Peserta mengikuti Tour Museum Macan dalam pameran Your Curious Journey, di Museum Macan, Jakarta. (sumber gambar: Museum Macan)

Menyentuh Alam Lewat Karya Seni Olafur Eliasson di Museum MACAN

02 January 2026   |   13:23 WIB
Image
Prasetyo Agung Ginanjar Jurnalis Hypeabis.id

Kabut tipis menyelimuti ruang pamer yang temaram. Tetesan air dari pipa berlubang, saat tersorot cahaya lampu, membentuk spektrum warna menyerupai pelangi. Fenomena visual itu hanya muncul dari sudut tertentu dan dapat disaksikan langsung oleh pengunjung yang melintas.

Pengalaman tersebut hadir lewat karya Beauty (1993) milik seniman Olafur Eliasson dalam pameran Your Curious Journey di Museum MACAN. Pameran ini berlangsung hingga 12 April 2026 dan menjadi titik awal eksplorasi Eliasson mengenai cara manusia memersepsikan alam melalui cahaya, air, dan ruang.

Baca juga: Tiket Museum Nasional Naik Mulai 2026, Ini Daftar Harga & Jam Operasional Terbaru

Eliasson lahir di Islandia dan besar di Denmark. Dia dikenal sebagai seniman yang menjadikan fenomena alam sebagai medium utama. Alam, bagi Eliasson, bukan sekadar objek visual, melainkan entitas yang mengajak manusia berpartisipasi, bukan menguasainya.

Karya lain yang menyita perhatian adalah Moss Wall (1994). Dinding yang disusun dari lumut rusa kutub dan ditenun dengan jaring kawat ini menghadirkan aroma tanah hutan yang lembap. Sensasi tersebut menyergap indera dan menghadirkan pengalaman yang jarang dijumpai dalam ruang museum.

Lumut yang digunakan berasal dari dataran tinggi Islandia. Dengan memindahkannya ke dalam museum, Eliasson meruntuhkan batas antara ruang luar dan dalam. Pengunjung tak lagi sepenuhnya sadar apakah mereka sedang mengamati alam atau justru berada di dalamnya, lengkap dengan aroma tanah yang dapat dihirup.
 

Your Curious Journey

Peserta mengikuti Tour Museum Macan dalam pameran Your Curious Journey, di Museum Macan, Jakarta. (Sumber foto: Museum Macan)


Isu ekologis tampil paling gamblang dalam The Last Seven Days of Glacial Ice (2023). Karya ini merekam bongkahan es gletser Breiðamerkurjökull yang mencair. Es tersebut dipindai dalam bentuk tiga dimensi sebelum benar-benar lenyap.

Di samping cetakan itu, tersaji tujuh bola kristal dengan volume yang setara dengan bongkahan es. Masing-masing bola merepresentasikan proses pencairan selama tujuh hari, sekaligus memperlihatkan penurunan massa gletser dari hari ke hari.

Visualisasi ini mengguncang bukan lewat narasi verbal, melainkan melalui keheningan yang ditinggalkannya. Eliasson seperti mengingatkan bahwa yang hilang bukan hanya wujud es, tetapi juga ekosistem dan ingatan tentang dunia yang pernah ada.

Pemilihan material perunggu menjadi metafora yang kuat. Kurator Chabib Duta Hapsoro menafsirkan karya ini sebagai testimoni atas kerentanan alam, di mana sesuatu yang sementara justru diabadikan dengan medium yang nyaris tak lekang oleh waktu.

“Eliasson merekam bongkahan es dalam wujudnya sebelum mencair. Sangat ironis bahwa kesementaraan itu justru diabadikan dengan material perunggu,” katanya.

Perhatian pengunjung juga tersedot pada The Glacier Melt Series (1999–2019), yang terdiri atas 30 cetakan kromogenik dari dua periode waktu. Karya ini mendokumentasikan perubahan drastis gletser Islandia akibat krisis iklim selama dua dekade.

Seluruh foto diambil dari sudut, jarak, dan ketinggian yang sama. Hasilnya menunjukkan penyusutan ekstrem dalam bentuk dan volume gletser. Beberapa bahkan nyaris lenyap, hanya menyisakan kubangan danau.

Perbandingan visual ini membangun narasi yang lebih kuat daripada pernyataan ilmiah mana pun. Ketiadaan gletser tersebut menjadi bukti bahwa krisis iklim bukan imajinasi, melainkan peristiwa yang sedang berlangsung di depan mata.
 
 


Dimensi persepsi kembali dibelokkan lewat Multiverses and Futures (2017). Kaleidoskop berbentuk teropong dari baja nirkarat ini menghadirkan ruang terfragmentasi, tempat pengunjung melihat dirinya dan lingkungan dalam pantulan yang terus berubah.

Dengan bentuk segitiga, kubus, hingga segi enam, karya ini menantang gagasan tentang identitas dan masa depan. Ketika pandangan terpecah, interpretasi pun bergeser. Masa depan tidak lagi terasa linear.

Eliasson menuturkan bahwa senarai karya dalam pameran ini merekam tiga dekade perjalanan artistiknya, yang menggabungkan seni dengan riset ilmiah. Setiap karya lahir dari eksperimen dan konsekuensi gagasan yang terus berkembang.

“Karya seni ini hanya akan menjadi utuh ketika pengunjung berinteraksi dengan rasa ingin tahunya. Memelihara rasa ingin tahu berarti membuka diri pada hal tak terduga dan merangkul perubahan,” katanya.

Direktur Museum MACAN, Venus Lau, menegaskan bahwa manusia bukan entitas yang terpisah dari alam. Dia menyebut alam sebagai jaringan luas yang saling bergantung, dengan setiap elemen memiliki peran yang tak tergantikan.

“Alam bukan latar pasif yang menunggu didefinisikan. Pameran ini menegaskan ikatan kuat antara seni dan pemikiran ekologis, sekaligus mengajak kita bertanggung jawab dan mempererat hubungan dengan alam,” katanya.

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News

SEBELUMNYA

Tiket Museum Nasional Naik Mulai 2026, Ini Daftar Harga & Jam Operasional Terbaru

BERIKUTNYA

Geser Frozen 2, Zootopia 2 Jadi Film Animasi Disney Terlaris Sepanjang Masa

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga