Illustrasi pria muda yang kelelahan memegang kepalanya (sumber gambar: Freepik)

Mengapa Otak Manusia Cenderung Memikirkan Hal Negatif? Ini Cara Mengatasinya

30 December 2025   |   14:30 WIB
Image
Bianca Wanda Zakia Mahasiswa Universitas Bina Nusantara

Pernah tidak kamu merasa lebih mudah mengingat kritik atau kejadian memalukan daripada pujian yang kamu dapatkan minggu lalu? Hal ini bukan sekadar kebetulan, tetapi bagian dari cara kerja otak kita yang sering luput kita sadari dalam keseharian yang serba cepat.

Melansir dari Psychology Today, otak manusia cenderung “menyukai” pikiran negatif karena alasan yang berakar dari evolusi dan cara kita diprogram untuk bertahan hidup sejak ribuan tahun lalu. Mengetahui alasannya dapat membantu kita memahami mengapa kita sering terjebak dalam pola pikir negatif dan bagaimana mulai mengubahnya.

Salah satu alasan utama otak kita mudah tertarik pada pikiran negatif adalah karena otak berevolusi dengan prioritas keselamatan sebagai fokus utama. Jauh sebelum ada smartphone, media sosial atau target kerja, tujuan utama kehidupan manusia purba adalah bertahan hidup. Ancaman seperti suara di semak-semak atau jejak hewan buas bisa berarti perbedaan antara hidup dan mati.

Karena itu otak mempelajari untuk membaca dan mengingat hal yang berpotensi berbahaya lebih baik daripada hal yang menyenangkan, sehingga kita lebih siap menghadapi risiko. Struktur otak seperti amigdala, yang berfungsi dalam pengolahan emosi, bereaksi sangat kuat terhadap stimulus emosional, terutama yang ditafsirkan sebagai ancaman.

Alasan berikutnya berkaitan dengan fungsi praktis negatif dalam mencegah kejadian yang merugikan. Dalam psikologi dikenal istilah negativity bias, yaitu kecenderungan untuk mengingat dan memberi bobot lebih besar pada pengalaman negatif dibanding positif.

Hal ini berarti kita cenderung lebih memperhatikan detail yang berkaitan dengan kejadian buruk karena itu dianggap penting untuk diingat agar tidak terulang kembali. Misalnya kita sering lupa ucapan pujian yang kita terima namun terus mengingat satu komentar tajam yang kita terima bertahun-tahun lalu. Otak menilai kritik atau kesalahan sebagai informasi penting yang berkaitan dengan hal yang harus diwaspadai atau diperbaiki terus menerus.

Pola pikir ini juga berkaitan dengan perilaku yang dikenal sebagai avoidance atau penghindaran rasa rugi. Secara emosional, manusia cenderung memberi bobot lebih besar pada hal yang bisa hilang atau merugikan daripada hal yang bisa kita peroleh.

Inilah yang membuat kita lebih terpengaruh oleh komentar negatif, kekhawatiran finansial, atau rasa takut terhadap masa depan. Karena otak berusaha meminimalkan kerugian, pikiran kita cenderung kembali pada skenario negatif sebagai bentuk “persiapan” atau antisipasi terhadap risiko, meskipun situasi nyata mungkin tidak berbahaya. 

Selain itu, pikiran negatif yang berulang dapat menciptakan lingkaran umpan balik emosional yang memperkuat kecenderungan itu sendiri. Ketika kita terus-menerus memikirkan hal negatif, tubuh merespons dengan melepaskan hormon stres seperti kortisol yang kemudian membuat kita semakin sensitif terhadap informasi negatif berikutnya.

Lama kelamaan, pola ini akan membuat pikiran terasa seperti otomatis menuju pada hal negatif, sehingga sulit berhenti meskipun kita tahu itu tidak produktif. 


Resiliensi Mental

Meski kecenderungan ini terlihat seperti kelemahan, hal itu sebenarnya adalah bagian dari cara kerja otak yang dulunya penting bagi kelangsungan hidup manusia. Hanya saja, dalam konteks kehidupan modern yang jauh lebih aman, pola ini justru sering menimbulkan kecemasan dan stres yang tidak perlu.

Kabar baiknya adalah otak kita bersifat plastis atau bisa berubah melalui kebiasaan baru. Misalnya dengan melatih perhatian untuk memperhatikan pengalaman positif, berlatih rasa syukur setiap hari, atau mempraktikkan mindfulness untuk menangkap dan mengubah alur pikiran negatif menjadi lebih seimbang.

Langkah-langkah ini membantu membentuk jalur mental baru yang lebih sehat, sehingga lama-kelamaan respon kita terhadap situasi tidak selalu didominasi oleh pemikiran negatif. 

Memahami alasan kenapa otak kita “menyukai” hal negatif sebenarnya adalah langkah pertama untuk mengendalikan narasi mental kita sendiri, bukan membiarkan pola lama terus menguasai hidup kita.

Dengan menyadari bagaimana bias evolusi bekerja, kita bisa mulai melatih pikiran untuk melihat hal positif tanpa menafikan ancaman, menciptakan keseimbangan sehat yang membuat kita lebih bahagia dan resilien dalam menghadapi kehidupan sehari-hari.

SEBELUMNYA

Hiatus 5 Tahun, Anime Black Clover Kembali Tayang Awal 2026

BERIKUTNYA

Perjalanan Kim Do-gi di Taxi Driver 3 Hampir Selesai

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga