Pameran Seni Rupa Liur & Pencarian Tanpa Akhir Tan Markaban
26 December 2025 |
19:00 WIB
Lukisan itu hadir dengan warna kontras. Sapuan oranye, kuning, biru, dan hijau saling bertubrukan, membentuk ritme visual yang dinamis. Mereka bergerak liar tapi terkontrol, seolah menjadi pintu masuk menuju lanskap emosi yang terus berubah.
Terbagi dalam tiga panel, karya tersebut menghadirkan kesan fragmentasi sekaligus kesinambungan, seperti narasi yang terputus namun tetap terhubung. Garis-garis spontan dengan lapisan cat tebal memberi kesan ekspresif dari gestur sang seniman saat melukis.
Baca juga: Jalan Panjang Java Man Pulang dari Pengasingan
Sekelumit visual tersebut menjadi impresi awal ketika publik memasuki pameran bertajuk Liur di D Gallerie, Jakarta. Berlangsung hingga 27 Desember 2025, Liur merupakan pameran tunggal seniman asal Semarang, Jawa Tengah, Jeroen Tan Markaban.
Liur memajang senarai karya Pak Tan—begitu dia biasa dipanggil—dengan beragam medium. Ada karya yang menggunakan kardus bekas, sobekan majalah, hingga kertas. Ada pula yang menggunakan kanvas, seperti karya yang dideskripsikan di atas berjudul The Flow (2025).
Lukisan berdimensi 270 x 140 sentimeter yang bertengger di poros tengah galeri itu seolah ditempatkan sebagai sorotan utama. Di depannya, pada bagian lantai, juga berserakan sejumlah karya Pak Tan yang mayoritas dilukis di atas kertas.
Kendati menempuh pendidikan arsitektur, minat Pak Tan sejak lama condong pada seni lukis. Dalam senarai karyanya, masih dapat dijumpai bentuk, figur, atau objek yang relatif mudah dikenali. Namun, sebagian besar karya abstraknya justru tampil ‘berantakan’.
Misalnya, dalam lukisan bertajuk Gabby dan Clown (2024). Lewat karya ini, sang seniman menghadirkan dua karakter yang masih bisa dikenali subjek visualnya. Sebaliknya, dalam karya Underworld (2025), publik hanya disuguhi sapuan garis putih dan hitam dengan latar biru.
Ada pula karya berjudul Amuba dan Composition. Uniknya, dalam karya media campuran di atas kertas tersebut, sang seniman menghadirkan bentuk, gradasi, dan tekstur yang semrawut. Bahkan, robekan majalah bekas yang digunakan masih menyisakan teks laporan berita.
Kurator Hendro Wiyanto menyebut kecenderungan karya Tan Markaban dengan istilah ‘liralam’ dan ‘niralam’. Dalam khazanah seni rupa, pokok ini menandai lukisan yang tak lagi meniru alam untuk menghadirkan keserupaan (liralam), ataupun meniadakannya sepenuhnya (niralam).
“Pelukis membuat abstraksi dan melahirkan apa yang disebut sebagai lukisan abstrak. Lukisan-lukisan Pak Tan dapat digolongkan ke dalam jalur kecenderungan yang terakhir itu,” ujar Hendro.
Jeroen Tan Markaban lahir di Semarang, Jawa Tengah, pada 1954. Latar belakang studinya adalah arsitektur, tetapi kemudian ia lebih memilih melukis ketimbang membuat gambar-gambar bangunan, terlebih setelah berhenti dari pekerjaan formal.
Ia mulai melukis dengan gaya realis sejak 1970-an. Namun, pada satu fase, Pak Tan justru berusaha mematahkan teknik-teknik yang telah dikuasainya. Dari titik inilah ia mulai melukis dengan intuisi dan mengabaikan pakem medium, karena tertarik pada misteri yang tak pernah selesai.
Momen tersebut bermula saat ia bertemu koleganya, Joko Wahyono. Seniman jebolan Jurusan Seni Lukis STSRI “ASRI” (kini Institut Seni Indonesia/ISI) itu memperkenalkan Pak Tan pada karya-karya lukisan abstrak seniman dunia.
Pada awalnya, dia beranggapan bahwa lukisan niralam hanyalah karya yang ngawur. Namun, perjumpaan dengan lukisan abstrak justru memantik rasa penasarannya: mengapa sesuatu yang tampak ‘ngawur’ bisa disebut lukisan, bahkan dianggap modern.
Dari rasa ingin tahu itulah dia mulai mengamati dan memahami seni abstrak dengan caranya sendiri. Pak Tan perlahan menikmati lukisan abstrak, yang menurutnya menyimpan pendekatan lain, bukan semata soal teknik, melainkan juga ‘rasa’ dalam melukis.
“Setelah makin lama saya jalani, ternyata bukan persoalan itu. Tapi adalah pencarian diri kita sendiri. Jadi, dalam melukis seperti itu, dengan pijakan kebebasan, kita mencoba mencari, menanggapi diri kita sendiri itu siapa,” kata Pak Tan.
Gagrak lukisan Pak Tan seolah berupaya menemukan keindahan dalam ketidakberaturan. Konsep keindahan semacam ini, dalam estetika Jepang, dikenal sebagai wabi-sabi, sebuah cara pandang yang menghargai ketidaksempurnaan dan menyadari bahwa segala sesuatu bersifat sementara.
Dengan pendekatan tersebut, Pak Tan menolak kaidah-kaidah keindahan yang selama ini kerap dipegang pelukis untuk melahirkan sesuatu yang dianggap indah. Pencarian semacam ini pun tak pernah berujung, sebagaimana keindahan dan kejelekan yang terus bergerak tanpa batas akhir.
Dalam konteks itulah, Liur dapat dibaca sebagai metafora proses yang terus menetes, tak pernah rapi, dan kerap dianggap ngawur. Seperti liur yang keluar tanpa komando, lukisan-lukisan Tan Markaban bergerak dari dorongan intuitif: liar, berantakan, dan tak menawarkan kepastian makna.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Terbagi dalam tiga panel, karya tersebut menghadirkan kesan fragmentasi sekaligus kesinambungan, seperti narasi yang terputus namun tetap terhubung. Garis-garis spontan dengan lapisan cat tebal memberi kesan ekspresif dari gestur sang seniman saat melukis.
Baca juga: Jalan Panjang Java Man Pulang dari Pengasingan
Sekelumit visual tersebut menjadi impresi awal ketika publik memasuki pameran bertajuk Liur di D Gallerie, Jakarta. Berlangsung hingga 27 Desember 2025, Liur merupakan pameran tunggal seniman asal Semarang, Jawa Tengah, Jeroen Tan Markaban.
Liur memajang senarai karya Pak Tan—begitu dia biasa dipanggil—dengan beragam medium. Ada karya yang menggunakan kardus bekas, sobekan majalah, hingga kertas. Ada pula yang menggunakan kanvas, seperti karya yang dideskripsikan di atas berjudul The Flow (2025).
Lukisan berdimensi 270 x 140 sentimeter yang bertengger di poros tengah galeri itu seolah ditempatkan sebagai sorotan utama. Di depannya, pada bagian lantai, juga berserakan sejumlah karya Pak Tan yang mayoritas dilukis di atas kertas.

karya Tan Markaban berjudul Liur, dalam pameran seni rupa Liur, di D Gallerie. (sumber gambar: Hypeabis.id/Prasetyo Agung Ginanjar)
Misalnya, dalam lukisan bertajuk Gabby dan Clown (2024). Lewat karya ini, sang seniman menghadirkan dua karakter yang masih bisa dikenali subjek visualnya. Sebaliknya, dalam karya Underworld (2025), publik hanya disuguhi sapuan garis putih dan hitam dengan latar biru.
Ada pula karya berjudul Amuba dan Composition. Uniknya, dalam karya media campuran di atas kertas tersebut, sang seniman menghadirkan bentuk, gradasi, dan tekstur yang semrawut. Bahkan, robekan majalah bekas yang digunakan masih menyisakan teks laporan berita.
Kurator Hendro Wiyanto menyebut kecenderungan karya Tan Markaban dengan istilah ‘liralam’ dan ‘niralam’. Dalam khazanah seni rupa, pokok ini menandai lukisan yang tak lagi meniru alam untuk menghadirkan keserupaan (liralam), ataupun meniadakannya sepenuhnya (niralam).
“Pelukis membuat abstraksi dan melahirkan apa yang disebut sebagai lukisan abstrak. Lukisan-lukisan Pak Tan dapat digolongkan ke dalam jalur kecenderungan yang terakhir itu,” ujar Hendro.
Dari Teknik ke Intuisi
Jeroen Tan Markaban lahir di Semarang, Jawa Tengah, pada 1954. Latar belakang studinya adalah arsitektur, tetapi kemudian ia lebih memilih melukis ketimbang membuat gambar-gambar bangunan, terlebih setelah berhenti dari pekerjaan formal.Ia mulai melukis dengan gaya realis sejak 1970-an. Namun, pada satu fase, Pak Tan justru berusaha mematahkan teknik-teknik yang telah dikuasainya. Dari titik inilah ia mulai melukis dengan intuisi dan mengabaikan pakem medium, karena tertarik pada misteri yang tak pernah selesai.
Momen tersebut bermula saat ia bertemu koleganya, Joko Wahyono. Seniman jebolan Jurusan Seni Lukis STSRI “ASRI” (kini Institut Seni Indonesia/ISI) itu memperkenalkan Pak Tan pada karya-karya lukisan abstrak seniman dunia.
Pada awalnya, dia beranggapan bahwa lukisan niralam hanyalah karya yang ngawur. Namun, perjumpaan dengan lukisan abstrak justru memantik rasa penasarannya: mengapa sesuatu yang tampak ‘ngawur’ bisa disebut lukisan, bahkan dianggap modern.

Senarai karya Tan Markaban dalam pameran seni rupa Liur, di D Gallerie. (sumber gambar: Hypeabis.id/Prasetyo Agung Ginanjar)
“Setelah makin lama saya jalani, ternyata bukan persoalan itu. Tapi adalah pencarian diri kita sendiri. Jadi, dalam melukis seperti itu, dengan pijakan kebebasan, kita mencoba mencari, menanggapi diri kita sendiri itu siapa,” kata Pak Tan.
Gagrak lukisan Pak Tan seolah berupaya menemukan keindahan dalam ketidakberaturan. Konsep keindahan semacam ini, dalam estetika Jepang, dikenal sebagai wabi-sabi, sebuah cara pandang yang menghargai ketidaksempurnaan dan menyadari bahwa segala sesuatu bersifat sementara.
Dengan pendekatan tersebut, Pak Tan menolak kaidah-kaidah keindahan yang selama ini kerap dipegang pelukis untuk melahirkan sesuatu yang dianggap indah. Pencarian semacam ini pun tak pernah berujung, sebagaimana keindahan dan kejelekan yang terus bergerak tanpa batas akhir.
Dalam konteks itulah, Liur dapat dibaca sebagai metafora proses yang terus menetes, tak pernah rapi, dan kerap dianggap ngawur. Seperti liur yang keluar tanpa komando, lukisan-lukisan Tan Markaban bergerak dari dorongan intuitif: liar, berantakan, dan tak menawarkan kepastian makna.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.