Romo Mudji Sutrisno (Sumber Foto: Instagram/balaibudaja)

Obituari Romo Mudji Sutrisno, Profil dan Rekam Jejaknya di Kancah Budaya

29 December 2025   |   11:30 WIB
Image
Kintan Nabila Jurnalis Hypeabis.id

Romo Mudji Sutrisno, budayawan dan rohaniawan yang dikenal aktif di dunia filsafat, seni, dan kebudayaan Indonesia, telah meninggal dunia pada Minggu (28/12/2025) malam di Jakarta. Kabar mengenai wafatnya Romo Mudji pertama kali disampaikan oleh seniman Butet Kartaredjasa melalui unggahan di akun Facebook pribadinya.

“Sumangga Gusti. Sugeng tindak Rama Mudji Sutrisno SJ,” tulis Butet.

Baca juga: Romo Mudji Wafat pada Usia 71 Tahun, Ini Jejak Karya Pentingnya

Berdasarkan informasi dari berbagai sumber, Romo Mudji mengembuskan napas terakhirnya pada pukul 20.43 WIB di RS Carolus, Jakarta. Dia meninggal dunia dalam usia 71 tahun. Jenazah disemayamkan di Kolese Kanisius, Menteng, Jakarta Pusat.

Misa Requiem dijadwalkan berlangsung pada 29 dan 30 Desember 2025 pukul 19.00 WIB di Kapel Kolese Kanisius. Sementara prosesi pemakaman akan berlangsung pada 31 Desember 2025 di Taman Maria Ratu Damai, Girisonta.
 

Profil dan Rekam Jejak Romo Mudji

Mudji Sutrisno lahir di Solo pada 12 Agustus 1954. Sepanjang hidupnya, dia dikenal sebagai sosok yang sangat dekat dengan pemikiran-pemikiran filsafat, spiritualitas, dan kepekaan sosial.

Pengaruhnya melampaui sekat-sekat disiplin, menjangkau dunia akademik, seni, hingga ruang publik. Hingga akhir hayatnya, dia tetap aktif mengajar dan berdialog dengan mahasiswa dari berbagai latar belakang keilmuan.

Romo Mudji menempuh pendidikan magister filsafat di Universitas Gregoriana, Italia dan menyandang gelar profesor. Kiprahnya sebagai akademisi tercatat di Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Driyarkara, Jakarta, tempatnya mengajar selama bertahun-tahun.

Selain itu, dia juga berbagi pengetahuan di Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta dan Universitas Indonesia (UI), memperkaya diskursus lintas bidang antara filsafat, seni, dan kemanusiaan.

Di luar dunia akademik, Romo Mudji sempat terjun langsung ke ranah publik. Dia tercatat sebagai anggota Komisi Pemilihan Umum (KPU) pada periode 2001-2003. Namun, tidak berlangsung lama. Bersama sosiolog Imam B Prasodjo, dia memilih mengundurkan diri dari KPU demi kembali menekuni dunia akademik.

Saat itu, Romo Mudji kembali fokus mengajar di STF Driyarkara, sementara Imam Prasodjo melanjutkan perannya sebagai dosen di Universitas Indonesia.

Pemikiran Romo Mudji tak hanya hidup di ruang kelas, tetapi juga mengalir lewat karya-karyanya. Dia dikenal produktif menulis buku dan artikel yang tersebar di berbagai media massa, dengan tema yang mencakup filsafat, seni, spiritualitas, kemanusiaan, hingga persoalan sosial-budaya Indonesia.

Sejumlah karyanya yang dikenal luas antara lain Ziarah Anggur, kumpulan puisi yang ditulis bersama Willy Hangguman, kemudian Tu(l)ah Kata, Sunyi yang Berbisik, serta Ranah Filsafat & Kunci Kebudayaan. Karya lainnya meliputi Esai-Esai Untuk Negeri (2015), Rekah Puisi (2019), Oase (2020), dan Sunyi Yang Berbisik (2020).

Sebagai budayawan sekaligus seniman, Romo Mudji juga mengekspresikan gagasannya melalui medium rupa. Dia dikenal sebagai pelukis yang kerap menggelar dan terlibat dalam berbagai pameran. Salah satunya adalah pameran lukisan bertajuk Dari Gereja ke Gereja yang digelar di Balai Budaya Jakarta, Menteng, pada 16-25 September 2025.

Selain itu, ia pernah menggelar pameran tunggal sketsa Ziarah Gambar di Galeri St. Mathias Rasul, Jakarta, pada Maret 2020, serta terlibat dalam sejumlah pameran bersama, termasuk pameran seni rupa InterCov-19 bertema Creative Freedom to Heal the Nation di Perpustakaan Nasional RI dan pameran Sapa Kristiani di Grha GKI, Jakarta.

Di bidang kebudayaan, peran Romo Mudji juga tercatat penting sebagai pendiri Borobudur Writers & Cultural Festival (BWCF) yang pertama kali diselenggarakan pada 2012. Sejak 2017, BWCF dikelola oleh BWCF Society dengan jajaran pendiri sekaligus Steering Committee yang terdiri atas Romo Mudji Sutrisno, Seno Joko Suyono, dan Imam Muhtarom.

BWCF hadir sebagai ruang perjumpaan bagi para penulis fiksi dan nonfiksi, pekerja kreatif, serta aktivis budaya dan keagamaan lintas iman.

Setiap tahun, festival ini mengangkat tema utama yang dirancang untuk merangsang kesadaran akan kekayaan pemikiran sastra, kesenian, dan religi Nusantara. Melalui BWCF, Romo Mudji meninggalkan jejak penting dalam upaya merawat dialog, keberagaman, dan kemanusiaan dalam kebudayaan Indonesia.

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News

SEBELUMNYA

Romo Mudji Wafat pada Usia 71 Tahun, Ini Jejak Karya Pentingnya

BERIKUTNYA

Profil Eddy Susanto, Seniman yang Membaca Timur–Barat Lewat Aksara 

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga