Diving Chess, Olahraga Unik yang Memadukan Catur dan Menyelam
05 January 2026 |
19:05 WIB
World Diving Chess Championships kembali digelar di Groningen, Belanda, pada 29 Desember 2025. Ajang ini tercatat sebagai edisi terbesar sepanjang sejarah diving chess, olahraga hibrida yang menggabungkan permainan catur klasik dengan freediving dan menuntut ketahanan fisik serta fokus tinggi dari para pesertanya.
Mengutip ChessBase, dalam kompetisi ini papan catur magnetik ditempatkan di dasar kolam renang. Para pemain harus menyelam, menahan napas, menganalisis posisi, lalu melakukan satu langkah sebelum kembali ke permukaan. Setelah satu pemain naik, lawannya langsung bergantian menyelam, tanpa jeda istirahat di antaranya.
Baca juga: Asal Usul Padel, Olahraga yang Jadi Bagian Gaya Hidup Modern
Zyon Kollen, peserta diving chess asal Belanda, dinobatkan sebagai juara dunia edisi 2025. Ia melangkah ke babak final dengan rekor sempurna 5–0 dan hanya memerlukan hasil imbang pada laga penentuan untuk memastikan gelar juara. Kollen pun menyatakan kesiapannya untuk kembali tampil pada edisi selanjutnya demi mempertahankan gelar tersebut.
Turnamen ini menarik minat peserta melebihi batas yang disediakan panitia. Namun, jumlah pemain dibatasi hanya 40 orang lantaran keterbatasan papan catur khusus yang digunakan di bawah air. Peserta yang ambil bagian berasal dari beragam kelompok usia, mulai dari anak berusia 10 tahun hingga pemain dewasa berpengalaman, menunjukkan daya tarik diving chess yang menjangkau lintas generasi.
Pada kategori putri, gelar juara dunia diraih oleh Josephine Damen. Pemain berusia 17 tahun tersebut tercatat sebagai peserta perempuan dengan peringkat tertinggi dalam kejuaraan ini.
Mengacu pada laman resmi Mind Sports Olympiad, diving chess pertama kali diperkenalkan oleh master catur asal Amerika Serikat, Etan Ilfeld, pada 2012 dalam rangkaian Mind Sports Olympiad. Seiring waktu, olahraga ini berkembang dan kini telah memiliki kejuaraan nasional di sejumlah negara Eropa, termasuk Jerman, Polandia, Austria, dan Belanda.
Meski mengusung titel “kejuaraan dunia”, kompetisi ini belum berada di bawah naungan resmi FIDE (Fédération Internationale des Échecs/Federasi Catur Internasional). Seperti dilaporkan Chess Festival Groningen, turnamen ini lebih bersifat ajang pencobaan dan eksperimen, sekaligus menawarkan format permainan yang berbeda bagi pemain maupun penonton.
Mengutip ChessBase, dalam kompetisi ini papan catur magnetik ditempatkan di dasar kolam renang. Para pemain harus menyelam, menahan napas, menganalisis posisi, lalu melakukan satu langkah sebelum kembali ke permukaan. Setelah satu pemain naik, lawannya langsung bergantian menyelam, tanpa jeda istirahat di antaranya.
Baca juga: Asal Usul Padel, Olahraga yang Jadi Bagian Gaya Hidup Modern
Zyon Kollen, peserta diving chess asal Belanda, dinobatkan sebagai juara dunia edisi 2025. Ia melangkah ke babak final dengan rekor sempurna 5–0 dan hanya memerlukan hasil imbang pada laga penentuan untuk memastikan gelar juara. Kollen pun menyatakan kesiapannya untuk kembali tampil pada edisi selanjutnya demi mempertahankan gelar tersebut.
Turnamen ini menarik minat peserta melebihi batas yang disediakan panitia. Namun, jumlah pemain dibatasi hanya 40 orang lantaran keterbatasan papan catur khusus yang digunakan di bawah air. Peserta yang ambil bagian berasal dari beragam kelompok usia, mulai dari anak berusia 10 tahun hingga pemain dewasa berpengalaman, menunjukkan daya tarik diving chess yang menjangkau lintas generasi.
Pada kategori putri, gelar juara dunia diraih oleh Josephine Damen. Pemain berusia 17 tahun tersebut tercatat sebagai peserta perempuan dengan peringkat tertinggi dalam kejuaraan ini.
Mengacu pada laman resmi Mind Sports Olympiad, diving chess pertama kali diperkenalkan oleh master catur asal Amerika Serikat, Etan Ilfeld, pada 2012 dalam rangkaian Mind Sports Olympiad. Seiring waktu, olahraga ini berkembang dan kini telah memiliki kejuaraan nasional di sejumlah negara Eropa, termasuk Jerman, Polandia, Austria, dan Belanda.
Meski mengusung titel “kejuaraan dunia”, kompetisi ini belum berada di bawah naungan resmi FIDE (Fédération Internationale des Échecs/Federasi Catur Internasional). Seperti dilaporkan Chess Festival Groningen, turnamen ini lebih bersifat ajang pencobaan dan eksperimen, sekaligus menawarkan format permainan yang berbeda bagi pemain maupun penonton.
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.