Merayakan Seni Tanpa Label di Pameran Inklusif
05 January 2026 |
19:54 WIB
Di tengah riuh dunia seni rupa kontemporer, pameran yang memberi ruang bagi karya seniman dengan karunia khusus masih terbilang langka. Padahal, karya-karya tersebut layak dibaca, dinikmati, dan diapresiasi publik secara setara, tanpa label maupun jarak. Upaya itu dihadirkan Getback Parlour, Jakarta, melalui pameran bertajuk Inklusif.
Berlangsung hingga 17 Januari 2026, pameran ini digelar di ruang yang tak biasa, sebuah kafe yang sekaligus berfungsi sebagai kantor arsitek milik Zumar Muzammil..
Memasuki ruang pamer, pengunjung akan bersitatap dengan senarai karya dari tiga seniman dengan karunia khusus. Mereka adalah Raysha Dinar Kemal Gani, Benediktus Anfield Wibowo, dan Dwi Putro, yang disandingkan dengan karya Hilmi Faiq dan Joko Kisworo.
Baca juga: Pameran Seni Rupa Liur & Pencarian Tanpa Akhir Tan Markaban
Kurator pameran, Nawa Tunggal, mengatakan pameran ini merupakan ikhtiar penyelenggara agar karya seniman dengan karunia khusus dapat terhitung dan diakui sebagai karya seni rupa yang layak diapresiasi publik.
Merujuk Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), Nawa menjelaskan bahwa lema inklusif berarti terhitung atau termasuk. “Jadi apa yang diharapkan terhitung atau termasuk dalam pameran ini adalah karya dari teman-teman dengan karunia khusus,” katanya.
Gagasan inklusivitas itu tidak berhenti pada konsep kuratorial, melainkan hadir sebagai praktik di dalam ruang pamer. Karya-karya seniman dengan karunia khusus tidak dipisahkan, melainkan disandingkan dan saling berhadapan dengan karya perupa lainnya.
Karya Anfield Wibowo bertajuk 2 Faces (2025) bersanding dengan karya Hilmi Faiq berjudul Ledakan Sunyi (tanpa tahun). Hadir pula karya Joko Kisworo berjudul Pagar Bumi 2 (2024), karya Dwi Putro bertajuk Maria dan Yesus (2025), serta karya Raysha berjudul Callas Serenade (2025).
Lukisan-lukisan itu tersebar di dinding kafe, bersisian dengan rak buku dan dokumen kerja. Beragam objek, ukuran, dan medium menyatu dengan interior ruang, membuat pengunjung melihat seni sebagai bagian dari keseharian, bukan sesuatu yang terpisah.
Dari segi artistik, pengunjung bertemu dengan berbagai gaya dan teknik melukis. Anfield (20 tahun), dengan karunia tuna rungu, gangguan wicara, dan asperger, banyak melukis tema pergantian waktu, antara terang dan gelap, malam dan siang, hingga lanskap kota dengan gedung menjulang.
Salah satunya berjudul Full Moon in Canada (2025) dan Full Moon in Jakarta (2023). Kedua lukisan bermedium akrilik di atas kanvas berukuran sedang itu menampilkan landmark kedua kota, yakni Monas di Jakarta dan Menara CN di Toronto, dengan latar bulan purnama.
Doni, ayah Anfield, menuturkan sejak kanak-kanak buah hatinya memang gemar melukis. Lelaki kelahiran 19 November 2004 itu lebih memilih alat tulis, puzzle, atau lego dibanding mobil-mobilan, robot, atau bola. Dari sinilah Doni mulai memberi krayon untuk mencoret-coret kertas.
Momentum inilah yang menegaskan bahwa dunia visual memang menjadi ruang paling alami bagi Anfield mengekspresikan diri. Doni melihat kegiatan menggambar bukan sekadar hobi, melainkan jalan bagi anaknya untuk tumbuh dengan caranya sendiri.
Saat melukis, sang ayah juga membebaskan anaknya menentukan warna, bentuk, dan tema sesuai suasana hati Anfield. “Tema dari dia sendiri, warna dari dia sendiri, komposisi dari dia sendiri. Saya cuma nyiapin kanvas, habis itu saya tinggal,” katanya.
Lain lagi dengan Dwi Putro, atau kerap disapa Pak Wi. Seniman dengan disabilitas mental intelektual ini banyak melukis sosok Bunda Maria. Namun, Pak Wi juga melukis Raysha Dinar Kemal, salah satu seniman lain yang turut berpameran.
Dalam lukisan berjudul Raysha (2025), sang seniman menghadirkan potret Raysha tengah tersenyum sambil membaca buku. Karya ini, papar Nawa, menjadi bentuk inklusi sekaligus sikap berbaur Pak Wi dengan liyan, yang sebelumnya kerap menyendiri.
Menariknya, Pak Wi juga melukis maestro seni lukis Indonesia, Hendra Gunawan. Diberi judul Melukis Hendra Gunawan (2015), karya berdimensi 35 x 48 sentimeter ini merujuk pada karya Hendra berjudul Potret Diri, 12 Tahun Tanpa Mandi (1977), yang dibuat saat sang maestro dipenjara di Kebon Waru.
Berbeda dengan Anfield dan Pak Wi, karya-karya Raysha tampil lebih berwarna. Seniman dengan karunia spektrum autisme nonverbal ini banyak menyajikan keindahan bunga. Hal itu terlihat dalam karya Poppies at Sunset (2025) dan Dancing of Rafflesias (2025) yang didominasi warna-warna vibrant.
Founder Getback Parlour, Zumar, berharap pameran ini dapat menghadirkan keberagaman karya seni rupa, termasuk karya perupa dengan karunia khusus, agar dapat berbaur dan diapresiasi setara dengan perupa lainnya.
“Seni harus dirawat dan dipelihara agar tetap hidup. Sekitar 12.000 seniman aktif di negeri ini mencari peluang pameran. Bagaimana mereka memiliki portofolio jika jumlah tempat pameran tidak sebanding dengan jumlah seniman,” katanya
Berlangsung hingga 17 Januari 2026, pameran ini digelar di ruang yang tak biasa, sebuah kafe yang sekaligus berfungsi sebagai kantor arsitek milik Zumar Muzammil..
Memasuki ruang pamer, pengunjung akan bersitatap dengan senarai karya dari tiga seniman dengan karunia khusus. Mereka adalah Raysha Dinar Kemal Gani, Benediktus Anfield Wibowo, dan Dwi Putro, yang disandingkan dengan karya Hilmi Faiq dan Joko Kisworo.
Baca juga: Pameran Seni Rupa Liur & Pencarian Tanpa Akhir Tan Markaban
Kurator pameran, Nawa Tunggal, mengatakan pameran ini merupakan ikhtiar penyelenggara agar karya seniman dengan karunia khusus dapat terhitung dan diakui sebagai karya seni rupa yang layak diapresiasi publik.
Merujuk Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), Nawa menjelaskan bahwa lema inklusif berarti terhitung atau termasuk. “Jadi apa yang diharapkan terhitung atau termasuk dalam pameran ini adalah karya dari teman-teman dengan karunia khusus,” katanya.
Gagasan inklusivitas itu tidak berhenti pada konsep kuratorial, melainkan hadir sebagai praktik di dalam ruang pamer. Karya-karya seniman dengan karunia khusus tidak dipisahkan, melainkan disandingkan dan saling berhadapan dengan karya perupa lainnya.
Karya Anfield Wibowo bertajuk 2 Faces (2025) bersanding dengan karya Hilmi Faiq berjudul Ledakan Sunyi (tanpa tahun). Hadir pula karya Joko Kisworo berjudul Pagar Bumi 2 (2024), karya Dwi Putro bertajuk Maria dan Yesus (2025), serta karya Raysha berjudul Callas Serenade (2025).
Lukisan-lukisan itu tersebar di dinding kafe, bersisian dengan rak buku dan dokumen kerja. Beragam objek, ukuran, dan medium menyatu dengan interior ruang, membuat pengunjung melihat seni sebagai bagian dari keseharian, bukan sesuatu yang terpisah.

Karya Anfield Wibowo bertajuk 2 Faces (2025) dalam pameran seni rupa Inklusif di Getback Parlour, Jakarta. (sumber gambar: Hypeabis.id/Prasetyo Agung Ginanjar)
Dari segi artistik, pengunjung bertemu dengan berbagai gaya dan teknik melukis. Anfield (20 tahun), dengan karunia tuna rungu, gangguan wicara, dan asperger, banyak melukis tema pergantian waktu, antara terang dan gelap, malam dan siang, hingga lanskap kota dengan gedung menjulang.
Salah satunya berjudul Full Moon in Canada (2025) dan Full Moon in Jakarta (2023). Kedua lukisan bermedium akrilik di atas kanvas berukuran sedang itu menampilkan landmark kedua kota, yakni Monas di Jakarta dan Menara CN di Toronto, dengan latar bulan purnama.
Doni, ayah Anfield, menuturkan sejak kanak-kanak buah hatinya memang gemar melukis. Lelaki kelahiran 19 November 2004 itu lebih memilih alat tulis, puzzle, atau lego dibanding mobil-mobilan, robot, atau bola. Dari sinilah Doni mulai memberi krayon untuk mencoret-coret kertas.
Momentum inilah yang menegaskan bahwa dunia visual memang menjadi ruang paling alami bagi Anfield mengekspresikan diri. Doni melihat kegiatan menggambar bukan sekadar hobi, melainkan jalan bagi anaknya untuk tumbuh dengan caranya sendiri.
Saat melukis, sang ayah juga membebaskan anaknya menentukan warna, bentuk, dan tema sesuai suasana hati Anfield. “Tema dari dia sendiri, warna dari dia sendiri, komposisi dari dia sendiri. Saya cuma nyiapin kanvas, habis itu saya tinggal,” katanya.
Lain lagi dengan Dwi Putro, atau kerap disapa Pak Wi. Seniman dengan disabilitas mental intelektual ini banyak melukis sosok Bunda Maria. Namun, Pak Wi juga melukis Raysha Dinar Kemal, salah satu seniman lain yang turut berpameran.
Dalam lukisan berjudul Raysha (2025), sang seniman menghadirkan potret Raysha tengah tersenyum sambil membaca buku. Karya ini, papar Nawa, menjadi bentuk inklusi sekaligus sikap berbaur Pak Wi dengan liyan, yang sebelumnya kerap menyendiri.

Pengunjung menikmati senarai karya dalam pameran seni rupa Inklusif di Getback Parlour, Jakarta. (sumber gambar: Hypeabis.id/Prasetyo Agung Ginanjar)
Menariknya, Pak Wi juga melukis maestro seni lukis Indonesia, Hendra Gunawan. Diberi judul Melukis Hendra Gunawan (2015), karya berdimensi 35 x 48 sentimeter ini merujuk pada karya Hendra berjudul Potret Diri, 12 Tahun Tanpa Mandi (1977), yang dibuat saat sang maestro dipenjara di Kebon Waru.
Berbeda dengan Anfield dan Pak Wi, karya-karya Raysha tampil lebih berwarna. Seniman dengan karunia spektrum autisme nonverbal ini banyak menyajikan keindahan bunga. Hal itu terlihat dalam karya Poppies at Sunset (2025) dan Dancing of Rafflesias (2025) yang didominasi warna-warna vibrant.
Founder Getback Parlour, Zumar, berharap pameran ini dapat menghadirkan keberagaman karya seni rupa, termasuk karya perupa dengan karunia khusus, agar dapat berbaur dan diapresiasi setara dengan perupa lainnya.
“Seni harus dirawat dan dipelihara agar tetap hidup. Sekitar 12.000 seniman aktif di negeri ini mencari peluang pameran. Bagaimana mereka memiliki portofolio jika jumlah tempat pameran tidak sebanding dengan jumlah seniman,” katanya
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.