Ilustrasi terapi anak. (Sumber foto: Pexels/Pavel Danilyuk)

Permintaan Pusat Terapi Anak Meningkat, Bertransformasi Jadi Sektor Usaha Menjanjikan

05 January 2026   |   20:42 WIB
Image
Dewi Andriani Jurnalis Hypeabis.id

Permintaan terhadap layanan pusat terapi anak di Indonesia terus menunjukkan tren peningkatan signifikan. Jika satu dekade lalu fasilitas terapi masih tergolong terbatas dan umumnya hanya tersedia di kota-kota besar, kini pusat terapi tumbuh pesat dan menjangkau berbagai daerah, termasuk kota menengah.

Perkembangan ini menandai pergeseran peran pusat terapi, dari yang semula dipandang sebagai layanan sosial, menjadi sektor usaha dengan potensi ekonomi yang kian menjanjikan.

Baca juga: Mengulik Prospek Bisnis Fisioterapis Di Tengah Tren Marathon

Pemilik Rumah Terapi Pelangi Insan, Mundriati, mengatakan tren ini tidak lepas dari meningkatnya kesadaran orang tua akan pentingnya deteksi dini tumbuh kembang anak, serta akses informasi yang kian mudah lewat media sosial, tenaga kesehatan, hingga komunitas orang tua.

“Dalam beberapa tahun terakhir, jumlah anak yang membutuhkan layanan terapi memang makin meningkat. Orang tua pun lebih cepat membawa anak ke pusat terapi dibandingkan sebelumnya, karena makin paham pentingnya deteksi dini,” ujarnya.

Ekspansi cabang menjadi salah satu strategi yang banyak ditempuh pelaku usaha untuk menjangkau lebih banyak keluarga. Rumah Terapi Pelangi Insan sendiri telah membuka cabang di Banjarnegara, Wonosobo, Purbalingga, hingga Condet.

Menurutnya, potensi bisnis pusat terapi anak sangat besar, mengingat meningkatnya angka deteksi dini dan kebutuhan intervensi sejak usia dini. Ke depan, pusat terapi tidak hanya menjadi tempat layanan kesehatan, tetapi juga mitra edukasi orang tua dan sekolah.

Mundriati menyampaikan bahwa seiring meningkatnya permintaan, ragam layanan terapi juga semakin luas. Ia mencontohkan Rumah Terapi Pelangi Insan yang menyediakan terapi okupasi, terapi wicara, fisioterapi, terapi integrasi sensori, ABA (Applied Behavior Analysis), hingga terapi remedial atau akademik.

Dari berbagai layanan tersebut, menurutnya terapi okupasi dan terapi wicara menjadi yang paling banyak dibutuhkan.

Tren serupa juga terlihat di banyak pusat terapi lain. Masifnya penggunaan gawai pada usia dini menjadi salah satu penyebab meningkatnya kebutuhan intervensi, terutama pada kemampuan bahasa, perilaku, dan motorik anak.

“Sebagian besar anak dengan hambatan perkembangan menghadapi masalah komunikasi, motorik, dan kemandirian sehari-hari,” jelas Mundriati.

Adapun tarif layanan terapi cukup variatif tetapi cenderung stabil dalam rentang menengah. Di Rumah Terapi Pelangi Insan, biaya terapi berada di kisaran Rp150.000–Rp300.000 per sesi, tergantung jenis terapi dan durasi.

Mundriati menjelaskan bahwa untuk meringankan beban keluarga, pihaknya menyediakan paket bulanan dengan harga lebih terjangkau. Dalam sejumlah kasus, keluarga juga dapat memperoleh rujukan agar sebagian biaya ditanggung BPJS, meski belum semua jenis terapi terakomodasi.

Selain itu, ada pula beberapa dukungan dari pemerintah daerah yang mulai menggulirkan subsidi atau menggandeng lembaga sosial untuk memperluas akses layanan.

Namun, tetap saja bagi banyak keluarga, terapi merupakan investasi jangka panjang. Rata-rata anak perlu menjalani terapi selama 6 bulan hingga 1 tahun sebelum terlihat perkembangan signifikan. “Konsistensi orang tua dalam mendukung program di rumah juga mempengaruhi hasil,” ungkapnya.
 

para terapis di Rumah Terapi Pelangi Insan (sumber : Rumah Terapi Pelangi Insan)

Terapis di Rumah Terapi Pelangi Insan. (Sumber foto: Rumah Terapi Pelangi Insan)


Seiring bertambahnya permintaan, kualitas pelayanan menjadi faktor penting yang membedakan satu pusat terapi dengan yang lain. Menurut Mundriati, seluruh terapis di Rumah Terapi Pelangi Insan memiliki latar belakang pendidikan resmi di bidang masing-masing.

“Selain itu, mereka juga secara berkala mengikuti pelatihan, workshop, dan sertifikasi. Evaluasi internal rutin dilakukan untuk menjaga standar layanan,” katanya.

Aspek kualitas inilah yang membuat orang tua rela mengeluarkan biaya lebih, asalkan perkembangan anak dapat terpantau dengan baik dan ditangani secara profesional.

Meski peluang bisnis besar, tantangan tetap ada. Dari sisi orang tua, hambatan terbesar biasanya bukan hanya finansial, tetapi juga emosional.

“Tantangan terbesar biasanya menerima kondisi anak. Banyak orang tua masih berada pada fase denial atau merasa bersalah. Padahal, terapi memerlukan konsistensi jangka panjang. Mengatur waktu, biaya, dan komitmen menjadi tantangan nyata,” papar Mundriati.

Stigma masyarakat terhadap anak berkebutuhan khusus juga masih ada. Hal ini menuntut pusat terapi tidak hanya menjadi penyedia layanan medis, tetapi juga agen edukasi sosial.

Untuk menghadapi kebutuhan yang kian kompleks, pusat terapi kini mulai mengadopsi teknologi. Rumah Terapi Pelangi Insan, misalnya, mengembangkan layanan konsultasi online dan pemantauan progres melalui aplikasi.

“Penggunaan media digital interaktif dalam terapi maupun komunikasi dengan orang tua menjadi tren yang tidak bisa dihindari. Ini membantu mempercepat komunikasi sekaligus meningkatkan efektivitas layanan,” katanya.

Dengan kombinasi ekspansi cabang dan digitalisasi, pelaku usaha di sektor ini percaya bahwa pusat terapi anak akan terus menjadi bisnis yang berkelanjutan di masa depan. Namun, untuk benar-benar inklusif, dukungan pemerintah dan kolaborasi lintas sektor masih menjadi kunci.
 
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News

SEBELUMNYA

Mengenal Kings League, Kompetisi yang Gabungkan Unsur Sepak Bola dan Hiburan

BERIKUTNYA

Startup LindungiHutan Dorong Reforestasi Lewat Kolaborasi Swasta dan Masyarakat

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga