaman berhenti di seremoni satu hari. Setiap kerja sama kami pastikan disertai perawatan dan monitoring selama satu tahun penuh. Untuk itu kami menjalin kerjasama dengan mitra petani lokal di berbagai daerah,” ungkapnya.
Menurutnya, tren reboisasi oleh perusahaan bukan semata pencitraan hijau (green branding), tetapi cerminan kepedulian nyata. “Branding itu hanya konsekuensi. Kalau tidak peduli, perusahaan tidak akan melakukannya,” ujarnya.
Lindungi Hutan juga menekankan transparansi ilmiah dimana setiap jenis pohon memiliki perhitungan estimasi serapan karbon. Misalnya, mangrove mampu menyerap hingga 10 kali lipat karbon dibandingkan pohon darat, sehingga menjadi fokus utama program mereka.
“Kata kuncinya adalah pohon yang ditanam tidak boleh ditebang. Kami fokus pada jenis seperti mangrove, cemara laut, trembesi, atau pohon buah yang memberi manfaat bagi masyarakat,” tutur Ben.
Manfaat hutan tak terbatas pada lingkungan semata, tetapi juga berdampak langsung bagi keberlanjutan hidup manusia sehingga keberadaannya, patut dijaga dan dilestarikan.
Baca juga: Dari Methuselah hingga Hyperion, Mengenal Pohon-Pohon Paling Istimewa di Planet Bumi
Namun, upaya menjaga kelestarian hutan tidak bisa hanya bergantung pada pemerintah. Peran swasta dan masyarakat sipil juga turut menjadi kunci dalam mempercepat rehabilitasi dan reforestasi di berbagai daerah. Di sinilah inisiatif seperti yang dilakukan LindungiHutan mengambil peran strategis.
Didirikan pada 2016 di Semarang, LindungiHutan menjadi jembatan kolaboratif antara masyarakat, komunitas lokal, dan perusahaan untuk melakukan aksi nyata penghijauan untuk menanam serta merawat pohon secara berkelanjutan.
Startup lingkungan ini mengembangkan platform crowdplanting yang memudahkan siapapun termasuk korporasi, berpartisipasi dalam penanaman dan perawatan pohon secara transparan dan terukur.
CEO sekaligus Co-founder Lindungi Hutan, Miftachurrobani mengatakan bahwa visi utama mereka adalah menyelamatkan hutan untuk kemanusiaan. “Kami ingin semua orang bisa ikut menghijaukan Indonesia. Tidak hanya menanam pohon, tapi juga memastikan pohon itu dirawat dan tumbuh,” ujar pria yang akrab disapa Ben ini.
Melalui platform digitalnya, Lindungi Hutan menghubungkan masyarakat, komunitas, dan korporasi untuk melakukan aksi reboisasi yang terukur dan transparan. Hingga saat ini, Lindungi Hutan telah bekerja dengan mitra petani lokal di 35 titik penghijauan di seluruh Indonesia mulai dari hutan mangrove di pesisir Jawa hingga kawasan konservasi di Kalimantan dan Sulawesi.
Adapun jumlah pohon yang ditanam sudah mencapai lebih dari 1,1 juta pohon yang dilakukan bersama lebih dari 640 perusahaan mulai dari UMKM hingga perusahaan nasional dan multinasional, serta ribuan individu.
Setiap kerja sama disertai laporan terbuka yang memuat data pertumbuhan pohon, tinggi, diameter batang, hingga estimasi serapan karbon sebagai bukti nyata kontribusi lingkungan dari masing-masing mitra.
“Kami ingin semua orang, termasuk perusahaan, ikut menghijaukan Indonesia. Tidak hanya menanam, tapi juga memastikan pohon-pohon itu hidup dan dirawat,” tuturnya.
Melalui pendekatan ini, Lindungi Hutan tidak sekedar menghadirkan kegiatan CSR simbolik yang bersifat seremoni, tetapi membangun komitmen jangka panjang antara sektor swasta dan komunitas lokal untuk memulihkan lahan kritis.
“Kami tidak ingin kegiatan penanaman berhenti di seremoni satu hari. Setiap kerja sama kami pastikan disertai perawatan dan monitoring selama satu tahun penuh. Untuk itu kami menjalin kerjasama dengan mitra petani lokal di berbagai daerah,” ungkapnya.
Menurutnya, tren reboisasi oleh perusahaan bukan semata pencitraan hijau (green branding), tetapi cerminan kepedulian nyata. “Branding itu hanya konsekuensi. Kalau tidak peduli, perusahaan tidak akan melakukannya,” ujarnya.
Lindungi Hutan juga menekankan transparansi ilmiah dimana setiap jenis pohon memiliki perhitungan estimasi serapan karbon. Misalnya, mangrove mampu menyerap hingga 10 kali lipat karbon dibandingkan pohon darat, sehingga menjadi fokus utama program mereka.
“Kata kuncinya adalah pohon yang ditanam tidak boleh ditebang. Kami fokus pada jenis seperti mangrove, cemara laut, trembesi, atau pohon buah yang memberi manfaat bagi masyarakat,” tutur Ben.
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.