Yudiana Lyn, Pendiri HomLiv (tengah) bersama masyarakat Desa Wisata Krebet saat meresmikan pusat oleh-oleh Desa Wisata Krebet, Bantul (Sumber foto: HomLiv)

Kolaborasi Kreatif UMKM Dorong Ekonomi Desa Wisata

26 December 2025   |   21:23 WIB
Image
Dewi Andriani Jurnalis Hypeabis.id

Di tengah pertumbuhan ekonomi kreatif, tak sedikit pelaku usaha yang memilih menjalin kerja sama jangka panjang dengan komunitas perajin di desa-desa wisata, untuk memperkuat rantai produksi sekaligus mendorong ekonomi lokal dan menjaga keberlanjutan budaya.

Pendekatan inilah yang dijalankan oleh dua pelaku usaha kreatif yakni homLiv yang menggandeng Desa Wisata Krebet di Bantul, serta Tulola yang berkolaborasi bersama para perajin Desa Wisata Taro di Bali.

Baca juga: 7 Destinasi Desa Wisata Unik untuk Mengisi Liburan Tahun Baru

Kolaborasi antara homLiv dan Desa Wisata Krebet telah terjalin selama lima tahun terakhir. Bagi desa wisata tersebut, kemitraan dengan homLiv menjadi salah satu jalan pemulihan ekonomi pasca pandemi.

Desa Wisata Krebet dikenal sebagai sentra batik kayu, tetapi mereka sempat kehilangan aktivitas produksi dan kunjungan wisata secara drastis akibat pandemi. Melalui kolaborasi tersebut, warga desa kembali dilibatkan dalam kegiatan ekonomi melalui produksi peralatan masak berbahan kayu, seperti sutil, talenan, hingga sendok dan garpu.

Pendiri homLiv Yudiana Lyn mengatakan kolaborasi dengan Krebet dibangun dengan pendekatan jangka panjang. “Kami tidak ingin hanya datang untuk produksi. Yang terpenting adalah memastikan masyarakat desa bisa tumbuh bersama usaha kami dan merasakan manfaat ekonomi secara berkelanjutan,” ujarnya.

Model kerja sama yang diterapkan homLiv bersifat inklusif dan berbasis komunitas. Mereka melibatkan para pengrajin kayu dan juga masyarakat setempat untuk masuk ke dalam ekosistem usaha desa.

Menurut Yudiana Lyn, pengalaman mendampingi Desa Wisata Krebet sejalan dengan visi besarnya dalam mengembangkan UMKM berbasis pemberdayaan. Pendekatan ini pula yang mengantarkan homLiv meraih berbagai pengakuan, termasuk sebagai pemenang program Shopee Jagoan UMKM.

Memasuki tahun kelima kolaborasi, homLiv meresmikan pusat oleh-oleh Desa Wisata Krebet sebagai langkah memperluas dampak ekonomi. Fasilitas tersebut menjadi ruang pemasaran bersama bagi produk UMKM desa sekaligus titik temu antara wisatawan dan pelaku usaha lokal.

“Bersyukur sekali tepat di tahun kelima berdirinya homLiv, kami bisa memberikan kontribusi yang lebih besar untuk desa Krebet dengan menghadirkan pusat oleh-oleh ini. Jadi ke depan tidak hanya para pengrajin kayu, tapi juga warga sekitar bisa merasakan manfaat dari keberadaan homLiv,” tuturnya.

Ketua Pengelola Desa Wisata Krebet Agus Jati Kumara menilai kolaborasi semacam ini penting untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia di desa. Dengan dukungan UMKM yang memiliki akses pasar dan pengalaman bisnis, desa wisata dapat kembali menjadi destinasi dan pusat aktivitas ekonomi yang berkelanjutan.

“Kami berharap kerjasama ini bisa terus berkembang sehingga bisa memberikan efek berganda untuk menarik kembali wisatawan sekaligus meningkatkan kualitas sumber daya manusia di desa,” ucapnya.


Desa Wisata Taro

Berbeda dengan Krebet yang berangkat dari upaya pemulihan ekonomi, kolaborasi Desa Wisata Taro dengan Tulola tumbuh dari kekuatan warisan budaya yang telah mengakar kuat.

Desa Wisata Taro yang merupakan Desa Bakti BCA dikenal sebagai sentra perajin perak dengan tradisi ratusan tahun serta memiliki posisi strategis sebagai destinasi wisata spiritual dan budaya di Bali.

Desa Taro juga dikenal sebagai salah satu Desa Wisata Terbaik di Dunia dengan tagline “An Eco Spiritual Destination.” Desa ini menawarkan pengalaman wisata yang menggabungkan keindahan alam, kekayaan budaya, dan spiritualitas mendalam.

Dalam kolaborasi ini, Tulola melibatkan perajin perak Desa Wisata Taro, seperti I Made Suama dan Ketut Daging, sebagai bagian dari proses kreatif koleksi perhiasan.

Para perajin tidak hanya berperan sebagai produsen, tetapi juga sebagai pencipta ide dan narasi budaya yang dituangkan dalam desain perhiasan. Hasil kolaborasi perajin Desa Wisata Taro dengan Tulola berhasil memadukan kearifan lokal Bali dengan sentuhan modern.

Founder & Creative Conceptor Tulola Happy Salma mengatakan bahwa kolaborasi dengan perajin Taro merupakan upaya menjaga keberlanjutan warisan budaya. “Kami melihat para perajin sebagai pahlawan budaya. Melalui kolaborasi ini, nilai-nilai tradisi tidak hanya dipertahankan, tetapi juga diberi ruang untuk berkembang dan relevan dengan generasi masa kini,” ujarnya.

Koleksi seperti The Dancer dan Heroes of Heritage mengangkat inspirasi dari tarian, alam, serta simbol-simbol spiritual Desa Taro. Pendekatan kuratorial tersebut menghasilkan produk dengan nilai tambah tinggi, sekaligus memperluas pengakuan terhadap perajin desa dalam ekosistem industri kreatif nasional.
 

SEBELUMNYA

Tren Lari Kian Populer, Coach Hendri Pardede Bagikan Tips Aman Untuk Pemula

BERIKUTNYA

5 Destinasi Keluarga di  Perth Australia: Wisata Alam hingga Edutainment

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga